Группа Всемирного банка · Working Paper

Indonesia economic quarterly : current challenges, future potential : Perkembangan triwulanan perekonomian Indonesia : tantangan saat ini, peluang masa depan

Индонезия Всемирный банк
Открыть оригинал документа

Полный текст размещён на сайте публикующей организации. lawenc.com индексирует метаданные и ведёт на официальный источник.

Полный текст

63143 PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Tantangan saat ini, peluang masa depan Juni 2011 PERKEMBANGAN TRIWULANAN PEREKONOMIAN INDONESIA Tantangan saat ini, peluang masa depan Juni 2011 Kata Pengantar Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia menyajikan perkembangan utama ekonomi Indonesia dalam tiga bulan terakhir. Laporan ini menempatkan perkembangan dalam konteks jangka panjang dan global, serta menilai terhadap prospek ekonomi dan kesejahteraan sosial Indonesia. Laporan ini ditujukan untuk khalayak termasuk pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, pelaku pasar keuangan, serta komunitas analis dan professional yang terlibat dalam ekonomi Indonesia. Laporan Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia ini disusun dan dihimpun oleh tim analisa makroekonomi kantor perwakilan Bank Dunia di Jakarta dan dipandu oleh Shubham Chaudhuri (Lead Economist) dan Enrique Blanco Armas (Senior Economist): Magda Adriani (harga komoditas), Andrew Blackman (sektor eksternal, ASEAN dan tren PMA-Penanaman Modal Asing), Andrew Carter (penerimaan pemerintah), Andrew Ceber (rekening nasional dan risiko), Fitria Fitrani (tren PMA), Faya Hayati (harga), Ahya Ihsan (belanja fiskal dan tantangan infrastruktur), Kiyoshi Taniguchi (lingkungan internasional) dan Ashley Taylor. Tambahan kontribusi diterima dari Henry Sandee dan Natalia Cubillos Salcedo (Master Plan dan konektivitas) dan Neni Lestari dan Djauhauri Sitorus (perbankan). Arsianti dan Ashley Taylor berbagi tugas penyuntingan dan produksi. Jason Allford, Enrique Blanco Armas, Soekarno Wirokartono, Sjamsu Rahardja, Della Y.A.Temenggung, Stephen L. Magiera menyumbangkan komentar mendetil dan input. Farhana Asnap, Indra Irnawan, Jerry Kurniawan, Marcellinus Winata, Nugroho dan Randy Salim mengatur distribusi dan Titi Ananto, Sylvia Njotomihardjo dan Nina Herawati memberi bantuan administrasi. Dokumen ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Nicolas Novianto dan diedit oleh Magda Adriani, Fitria Fitrani, Ahya Ihsan, Wahyoe Soedarmono, dan Arsianti. Untuk mendapatkan lebih banyak analisa Bank Dunia atas ekonomi Indonesia: Untuk informasi mengenai the World Bank serta kegiatannya di Indonesia, silakan berkunjung ke website ini www.worldbank.org/id Untuk mendapatkan publikasi terkait melalui e-mail, silakan menghubungi madriani@worldbank.org. Untuk pertanyaan dan saran berkaitan dengan publikasi ini, silakan menghubungi ataylor2@worldbank.org. Daftar isi Kata Pengantar iii   Ringkasan Eksekutif: Tantangan saat ini, peluang masa depan viii   A .   PERKEMBANGAN EKONOMI DAN FISKAL 1  1.  Beberapa Sumber ketidakpastian dalam perekonomian global 1  2.  Sementara pertumbuhan relatif terbatas pada triwulan 1 tahun 2011, outlook jangka pendek masih tetap kokoh 2  3.  Aliran masuk portofolio dan PMA tetap kuat sementara surplus perdagangan menyempit 5  4.  Inflasi headline telah turun tetapi risiko inflasi tetap ada 6  5.  Peningkatan harga bahan pangan sebelumnya tampaknya akan mempengaruhi pengukuran kemiskinan di bulan Maret 2011 9  6.  Aliran masuk modal portofolio telah kembali dengan deras tetapi mulai melemah belakangan ini 10  7.  Meningkatnya belanja subsidi bahan bakar dan tantangan pencairan anggaran 13  8.  Ketidakpastian membayangi outlook 17  B.   PERKEMBANGAN TERBARU PEREKONOMIAN INDONESIA 21   1.  ASEAN 2011: Kepemimpinan Indonesia 21  a.  Indonesia dan ASEAN ................................................................................................................... 21  b.  ASEAN dan integrasi ekonomi wilayah Asia Timur .................................................................... 21  c.  Peningkatan Ekonomi ASEAN ...................................................................................................... 22  d.  Prioritas Indonesia bagi ASEAN .................................................................................................. 23  2.  Kebangkitan penanaman modal asing (PMA) di Indonesia? 25  a.  Pola PMA ke Indonesia telah mengalami perubahan pada tahun-tahun terakhir .................... 25  b.  Walaupun nilai aliran masuk meningkat, jumlah PMA relatif terhadap PDB masih tetap lemah .............................................................................................................................................. 28  c.  Outlook yang positif untuk PMA ke Indonesia… ........................................................................ 29  d.  …yang sebetulnya dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dengan peningkatan iklim investasi, infrastruktur dan keterampilan.................................................................................... 30  C.   INDONESIA 2014 KE DEPAN: SEBUAH PANDANGAN SELEKTIF 32  1.  Menangani tantangan infrastruktur Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan 32  2.  Konektivitas dan Masterplan tahun 2011-2025 36  a.  Menggabungkan pendekatan sektoral dan regional terhadap pembangunan ......................... 36  b.  Meningkatkan konektivitas Indonesia ......................................................................................... 38  c.  Penerapan Masterplan .................................................................................................................. 42  d.  Menuju ke depan ........................................................................................................................... 42  LAMPIRAN: GAMBARAN EKONOMI INDONESIA 44   DAFTAR GRAFIK Gambar 1: Perhatian pasar yangmeningkat pada peringkat resiko utang di Yunani ..................... 1  Gambar 2: Harga rata-rata Minyak mentah Indonesia tahun 2011 sampai sekarang mencapai lebih dari asumsi anggaran ........................................................................................... 1  Gambar 3: Pertumbuhan triwulan melambat di triwulan 1/2011, turun dari nilai tertingginya pada triwulan 4/2010,… ........................................................................................................... 3  Gambar 4: …terutama dengan melemahnya belanja pemerintah dan ekspor bersih ..................... 3  Gambar 5: Aliran masuk modal mendominasi catatan keseluruhan aliran masuk neraca pembayaran…................................................................................................................. 5  Gambar 6: Inflasi headline dan keranjang kemiskinan telah turun bersama-sama dengan inflasi harga bahan pangan tetapi inflasi inti mulai meningkat ............................................. 6  Gambar 7: Pengaruh harga energi dan bahan pangan domestik ke inflasi inti di Indonesia cukup tinggi................................................................................................................................ 6  Gambar 8: Peningkatan harga pada akhir tahun 2010 turun lebih lembat di kulakan dibanding g puncak-puncak harga yang lalu .................................................................................... 7  Gambar 9: Harga kulakan) beras tetap tinggi dalam nilai nominal dan riil ...................................... 7  Gambar 10: Penyerapan pekerja terus menerus meningkat ............................................................. 9  Gambar 11: Meski sempat pulih dari penurunan pada awal tahun, harga saham Indonesia kembali menurun pada beberapa minggu terakhir ................................................... 10  Gambar 12: Aliran dana masuk pulih dengan kuat selama bulan April tetapi kemudian melemah di bulan Mei................................................................................................................... 10  Gambar 13: Pengumpulan cadangan devisa diikuti peningkatan kepemilikan asing atas aset Indonesia....................................................................................................................... 12  Gambar 14: Pertumbuhan hutang riil terus meningkat sementara bunga pinjaman riil naik tipis dengan jatuhnya inflasi................................................................................................ 12  Gambar 15: Tren turun lifting minyak Indonesia dan tren asumsi anggaran awal yang terlalu besar .............................................................................................................................. 14  Gambar 16: Belanja subsidi menguat, tetapi realisasi belanja modal tetap lemah … .................. 14  Gambar 17: Indonesia dapat menjadi pendorong pertumbuhan global pada tahun 2025… ........ 20  Gambar 18: …dan berpotensi menjadi salah satu negara berkembang terbesar ......................... 20  Gambar 19: Tren meningkatnya aliran PMA ke Indonesia ............................................................... 26  Gambar 20: Rangkaian data BKPM dan Neraca Pembayaran mengikuti tren yang sama tetapi dengan perbedaan yang signifikan............................................................................. 27  Gambar 21: Aliran PMA Indonesia terhadap PDB tetap relatif rendah dibanding negara pembanding di wilayah yang sama............................................................................. 29  Gambar 22: …dan dibandingkan dengan aliran ke ekonomi kaya sumberdaya berpenghasilan menengah dan tinggi ................................................................................................... 29  Gambar 23: Investasi infrastruktur Indonesia turun tajam pasca krisis Asia ................................ 33  Gambar 24: Peringkat Indonesia termasuk yang terendah dalam indeks kualitas infrastruktur . 33  Gambar 25: …dengan kinerja yang rendah untuk berbagai jenis infrastruktur ............................ 33  Gambar 26: Kualitas jalan daerah di Indonesia telah menurun secara bertahap .......................... 34  Gambar 27: Masalah infrastruktur semakin menjadi penghalang utama bagi kegiatan perusahaan di Indonesia ............................................................................................. 34  Gambar 28: Mencapai transformasi ekonomi melalui strategi Masterplan .................................... 36  Gambar 29: Masing-masing dari enam koridor ekonomi memiliki penekanan pembangunan yang berbeda ................................................................................................................ 37  Gambar 30: Penerapan pendekatan tulang ikan dan titik tinta kepada konektivitas dalam pulau39  Gambar 31: Variasi biaya transportasi – menjauhkan kota-kota dan membawanya lebih dekat . 41  DAFTAR GRAFIK LAMPIRAN Gambar Lampiran 1: Pertumbuhan PDB ........................................................................................... 44  Gambar Lampiran 2: Kontribusi terhadap PDB (pengeluaran) ....................................................... 44  Gambar Lampiran 3: Kontribusi terhadap PDB (sektor) .................................................................. 44  Gambar Lampiran 4: Penjualan sepeda motor dan kerndaraan bermotor ..................................... 44  Gambar Lampiran 5: Indikator konsumen ........................................................................................ 44  Gambar Lampiran 6: Indikator kegiatan industri .............................................................................. 44  Gambar Lampiran 7: Aliran perdagangan riil ................................................................................... 45  Gambar Lampiran 8: Balance of Payments ...................................................................................... 45  Gambar Lampiran 9: Neraca perdagangan ....................................................................................... 45  Gambar Lampiran 10: Cadangan internasional dan dana capital asing......................................... 45  Gambar Lampiran 11: Term of trade dan implicit ekspor dan impor berdasarkan chained Fisher- Price indices .................................................................................................. 45  Gambar Lampiran 12: Inflasi dan kebijakan moneter ...................................................................... 45  Gambar Lampiran 13: Rincian tingkat harga konsumen ................................................................. 46  Gambar Lampiran 14: Tingkat inflasi negara tetangga .................................................................... 46  Gambar Lampiran 15: Harga beras domestic dan internasional..................................................... 46  Gambar Lampiran 16: Tingkat kemiskinan, bekerja, dan tidak bekerja.......................................... 46  Gambar Lampiran 17: Indeks saham regional .................................................................................. 46  Gambar Lampiran 18: Indeks spot dollar dan rupiah....................................................................... 46  Gambar Lampiran 19: Yield obligasi 5 tahunan mata uang lokal.................................................... 47  Gambar Lampiran 20: Spread EMBI obligasi pemerintah dengan obligasi dollar amerika .......... 47  Gambar Lampiran 21: Perbandingan tingkat kredit bank umum .................................................... 47  Gambar Lampiran 22: Indikator keuangan sektor perbankan ......................................................... 47  DAFTAR TABEL Tabel 1: Pertumbuhan diproyeksikan akan meningkat secara bertahap pada tahun 2011 dan 2012 ...................................................................................................................................... viii  Tabel 2: Proyeksi PDB agregat untuk tahun 2010 dan 2011 tetap tidak berubah ............................ 4  Tabel 3: …dan diproyeksikan untuk tetap kuat hingga tahun 2011 dan 2012 ................................. 5  Tabel 4:Sensitivitas penerimaan terhadap volume lifting minyak .................................................. 14  Tabel 5: Peningkatan subsidi bahan bakar telah mendorong revisi naik proyeksi defisit anggaran Bank Dunia tahun 2011 ....................................................................................... 17  Tabel 6: Dampak skenario harga eceran beras pada inflasi pada triwulan 4/2011 ........................ 18  Tabel 7: Aliran PMA regional menjadi makin penting ...................................................................... 26  Tabel 8: Manufaktur tetap menjadi bagian terbesar dari aliran masuk PMA ke Indonesia ........... 27  Tabel 9: Aliran masuk PMA masih terpusat di pulau Jawa, terutama di ibukota........................... 28  DAFTAR TABEL LAMPIRAN Tabel Lampiran 1: Realisasi dan estimasi anggaran belanja pemerintah ...................................... 48  Tabel Lampiran 2: Neraca pembayaran............................................................................................. 48  DAFTAR KOTAK Kotak 1: Perkembangan harga terakhir di Indonesia ......................................................................... 7  Kotak 2: Potensi Indonesia dalam perkembangan dunia yang multi-poros .................................. 20  Kotak 3: Sumber-sumber data yang berbeda mengenai aliran masuk PMA ke Indonesia ........... 27  Kotak 4: Outlook yang optimistik, tetapi tantangan tetap ada: pandangan perusahaan afiliasi Jepang di Indonesia ............................................................................................................. 31  Kotak 5: Pembahasan tentang infrastruktur dan pertumbuhan – suatu ulasan singkat .............. 35  Kotak 6: Jarak geografis vs jarak ekonomis di Indonesia ............................................................... 41  SINGKATAN DAN AKRONIM ADB : Asian Development Bank LDR : Loand to Deposite Ratio APBN : Anggaran Perencanaan Belanja Negara CMI : Chiang Mai Initiative : ASEAN Plan of Action on Energy APEAC MDG : Millenium Development Goal Cooperation : Master plan Percepatan dan Perluasan ASEAN : Association of South Easth Asian Nation MP3EI Pembangunan Ekonomi Indonesia BI : Bank Indonesia NPL : Non Performing Loan BKPM : Badan Koordinasi Penanaman Modal NTT : Nusa Tenggara Timur Bulog : Badan Umum Logistik OPEC : Organization Petroleum Exporting Countries BUMN : Badan Usaha Milik Negara PDB : Pendapatan Domestik Bruto : Capital Availability Ratio/Rasio Kecukupan CAR PLN : Perusahaan Listrik Nasional Modal CMI : Chiang Mai Initiative PMA : Penanaman Modal Asing : Crude Palm Oil (Minyak Kelapa Sawit CPO PPP : Peraturan Pemerintah Pusat mentah) DPR : Dewan Perwakilan Rakyat RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah EAS : East Asia Summit RTRWN : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional EMBIG : Emerging Market Bond Index Global SBI : Sertifikat Bank Indonesia EU : European Uni SPN : Surat Perbendaharaan Negara : Free Trade Agreement/Perjanjian FTA SISLOGNAS : Sistem Logistik Nasional Perdagangan bebas IHK : Indeks Harga Konsumen SISTRANAS : Sistem Transportasi Nasional IMF : International Monetary and Finance SUN : Surat Utang Negara JETRO :Japanese External Trade Organization TKI : Teknologi Komunikasi dan Informasi K/L : Kementerian dan Lembaga UU : Undang-Undang KSEI : Kustodion Sentral Efek Indonesia Ringkasan Eksekutif: Tantangan saat ini, peluang masa depan Kinerja ekonomi Kinerja ekonomi Indonesia hingga pertengahan tahun 2011 adalah positif. Pertumbuhan Indonesia tetap positif yang kuat diikuti dengan aliran masuk investasi PMA dan portofolio modal. Neraca sektor tetapi perkembangan publik dan keuangan tetap kuat. Akan tetapi perkembangan pada triwulan terakhir telah terakhir menunjukan mengingatkan akan sejumlah tantangan atas kebijakan yang berlaku di Indonesia. Pada tantangan-tantangan terhadap kebijakan yang waktu yang bersamaan, peluncuran Master Plan pemerintah tahun 2011-2025 berfokus berlaku dan risiko yang pada investasi dan reformasi kebijakan yang dapat membantu Indonesia meraih peluang berkaitan dengan pertumbuhan di masa depan perkembangan tersebut Triwulanan edisi bulan Maret 2011 menyebutkan bahwa peningkatan harga komoditas bahan pangan dalam dan luar negeri membawa kembali ke pengalaman tahun 2008. Peningkatan pengeluaran subsidi bahan bakar pada tahun sejak awal tahun 2011 sampai saat ini makin memperjelas persamaan ini, dengan penekanan ulang terhadap risiko fiskal, opportunity cost dan distorsi ekonomi. Laju pencairan belanja pemerintah yang lemah pada program-program inti menggambarkan tantangan-tantangan untuk meningkatkan layanan publik dan infrastruktur. Selain itu, walaupun belakangan ini terjadi penurunan dalam harga beras, rumah tangga miskin masih tetap lemah terhadap goncangan produksi dalam negeri berikutnya. Akhirnya, walaupun terdapat kaitan langsung yang terbatas antara Indonesia dan zona Euro, peningkatan penghindaran risiko internasional yang berasal dari krisis hutang Yunani, dengan potensi implikasi pasar dari suatu default (kegagalan pembayaran), jika terjadi, merupakan peringatan akan potensi goncangan dari luar negeri yang dapat memicu aliran balik modal jangka pendek dari Indonesia. Pertumbuhan sedikit Tiga bulan terakhir pencapaian perkembangan makroekonomi yang kuat. Pertumbuhan menurun pada dibanding PDB pada triwulan pertama tahun 2011 sejalan dengan perkiraan pada 6,5 persen tahun- triwulan pertama tahun ke-tahun, turun dari pertumbuhan yang biasanya kuat di tingkat 6.9 persen yang tercatat 2011 tetapi masih kuat pada triwulan terakhir tahun 2010. Pertumbuhan konsumsi investasi dan swasta juga pada 6,5 persen tahun-ke- tahun mempertahankan prestasinya. Sebaliknya, ekspor bersih dan belanja pemerintah menghambat pertumbuhan triwulanan. Mencerminkan kecondongan pencairan belanja menjelang akhir tahun, kinerja konsumsi pemerintah adalah termasuk yang paling rendah yang pernah tercatat. Sektor jasa seperti perdagangan besar dan eceran, transportasi dan komunikasi dan keuangan, terus menjadi pendorong utama pertumbuhan, yang mencerminkan kekuatan permintaan domestik. Pertumbuhan pertanian melemah bersama-sama dengan pertambangan dan konstruksi. Outlook dasar Proyeksi headline PDB untuk tahun 2011 dan 2012 tidak berubah dari Triwulanan edisi pertumbuhan ekonomi bulan Maret 2011 pada masing-masing sebesar 6,4 persen dan 6,7 persen. Sebagian Indonesia tidak berubah besar pendorong utama pertumbuhan domestik tidak berubah meskipun terdapat walaupun terdapat peningkatan ketidakpastian seperti telah disinggung di atas. Sebagai contoh, meskipun ketidakpastian di ekonomi global pemulihan AS berjalan lemah dan adanya dampak dari bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang, dinamika pokok pertumbuhan global tetap relatif kuat, dengan sedikit revisi turun untuk proyeksi pertumbuhan para mitra dagang utama Indonesia. Tentu saja, terdapat risiko penurunan dari outlook ini ke sektor riil jika terjadi penurunan sektor keuangan yang besar yang disebabkan oleh pemotongan hutang pada zona Euro. Tabel 1: Pertumbuhan diproyeksikan akan meningkat secara bertahap pada tahun 2011 dan 2012 2009 2010 2011 2012 Produk Domestik Bruto (persen perubahan tahunan) 4,6 6,1 6,4 6,7 Indeks harga konsumen* (persen perubahan tahunan) 2,6 6,3 5,7 5,9 Saldo anggaran** (persen PDB) -1,6 -0,6 -1,8 n,a, Pertumbuhan mitra dagang utama (persen perubahan tahunan) -1,0 6,6 4,3 4,7 Catatan: * Triwulan 4 pada laju inflasi Triwulan 4. ** Angka tahun 2011 adalah Anggaran yang disetujui Sumber: Kementerian Keuangan, BPS via CEIC, Consensus Forecasts Inc., dan Bank Dunia Tingginya harga minyak Meskipun terjadi koreksi turun pada bulan Mei, harga minyak masih tetap tinggi. Harga membebani fiskal dari rata-rata minyak mentah Indonesia adalah 113 dolar Amerika per barel selama lima bulan subsidi energi pertama 2011, dibandingkan dengan asumsi APBN sebesar 80 dolar Amerika per barel. Pada lima bulan pertama tahun 2011, belanja subsidi energi telah meningkat, yang merupakan seperempat dari total belanja pemerintah pusat, tidak termasuk transfer,. Pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai pilihan reformasi subsidi tetapi sifat dan waktu pelaksanaan kebijakan baru masih belum jelas. Sementara sisi lain dari tingginya harga minyak adalah peningkatan penerimaan, peningkatan itu telah sebagian diimbangi dengan penurunan produksi minyak, sehingga dampak keseluruhan dari tingginya harga minyak adalah peningkatan defisit. Meskipun dengan lemahnya pencairan belanja program inti, termasuk belanja modal dan sosial, proyeksi defisit anggaran Bank Dunia 2011 untuk defisit anggaran tahun 2011 telah direvisi naik menjadi 1,2 persen GDP (dari 0,9 persen pada Triwulanan edisi bulan Maret dan dari perkiraan APBN pada 1,8 persen). Inflasi headline telah Inflasi headline telah berangsur turun dari 7 persen di bulan Januari 2011 menjadi sedikit turun tetapi masih di bawah 6 persen di bulan Mei 2011. Seperti pada waktu peningkatannya pada semester terdapat sejumlah risiko kedua tahun 2010, penurunan ini disebabkan oleh penurunan harga bahan pangan, di sekitar outlook… terutama harga beras dan cabai. Akan tetapi inflasi inti berangsur naik dan walaupun perkiraan inflasi investor asing telah mengalami penurunan, perkiraan harga domestik mulai bergerak naik. Dengan tingkat inflation di kisaran target Bank Indonesia, BI Rate dibiarkan tidak berubah sejak bulan Februari. Melihat ke depan, tanpa perubahan kebijakan, misalnya kebijakan subsidi energi, inflasi headline IHK diproyeksikan akan mencapai 5,7 pada triwulan terakhir tahun 2011 dan sedikit meningkat hingga 2012. Inflasi keranjang kemiskinan (poverty basket) diproyeksikan untuk turun menjadi 5,8 persen pada triwulan akhir tahun 2011. Akan tetapi masih terdapat banyak risiko, terutama yang berhubungan dengan harga beras dan energi. …sementara peningkatan Walaupun telah terjadi beberapa penurunan dari harga beras yang meningkat pada harga beras yang lalu semester kedua tahun 2010, peningkatan yang lalu tersebut tampaknya akan cenderung t akan menghalangi kemajuan pengentasan kemiskinan. Di sisi lain terdapat dampak positif dari menghalangi dampak kuatnya pertumbuhan dan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Penciptaan pekerjaan positif dari peningkatan pertumbuhan dan berkualitas tetap menjadi masalah, terutama bagi kaum muda Indonesia, yang penciptaan lapangan membutuhkan upaya-upaya, seperti peningkatan pendidikan dan pelatihan dan kerja untuk pengentasan mendorong penyesuaian antara pekerja dan kesempatan kerja. kemiskinan Aliran masuk modal ke Aliran sejumlah besar dana yang masuk di tahun 2010, masih berlanjut pada triwulan Indonesia tetap kuat … pertama tahun 2011. Aliran portofolio pulih dari aliran keluar pada bulan Januari, walaupun kemudian melemah di bulan Mei, sementara aliran masuk PMA mencatat tren naik. Pengelolaan dampak aliran masuk ini tetap menjadi tantangan kebijakan. Bank Indonesia terus memperkenankan apresiasi terkendali, sesuai dengan pergerakan valuta regional, dan menerapkan tambahan kebijakan makro-prudential, seperti perpanjangan holding period bagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Cadangan devisa telah meningkat, juga diikuti oleh ekposur terhadap potensi aliran keluar modal asing. Indonesia telah menunjukkan peningkatan daya tahan terhadap gejolak pasar keuangan internasional pada beberapa tahun terakhir, tetapi keputusan apapun atas krisis hutang Yunani dapat secara signifikan meningkatkan penghindaran risiko oleh investor internasional, yang akan menguji daya tahan peningkatan tersebut. …pergerakan naik PMA Walaupun sumbangan sumbangan PMA terhadap PDB masih rendah dibandingkan memiliki potensi untuk dengan masa sebelum krisis keuangan tahun 1997/1998 dan dibandingkan dengan memberikan serangkaian negara pembanding di wilayah yang sama, aliran masuk PMA menjadi semakin gencar manfaat bagi ekonomi karena daya tarik sumberdaya alam Indonesia, besarnya pasar domestik dan relatif rendahnya biaya buruh. Peningkatan PMA yang lebih besar dapat membantu mengimbangi risiko-risiko yang berhubungan dengan aliran masuk portofolio dan juga memiliki potensi, bila bersama dengan kebijakan pendukung dalam bidang-bidang seperti pendidikan, keterampilan dan infrastruktur, untuk meningkatkan pertumbuhan Indonesia melalui investasi keuangan dan melalui saluran-saluran lain seperti transfer teknologi dan keterkaitan dengan jaringan pasokan dunia. ix Peningkatan konektivitas Meningkatkan konektivitas Indonesia tidak hanya akan meningkatkan pertumbuhan dan reformasi kebijakan domestik tetapi juga menarik lebih banyak PMA. Tantangan inilah yang menjadi persoalan dapat meningkatkan inti dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia untuk outlook pertumbuhan tahun 2011-2025 yang bertujuan untuk menempatkan Indonesia sebagai salah satu jangka menengah dan merupakan bagian ekonomi dunia terbesar pada tahun 2025. Pilar pertama dari rencana itu adalah penting dari Masterplan pengembangan enam koridor ekonomi regional, melalui investasi di sektor-sektor yang Pemerintah tahun 2011- memiliki prospek pertumbuhan yang tinggi dan yang memiliki keunggulan komparatif 2025… daerah. Dibutuhkan dukungan dari pilar kedua dan ketiga, yaitu meningkatkan konektivitas dan memperkuat sumberdaya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rencana itu memiliki potensi untuk menjadi alat transformasi tetapi keberhasilan penerapan akan membutuhkan identifikasi kebijakan dan prioritas investasi bersama- sama dengan komitmen politik dan koordinasi untuk menanganinya. Masterplan itu menargetkan investasi sebesar 468 miliar dolar Amerika untuk periode tahun 2011-2025 dengan 45 persen adalah infrastruktur. Pengalaman menunjukkan bahwa dibutuhkan peningkatan proses pengadaan dan anggaran serta kapasitas penyerapan untuk mengefektifkan alokasi fiskal yang lebih besar terhadap belanja modal. Target investasi sektor swasta yang ambisius juga akan memerlukan kebijakan pendukung, seperti kemitraan pemerintah-swasta dan pendalaman pasar keuangan domestik. …tetapi masih terdapat Indonesia merupakan ekonomi berkembang yang dinamis, memainkan peran yang makin banyak tantangan bila berkembang di panggung internasional melalui, misalnya, keanggotaannya di dalam G20 Indonesia hendak dan posisinya sebagai ketua ASEAN sekarang. Akan tetapi, kejadian-kejadian pada mencapai potensinya triwulan terakhir merupakan peringatan mengenai tantangan yang harus dihadapi untuk sebagai pendorong utama pertumbuhan menempatkan dan melaksanakan kebijakan dan investasi yang dibutuhkan bagi dunia pada beberapa Indonesia untuk mencapai potensinya sebagai pendorong utama pertumbuhan dunia dekade yang akan datang pada beberapa dekade berikutnya. x A. PERKEMBANGAN EKONOMI DAN FISKAL 1. Beberapa Sumber ketidakpastian dalam perekonomian global Pembangunan selama Perekonomian global selama tiga bulan terakhir telah ditandai oleh ketidakpastian yang kuartal terakhir sedang berlangsung. Selain volatilitas harga energi internasional dan harga komoditas menunjukkan yang lebih luas, pasar keuangan telah menjadi perhatian utama baru-baru ini seiring krisis ketidakpastian yang utang publik di Yunani yang semakin intensif (Gambar 1), dengan potensi penjalaran masih berlangsung dalam lingkungan ekonomi semakin lebih besar berpengaruh ke anggota-anggota zona Eropa lain, dan juga ke internasional, walaupun sektor perbankan. Akibatnya muncul keengganan untuk mengambil risiko yang bisa dinamika pertumbuhan menurunkan ketertarikan investor terhadap aset negara berkembang. Meskipun demikian, global yang mendasari hingga saat ini, telah terdapat sedikit peningkatan selisih imbal hasil terhadap obligasi nampak cukup kuat. pemerintah (sovereign spreads) dikarenakan investor terus mencari imbal hasil di dalam lingkungan dengan tingkat suku bunga rendah di negara berpenghasilan tinggi. Dalam hal prospek pertumbuhan global, pemulihan AS menunjukkan beberapa kelemahan, misalnya, di dalam pasar tenaga kerja dan data harga properti, sehingga menurunkan proyeksi pertumbuhan untuk 2011. Selain itu, bencana gempa bumi dan tsunami telah menimpa kegiatan perekonomian jangka pendek di Jepang. Sementara ketidakpastian di tingkat global mungkin telah meningkat, pertumbuhan riil global, didorong oleh kinerja yang kuat dari negara-negara ekonomi berkembang, diproyeksikan relatif stabil pada 3,2 persen pada 2011, dan naik menjadi 3,6 persen pada 2012 (Bank Dunia, Prospek Ekonomi Global, Juni 2011). Tentu saja, terdapat risiko penurunan prospek global tersebut, saat sektor riil terkena dampak langsung jika kerugian besar di sektor keuangan yang tidak dapat dibendung akibat kegagalan surat utang di zona Eropa. Gambar 1: Perhatian pasar yangmeningkat pada peringkat Gambar 2: Harga rata-rata Minyak mentah Indonesia tahun resiko utang di Yunani 2011 sampai sekarang mencapai lebih dari asumsi (perbedaan suku bunga saham eksternal, poin dasar; indeks anggaran VIX) (USD per barel) Basis points VIX index USD per barel USD per barel 2500 100 160 160 Greece sovereign CDS Rata-rata IHK untuk spread (LHS) 2011 sampai 2000 80 sekarang VIX US equity 120 120 volatility index (RHS) Asumsi 1500 60 anggaran 2011 80 80 1000 40 40 40 500 20 Harga minyak mentah Indonesia EMBIG spread (LHS) 0 0 0 0 Jun-08 Jun-09 Jun-10 Jun-11 Jun-05 Jun-07 Jun-09 Jun-11 Catatan: VIX measures 30-day implied volatility of the S&P Sumber: DepKeu, US Energy Information 500, CDS is credit default swap, Agency and World Bank EMBIG is JP Morgan Emerging Market Bond Index Sumber: Thomson Financial Datastream Harga komoditas global Dampak perkembangan internasional tersebut ditransmisikan ke Indonesia melalui jalur tetap tinggi meskipun ada permintaan eksternal, terkait dengan arus perdagangan dan modal. Dampak harga koreksi penurunan pada komoditas ini sangat penting mengingat keragaman ekspor Indonesia dan sensitivitas bulan Mei fiskal Indonesia terhadap harga minyak. Harga komoditas global dikoreksi pada bulan Mei di tengah kekhawatiran atas risiko penurunan prospek global tersebut di atas. Harga energi menurun sebesar 6,5 persen dan harga non-energi sebesar 4,7 persen pada bulan tersebut, sebagian karena apresiasi dolar AS. Namun, harga energi tetap naik 9,1 persen dan harga non-energi naik 7,2 persen selama tiga bulan sejak Februari. Selain itu, mempertimbangkan faktor-faktor penentu sisi penawaran di tengah ketidakpastian Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan prospek permintaan, koreksi masih belum terjadi sampai saat ini yang dapat mengakibatkan tren penurunan harga. Selama jangka pendek, harga komoditas diperkirakan tetap tinggi. Perkiraan Bank Dunia untuk bulan Juni 2011 menunjukkan adanya kenaikan harga yang tinggi untuk tahun 2011, dimana akan diikuti oleh penurunan harga pada tahun 2012. Namun, harga di tahun 2012 secara riil baik untuk indeks energi dan non-energi diperkirakan masih akan tetap berada di atas tingkat harga di tahun 2008. Tingginya harga minyak Setelah terjadi penurunan tajam pada bulan Mei, harga minyak mendapat perhatian lebih dan pangan di tingkat besar dikarenakan implikasi dari ketidakpastian atas resolusi gejolak yang terjadi di Libya, internasional terus Syria dan Yaman, berkurangnya cadangan minyak, serta ketidakmampuan OPEC pada menjadi perhatian bagi awal Juni untuk mencapai kesepakatan tentang peningkatan kuota produksi dan harapan banyak negara, termasuk Indonesia akan peningkatan permintaan pada semester kedua tahun ini. Namun pada akhir Juni, harga minyak turun tajam, setelah adanya persetujuan dari Badan Energi Internasional untuk melepaskan pasokan tambahan dari cadangan mereka. Harga minyak mentah Indonesia telah mengikuti pergerakan pasar internasional yang turun dari harga tertingginya yang mencapai hampir USD 130 per barel pada akhir April hingga USD 120 pada awal Juni, menyebabkan harga rata-rata dalam lima bulan pertama tahun 2011 menjadi USD 113 per barel (Gambar 2). Seperti yang dibahas lebih rinci di bawah, harga minyak yang tinggi memberikan tekanan lebih besar pada posisi fiskal Indonesia, dimanapengeluaran yang dianggarkan untuk subsidi bahan bakar dan energi akan lebih besar. Beralih ke harga pangan internasional, secara keseluruhan harga turun sekitar 6 persen dari puncaknya baru-baru ini pada bulan Februari. Meskipun demikian, harga gandum naik 1 persen selama periode ini, dimana harga yang jatuh pada bulan Maret telah diimbangi dengan kenaikan harga saat ini. Sebagai contoh, pada bulan Mei, harga gandum internasional naik 5,7 persen dikarenakan kekhawatiran atas terjadinya kekeringan di beberapa bagian Eropa, meskipun harga beras internasional telah turun secara bertahap. 2. Sementara pertumbuhan relatif terbatas pada triwulan 1 tahun 2011, outlook jangka pendek masih tetap kokoh Pertumbuhan PDB Setelah catatan yang sangat kuat di triwulan 4, tak mengherankan bila pertumbuhan PDB termoderasi pada di triwulan 1 mengalami perlambatan (Gambar 3). Pertumbuhan tahun-ke-tahun mencapai triwulan 1 tahun 2011… 6,5 persen, turun dari 6,9 persen pada triwulan penutup tahun 2010. Berdasarkan penyesuaian musiman, pertumbuhan triwulanan juga turun, setelah mencapai catatan nilai tertinggi pada triwulan akhir tahun 2010, turun menjadi 1,0 persen, di bawah nilai rata-rata 10-tahunannya. Hasil dari triwulan pertama secara umum konsisten dengan yang diperkirakan pada proyeksi Triwulanan edisi bulan Maret 2011, sehingga outlook untuk tahun 2011 dan 2012 tetap masing-masing sebesar 6,4 persen dan 6,7 persen. Akan tetapi, dengan adanya perkembangan selama triwulan itu berlangsung, ketidakpastian akan proyeksi dasar itu telah meningkat (seperti dibahas di bawah). …mencerminkan Pada dasar triwulanan dengan penyesuaian musiman, baik ekspor bersih dan belanja kelemahan dalam ekspor pemerintah mengurangi pertumbuhan PDB, secara bersama-sama sebesar 2 poin bersih dan belanja persentase (Gambar 4). Belanja pemerintah riil sangat lemah pada triwulan pertama, pemerintah dengan belanja turun sebesar 11,4 persen dengan penyesuaian musiman, yang merupakan triwulanan yang paling lemah selama satu dekade. Data fiskal menunjukkan bahwa sekitar 15 persen dari alokasi anggaran satu tahun penuh untuk belanja pegawai dan material (dua kelompok yang mempengaruhi statistik PDB) telah dicairkan pada triwulan pertama. Hal ini umumnya konsisten dengan laju pencairan triwulan pertama selama dua tahun terakhir. Konsumsi swasta dan investasi tetap masih cukup tinggi walaupun belanja konstruksi melemah, sekali lagi hal ini kemungkinan merncerminkan masalah pencairan sektor publik. Kepercayaan konsumen telah meningkat pada indeks Danareksa, yang menyertakan konsumen berpenghasilan rendah dan dengan demikian mencerminkan dampak dari turunnya harga bahan pangan, tetapi telah menunjukkan gerakan yang berlawanan pada indeks BI. Indeks BI turun karena perkiraan lapangan kerja yang lebih rendah dan keprihatinan akan kenaikan harga di masa depan. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 2 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Beban pertumbuhan ekspor bersih tercermin dari terus bergeloranya impor rill terhadap datarnya ekspor riil. Ekspor turun sebesar 0,3 persen, sementara impor meningkat sebesar 2,6 persen. Pertumbuhan impor tersebut konsisten dengan permintaan domestik yang terus melaju lebih cepat dari mitra-mitra dagang utama Indonesia. Gambar 3: Pertumbuhan triwulan melambat di triwulan Gambar 4: …terutama dengan melemahnya belanja 1/2011, turun dari nilai tertingginya pada triwulan 4/2010,… pemerintah dan ekspor bersih (persentase perubahan dalam PDB riil) (kontribusi ke pertumbuhan triwulan-ke-triwulan dengan penyesuaian musiman, persen) Persen Persen Persen Persen 4 8 4 4 Year on year (RHS) 2 2 3 6 0 0 QoQ seas. adjust (LHS) 2 4 Average (LHS)* -2 -2 1 2 -4 -4 Mar-08 Dec-08 Sep-09 Jun-10 Mar-11 0 0 Discrepancy Net Exports Investment Mar-04 Dec-05 Sep-07 Jun-09 Mar-11 Gov cons. Private cons. GDP Catatan: * Rata-rata pertumbuhan triwulan-ke-triwulan sejak Catatan: Kontribusi mungkin tidak berjumlah ke [triwulan 1/2000] pertumbuhan PDB secara keseluruhan karena penyesuaian Sumber: BPS dan penyesuaian musiman staf Bank Dunia musiman dari tiap rangkaian individual Sumber: BPS dan perhitungan staf Bank Dunia Perdagangan eceran dan Harga perdagangan eceran dan kulakan terus menjadi salah satu pendorong kulakan dan jasa pertumbuhan utama pada sisi produksi, yang mencerminkan kuatnya konsumsi domestik. memimpin pada sisi Pertanian melemah dan pertambangan dan konstruksi jatuh. Sektor konstruksi mencatat produksi pertumbuhan yang sangat rendah pada triwulan pertama, pada laju pertumbuhan yang paling lemah hampir selama 10 tahun terakhir, yang mungkin mencerminkan masalah dengan pencairan belanja modal pemerintah. Penjualan semen, yang dapat digunakan sebagai indikator dari kegiatan konstruksi, sebetulnya meningkat cukup kuat pada triwulan itu, meningkat di atas 15 selama setahun pada bulan Maret 2011. Kontribusi manufaktur terhadap pertumbuhan triwulanan menurun setelah menguat pada triwulan akhir tetapi dengan basis tahun-ke-tahun, pertumbuhan berada di atas 5 persen untuk dua triwulan terakhir, yang pertama kali sejak tahun 2007. Tekstil, besi dan baja, dan peralatan transpor telah menjadi kontributor utama. Pengaruh dari gempa Sejumlah manufaktur mobil dan sepeda motor Indonesia terpengaruh oleh kelangkaan bumi dan tsunami Jepang bahan baku dari Jepang karena pabrik-pabrik di negara itu terkena dampak tsunami dan terhadap PDB Indonesia gempa bumi. Distributor mobil terbesar Indonesia memperkirakan bahwa produksi pada tampaknya akan terbatas pabrik perakitan kendaraannya akan jatuh sebesar 15 persen pada triwulan kedua. secara agregat, walaupun sektor-sektor seperti Melihat pada dampak perdagangan, data perdagangan Jepang menunjukkan bahwa otomotif telah ekspor Jepang ke Asia turun sebesar 6,6 persen pada bulan, dan ekspor ke Indonesia terpengaruh juga turun sebesar 12,9 persen. Sebagian besar ekspor tersebut adalah komponen yang dikirimkan ke Indonesia untuk perakitan. Akan tetapi dampak apapun terhadap Indonesia pada triwulan kedua tampaknya akan terbatas dengan sifat sektor manufaktur Indonesia yang relatif terdiversifikasi. Outlook bagi Proyeksi PDB headline untuk tahun 2011 dan 2012 tidak berubah dari Triwulanan edisi pertumbuhan Indonesia bulan Maret 2011 masing-masing pada 6,4 persen dan 6,7 persen (Tabel 2). Pergerakan pada tahun 2011 tetap dalam PDB riil yang dicatat pada tiga bulan pertama tahun 2011 sebagian besar seperti kuat, walaupun dengan yang diperkiakan pada Triwulanan bulan Maret. Selain itu, walaupun dengan perubahan komposisi relatif terhadap ketidakpastian internasional yang disinggung di atas, pendorong baseline pertumbuhan Triwulanan edisi bulan relatif tetap stabil dalam hal pertumbuhan global dan kondisi ekonomi domestik. Telah Maret 2011 terdapat perubahan dalam komposisi proyeksi pertumbuhan. Sebagai contoh, pertumbuhan konsumsi swasta telah direvisi naik untuk mengimbangi lemahnya investasi dan belanja pemerintah. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 3 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Asumsi yang mendasari outlook makro untuk tahun 2011 dan 2012 telah sedikit mengalami revisi untuk mencerminkan perkembangan tahun berjalan seperti terlihat pada apresiasi kurs tukar terhadap dolar Amerika, naiknya harga minyak dan jatuhnya inflasi (sehingga menurunkan potensi peningkatan BI Rate). Secara khusus, asumsi harga minyak telah dinaikkan ke harga rata-rata yang relatif konservatif sebesar 105 dolar Amerika per barel karena rata-rata tahun 2011 berjalan adalah 113 dolar Amerika. Asumsi ini menyiratkan penurunan bertahap harga minyak dari sekitar 120 dolar Amerika pada awal bulan Juni menjadi harga yang membuat harga rata-rata bagi sisa tahun 2011 pada sedikit di bawah 100 dolar Amerika. Juga terdapat sedikit penurunan pada pertumbuhan mitra perdagangan utama, mencerminkan dampak gempa bumi dan tsunami di Jepang, kelemahan di AS dan revisi terhadap pertumbuhan PDB Singapura. Tabel 2: Proyeksi PDB agregat untuk tahun 2010 dan 2011 tetap tidak berubah (persentase perubahan, kecuali dinyatakan lain) Tahun ke triwulan Revisi terhadap Tahunan Desember tahunan 2010 2011 2012 2010 2011 2012 2011 2012 1, Indikator ekonomi utama Total belanja konsumsi 4,0 5,2 6,2 4,9 5,4 6,3 -0,1 0,1 Belanja konsumsi swasta 4,6 4,9 5,0 4,4 5,3 5,7 0,2 0,1 Konsumsi pemerintah 0,3 6,6 13,6 7,3 5,5 9,6 -2,2 0,1 Pembentukan modal tetap bruto 8,5 9,2 9,9 8,7 9,8 10,5 -0,8 -0,2 Ekspor barang dan jasa 14,9 12,9 10,5 16,1 8,0 10,3 1,2 -1,9 Impor barang dan jasa 17,3 16,9 12,6 16,9 12,3 12,8 4,7 -0,5 Produk Domestik Bruto 6,1 6,4 6,7 6,9 6,5 6,8 0,0 0,0 Pertanian 2,9 3,4 3,9 4,1 3,8 2,5 -0,2 -0,6 Industri 4,7 4,9 5,2 5,3 5,3 5,1 -0,2 -0,1 Jasa 8,4 8,6 8,8 5,8 9,2 8,6 0,3 0,1 2, Indikator Eksternal Neraca pembayaran (miliar AS$) 30,3 24,8 26,0 n/a n/a n/a 8,1 11,2 Neraca berjalan (miliar AS$) 5,7 2,8 4,5 n/a n/a n/a 0,5 1,8 Neraca Perdagangan (miliar AS$) 21,3 18,6 21,0 n/a n/a n/a 1,4 2,7 Neraca keuangan (miliar AS$) 26,1 22,5 21,5 n/a n/a n/a 8,3 9,5 3, Pengukur ekonomi lainnya Indeks harga konsumen 5,1 5,9 6,1 6,3 5,7 5,9 -0,4 -0,1 Indeks keranjang kemiskinan 8,4 7,8 7,0 11,1 5,8 6,9 -0,5 0,0 PDB Deflator 8,0 9,2 9,6 8,0 9,9 9,5 -0,2 -0,7 PDB Nominal 14,6 16,2 17,0 15,0 17,0 16,9 -0,2 -0,8 4, Asumsi ekonomi Kurs tukar (IDR/USD) 9074 8713 8650 8977 8650 8650 -187,5 -250,0 Suku bunga 6,4 6,8 7,0 6,5 7,0 7,0 -0,2 -0,5 Indonesian crude price (USD/bl) 79,4 105,1 97,0 86,2 97,0 97,0 15,1 7,0 Pertumbuhan mitra dagang utama 6,6 4,3 4,7 5,5 4,9 4,7 -0,1 -0,1 Catatan: Proyeksi aliran perdagangan berkaitan dengan neraca nasional, yang mungkin terlalu membesarkan pergerakan sebenarnya dalam volume perdagangan dan mengecilkan pergerakan harga karena perbedaan dalam rangkaian harga. Revisi dibuat sesuai dengan IEQ bulan Maret 2011. Sumber: Kemenkeu, BPS, BI, CEIC dan proyeksi Bank Dunia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 4 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan 3. Aliran masuk portofolio dan PMA tetap kuat sementara surplus perdagangan menyempit Keseluruhan aliran Keseluruhan aliran masuk neraca pembayaran pada triwulan pertama mencapai 7,7 miliar masuk neraca dolar Amerika, nilai tertinggi kedua yang pernah tercatat. Surplus neraca berjalan adalah pembayaran pada 1,9 miliar dolar Amerika, sementara total aliran masuk pada neraca modal dan keuangan triwulan 1/2011 hanya mencapai 6,2 miliar dolar Amerika (Gambar 5). Cadangan devisa mencapai 118 miliar lebih rendah dari catatan nilai tertinggi pada dolar Amerika pada akhir bulan Mei, atau setara dengan 6,9 bulan impor dan hutang luar triwulan 4/2010 negeri Pemerintah. Aliran portofolio bangkit Aliran masuk ke neraca keuangan pada triwulan 1/2011 walaupun sempat mengalami kembali dan PMA terus penurunan pada triwulan 3 dan 4 tahun 2010, merupakan nilai ketiga tertinggi dalam berjalan kuat catatan, meneruskan aliran masuk selama tujuh triwulan berturut-turut yang merupakan periode terpanjang pasca krisis tahun 1997-1998. Aliran portofolio menunjukkan pemulihan yang kuat, walaupun terdapat pelemahan pada awal tahun. Kuatnya PMA tetap berlanjut (lihat Bagian B) dengan 4,5 miliar dolar Amerika dalam aliran masuk bruto sementara nilai bersih investasi langsung mencapai 3 miliar dolar Amerika. Kekuatan aliran PMA melanjutkan tren menuju investasi dengan jangka waktu yang lebih panjang, relatif terhadap aliran portofolio. Gambar 5: Aliran masuk modal mendominasi catatan Tabel 3: …dan diproyeksikan untuk tetap kuat hingga tahun keseluruhan aliran masuk neraca pembayaran… 2011 dan 2012 (miliar dolar Amerika) (miliar dolar Amerika) miliar US$ miliar US$ 2008 2009 2010 2011 2012 Current account Net portfolio Keseluruhan Net direct investment Net other Neraca Overall balance Pembayaran -1,9 12,5 30,3 24,8 26,0 12 12 Neraca Berjalan 0,1 10,6 5,7 2,8 4,5 8 8 Perdagangan 9,9 21,2 21,3 18,6 21,0 Pendapatan -15,2 -15,1 -20,3 -20,9 -21,8 4 4 Transfer 5,4 4,6 4,6 5,1 5,3 Neraca Modal & 0 0 Keuangan -1,8 4,9 26,1 22,5 21,5 Neraca Modal 0,3 0,1 0,0 0,2 0,2 -4 -4 Neraca Keuangan -2,1 4,8 26,1 22,3 21,3 PMA 3,4 2,6 10,6 12,4 14,5 -8 -8 Portofolio 1,8 10,3 13,2 13,5 13,1 Mar-05 Mar-07 Mar-09 Mar-11 Lainnya -7,3 -8,2 2,2 -3,6 -6,3 (a) Cadangan 51,6 66,1 96,2 118,1 (a) Catatan: Kesalahan dan penghilangan tidak ditunjukkan Catatan: Kesalahan dan penghilangan tidak ditunjukkan. Sumber: BI cadangan 2011 per akhir bulan Mei 2011 Sumber: BI dan proyeksi Bank Dunia Neraca perdagangan Neraca perdagangan Indonesia menyempit pada triwulan 1/2011 relatif terhadap triwulan terus menyempit 4/2010, bergerak menjadi 6,2 miliar dolar Amerika, yang mencerminkan surplus 8,4 miliar mencerminkan kekuatan dolar untuk barang-barang dan defisit 2,2 miliar dolar Amerika untuk jasa. Pertumbuhan relatif permintaan impor meninggalkan ekspor. Secara triwulanan, pertumbuhan ekspor umumnya tetap domestik lambat, dengan peningkatan pada sektor manufaktur yang diimbangi dengan penurunan sektor pertanian dan pertambangan. Pada sisi impor, barang input setengah jadi berprestasi dengan baik, terutama elektronik, mesin dan besi baja. Neraca migas terus turun dengan konsumsi domestik terus meningkat kuat. Data bulanan menunjuk pada berlanjutnya penurunan neraca perdagangan barang, yang menurun ke 1,6 miliar dolar Amerika di bulan April, tetapi nilainya masih dua kali lipat dari surplus bulan April 2010. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 5 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Melihat ke depan, aliran Neraca perdagangan diproyeksikan akan terus menyempit di tahun 2011 dan 2012 yang masuk neraca mencerminkan kekuatan kegiatan domestik (tidak hanya pada sisi impor tetapi juga pada pembayaran diperkirakan pembayaran jasa profesional, usaha dan transportasi). Selain itu defisit pendapatan juga akan tetap kuat, diperkirakan akan melanjutkan tren ekspansinya (didorong oleh repatriasi keuntungan) walaupun lebih rendah dari catatan tahun 2010 dan transfer yang berjalan akan tetap stabil. Sebagai akibatnya surplus neraca berjalan karena surplus neraca diproyeksikan akan terus mengikuti tren turun, yang membuka kemungkinan menjadi berjalan menyempit dan defisit. Akan tetapi, sebagai pengimbang hal ini adalah aliran modal yang terus berlanjut, aliran masuk modal walaupun telah termoderasi, dengan hasil bersih aliran masuk keseluruhan neraca menurun pembayaran tahun 2011 dan 2012 sebesar 22 miliar dolar Amerika per tahun. 4. Inflasi headline telah turun tetapi risiko inflasi tetap ada Mengikuti penurunan Inflasi headline IHK telah berangsur turun dari 7 persen di bulan Januari 2011 menjadi harga pangan, inflasi sedikit di bawah 6 persen di bulan Mei 2011 (Gambar 6). Seperti peningkatan inflasi pada headline IHK turun dari 7 semester kedua tahun 2010, gejolak harga bahan pangan telah mendorong penurunan persen di bulan dalam inflasi headline belakangan ini. Inflasi harga pangan turun dari 16,2 persen di bulan Desember 2010 menjadi sedikit di bawah 6 persen Januari menjadi 10,2 persen di bulan Mei (walaupun untuk hampir seluruh bahan pangan, di bulan Mei 2011 rata-rata laju inflasi masih tetap berada di atas keseluruhan keranjang). Tingkat indeks harga bahan pangan IHK turun sebesar 4,4 persen pada periode ini dengan adanya pasokan dari panen raya. Sebagai contoh, harga cabai turun sebesar 77 persen selama periode ini dan harga eceran beras dalam negeri turun sebesar 7,6 persen dari nilai tertingginya pada awal tahun 2011. Gambar 6: Inflasi headline dan keranjang kemiskinan telah turun bersama-sama dengan inflasi harga bahan pangan Gambar 7: Pengaruh harga energi dan bahan pangan tetapi inflasi inti mulai meningkat domestik ke inflasi inti di Indonesia cukup tinggi (perutumbuhan tahun-ke-tahun) ese (persentase) Persen Persen Persen Persen 24 24 0.4 0.4 Food Energy 0.3 0.3 18 18 Inflasi pangan 0.2 0.2 12 12 Inflasi keranjang 0.1 0.1 kemiskinan 6 6 Inflasi 0 0 headline Inflasi inti 0 0 Dec 07 Jan 09 Feb 10 Mar 11 Sumber: BPS dan Bank Dunia Catatan: Dampak peningkatan 1 persen harga energi dan bahan pangan domestik. Didapatkan dari regresi inflasi inti atas harga pangan dan domestik saat ini dan yang lalu, dan celah output. Harga tingkat pedagang besar digunakan untuk India. Sumber: Perkiraan staf IMF THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 6 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Kotak 1: Perkembangan harga terakhir di Indonesia Gangguan cuaca sepanjang tahun 2010 telah menurunkan pasokan beras di beberapa daerah di Indonesia. Penurunan produksi beras dalam negeri menyebabkan peningkatan harga beras yang cukup tinggi. Gambar 8 membandingkan goncangan harga beras terakhir dengan goncangan-goncangan yang lain sejak tahun 2005. Mencermati jalur ke harga nominal di tingkat pedagang besar tertinggi pada lima tahun terakhir menunjukkan bahwa goncangan harga terakhir pada tahun 2010 ternyata berbeda dengan goncangan-goncangan sebelumnya. Nilai tertingginya dicapai relatif dini, pada bulan November, setelah peningkatan yang relatif stabil selama enam bulan dan kemudian sebagian dari kenaikan itu berangsur-angsur menurun di bulan-bulan berikutnya. Goncangan sebelumnya terjadi pada bulan Januari atau Februari segera sebelum masa panen dan laju peningkatan harga berlangsung jauh lebih cepat dan umumnya pada periode waktu yang lebih singkat. Serupa dengan itu, turunnya harga pada tiga bulan setelah puncak harga pada goncangan-goncangan yang lalu berlangsung lebih cepat dibanding penurunan yang terjadi setelah nilai puncak pada bulan November 2010, sebagian besar karena kedekatan masa panen dengan nilai-nilai puncak harga yang lalu. Sejak bulan November 2010, harga beras di tingakt pedagang besar telah mulai melemah, turun sebesar 15 persen, karena panen dan impor beras oleh Bulog. Pada goncangan harga beras yang lalu, harga-harga kembali meningkat setelah 3-6 bulan dari puncak harga (dengan pengecualian pada goncangan harga tahun 2007 yang diikuti oleh peningkatan harga yang relatif lesu dan pada tahun itu Bulog mengimpor beras setiap bulan untuk membantu meningkatkan pasokan). Harga beras telah menunjukan peningkatan sejak minggu pertama bulan Mei hingga bulan Juni dan pada bulan-bulan berikutnya diperkirakan akan mengalami peningkatan harga beras yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Harga beras hingga akhir tahun akan sangat bergantung kepada kualitas panen dan keputusan Pemerintah atas tambahan impor beras. Adanya kendala yang berkaitan dengan perkiraan produksi beras dan pola cuaca, bagian terakhir dari chapter ini akan mempelajari empat skenario yang berbeda terhadap peningkatan harga beras dan dampaknya kepada pengukuran inflasi. Gambar 8: Peningkatan harga pada akhir tahun 2010 turun Gambar 9: Harga kulakan) beras tetap tinggi dalam nilai lebih lembat di kulakan dibanding g puncak-puncak harga nominal dan riil yang lalu (Harga nominal kulakan, harga riil dideflasi dengan (Indeks nominal harga beras kulakan dengan setiap rangkaian inflasi inti dan harga 2002) diindeks ke 100 pada nilai harga puncak ) Puncak indeks=100 Puncak indeks=100 Rupiah/kg Rupiah/kg 100 100 6,500 6,500 Harga nominal kulakan beras 5,500 5,500 90 90 4,500 4,500 3,500 3,500 80 80 Nov-10 Jan-08 2,500 2,500 Jan-10 Feb-06 Harga riil kulakan Feb-07 beras 70 70 1,500 1,500 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 May-02 May-05 May-08 May-11 Bulan dari harga puncak lokalnya Catatan: Berdasar harga kulakan kualitas rendah IR-64 III Catatan: Berdasar harga kulakan kualitas rendah IR-64 III Sumber: BPS dan Bank Dunia Sumber: BPS dan Bank Dunia Melihat pada tren jangka panjang, harga nominal dari kulakan beras telah meningkat sebesar rata-rata 9.7 per tahun sejak 2002. Secara riil, harga kulakan beras telah meningkat sebesar rata-rata 3,1 persen per tahun sejak 2002. Harga kulakan tertinggi di bulan November 2010 adalah harga nominal dan riil yang tertinggi dengan harga-harga secara riil tetap berada di atas rata-rata tahun-tahun yang lalu (Figure 9). Inflasi inti telah Inflasi inti telah meningkat secara bertahan ke nilai tertinggi selama 20 bulan terakhir meningkat walaupun sebesar 4,6 persen dengan mulai meningkatnya biaya pakaian dan jasa. Tingkat harga perkiraan inflasi melemah inti telah meningkat sebesar 1,6 persen dari nilai basis yang tidak disesuaikan secara dengan pergerakan pada musiman dari bulan Desember 2010 hingga Mei 2011 (dibanding peningkatan sebesar inflasi headline 1,2 persen dari periode yang sama hingga Mei 2010). Perkiraan IMF menunjukkan bahwa pengaruhnya kepada inflasi inti harga bahan pangan dan energy dalam negeri cukup besar di Indonesia (Gambar 7). Seperti dibahas pada IMF Asia and Pacific Regional Economic Outlook bulan April 2011, tingginya tingkat pengaruh itu dapat mencerminkan tidak saja beban belanja (seperti bahan pangan, termasuk makanan yang disiapkan, yang merupakan 25 persen dari bobot keranjang harga inti Indonesia) tetapi juga kerangka kebijakan moneter dan kemampuan untuk mengendalikan perkiraan inflasi. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 7 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Perkiraan inflasi di Indonesia telah menyusut seperti ditunjukan oleh hasil survei para ekonom profesional, walaupun demikian survei BI akan perkiraan harga enam bulan ke depan menunjukkan bahwa terdapat rasa waswas konsumen akan potensi penyesuaian subsidi pemerintah untuk bahan bakar dan listrik, dan naiknya harga bahan pangan mengikuti bulan Ramadan. Outlook bagi inflasi IHK Walaupun inflasi headline mencatat tren yang menurun, masih banyak ketidakpastian sangat bergantung pada yang dapat mempengaruhi inflasi, khususnya yang berhubungan dengan harga makanan tingkat harga energi yang dan energi. Tekanan naik dikarenakan oleh peningkatan harga gandum dan energi dunia. diatur dan harga beras Pengaruh langsung dari peningkatan harga tersebut yang dimulai sejak awal tahun 2011 dalam negeri di masa depan yang diperkuat oleh pembatasan impor beras dan subsidi bahan bakar Indonesia. Padahal walaupun tanpa penyesuaian kebijakan pengaruh tidak langsung tetap dapat terjadi. Sebagai contoh, produk penyulingan minyak merupakan bahan input setengah jadi, menunjukan indikasi perubahan pada asumsi harga minyak yang nantinya akan berujung pada harga konsumen. Pada harga beras, seperti telah disinggung sebelumnya, masa depan harga beras sangat sulit untuk diperkirakan, hal ini disebabkan karena sukarnya menilai keberhasilan panen dan cuaca hingga akhir tahun. Hal ini dapat menjadi peningkatan atau penurunan risiko bagi perkiraan inflasi dasar (lihat analisis scenario pada bagian risiko). Faktor-faktor lain yang mempengaruhi outlook inflasi termasuk kondisi kredit dalam negeri yang tampaknya akomodatif, yang dapat memberikan dorongan naik bagi harga-harga. Akhirnya, apresiasi kurs tukar yang terus berlangsung dapat menempatkan tekanan turun kepada harga-harga (walaupun sesuai pembahasan di bawah, apresiasi kurs tukar riil yang berlaku lebih tidak jelas dibanding dolar Amerika). Menimbang seluruh faktor tersebut, dan mengasumsikan tidak adanya perubahan kebijakan, inflasi headline IHK diproyeksikan akan mencapai 5,7 persen di triwulan akhir tahun 2011 sebelum mulai berangsur naik menjadi 5,9 persen di bulan Desember 2012 yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kredit yang lebih tinggi. Inflasi keranjang kemiskinan diproyeksikan akan turun menjadi 5,8 persen pada triwulan akhir tahun 2011 dengan asumsi tidak ada goncangan harga yang lain dan meningkatnya pengaruh dari tingginya tingkat dasar dari harga bahan pangan tahun 2010. Untuk tahun 2012, dengan meningkatnya pergerakan pertumbuhan, diproyeksikan bahwa inflasi akan melaju menjadi rata-rata 6,1 persen selama setahun dengan inflasi keranjang kemiskinan meningkat menjadi 7 persen. Harga-harga keseluruhan Inflasi PDB deflator meningkat menjadi 8,4 persen pada triwulan pertama tahun 2011, ekonomi terus meningkat melanjutkan peningkatannya secara bertahap dari nilai rendahnya sebesar 5.3 persen secara bertahap melalui pada triwulan ketiga tahun 2009. Inflasi harga investasi berada sedikit di bawah 8 persen triwulan 1 tahun 2010 dan sementara harga konsumsi swasta turun sesuai dengan jatuhnya IHK, dan seperti diperkirakan akan mencapai 9,2 persen di umumnya terjadi pada triwulan pertama, besaran inflasi belanja pemerintah meningkat tahun 2011 tajam menjadi di atas 10 persen. Melihat ke depan, tren naik inflasi PDB deflator diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun 2011 (dengan inflasi deflator triwulan terakhir sebesar 9,9 persen) sebelum turun di tahun 2012. Outlook tahun 2011 tidak dibantu oleh lemahnya kegiatan dan harga konstruksi pada bulan Maret triwulan 2011 yang merupakan hasil paling rendah dari perhitungan dengan penyesuaian musiman selama 10 tahun. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 8 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan 5. Peningkatan harga bahan pangan sebelumnya tampaknya akan mempengaruhi pengukuran kemiskinan di bulan Maret 2011 Harga beras telah turun Mengikuti penurunan tingkat kemiskinan di tahun 2010 menjadi 13,3 persen, survei rumah dari nilai puncaknya pada tangga Susenas bulan Maret 2011 akan memberikan data kemiskinan nasional terakhir akhir tahun 2010 tetapi bagi Indonesia. Sepanjang tahun hingga bulan Maret 2011, pertumbuhan PDB riil peningkatannya hingga mencapai 6,5 persen, memberikan dorongan kuat pada pendapatan riil, yang bergantung bulan Maret 2011 tampaknya akan pada tingkat penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan upah. Namun sebaliknya, tren menghalangi manfaat positif ini juga diperlemah oleh peningkatan harga bahan pangan, serta peningkatan pertumbuhan ekonomi inflasi keranjang kemiskinan pada bulan Maret 2011, yaitu peningkatan harga rata-rata yang tinggi dalam pada sejumlah barang kebutuhan dasar yang dikonsumsi oleh kaum miskin, dimana kemajuan pengentasan mencapai 10,9 persen per tahun. Seperti dibahas pada Bagian B dari Perkembangan kemiskinan Triwulanan Perekonomian Indonesia edisi bulan Maret 2011, goncangan harga bahan pangan yang cukup besar dapat meningkatkan tingkat kemiskinan, walaupun pertumbuhan PDB menguat, sebagaimana yang terjadi pada tahun 2005-06. Melihat ke tahun 2012 mendatang, jalur mendasar yang biasa digunakan untuk menurunkan inflasi keranjang kemiskinan, seiring dengan pertumbuhan yang kuat, diproyeksikan dapat berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan (meskipun hal ini juga tidak terlepas dari pengaruh perubahan kebijakan, misalnya, dalam hubungannya dengan program perlindungan sosial,harga bahan pangan atau bahan bakar). Penyerapan tenaga kerja Selama setahun sampai dengan Gambar 10: Penyerapan pekerja terus menerus telah terus menerus bulan Februari 2011, meningkat meningkat … pertumbuhan penyerapan tenaga (kontribusi poin persentase terhadap pertumbuhan kerja di Indonesia terus menerus tahun-ke-tahun) bergerak naik. Total penyerapan Finance Trans & Comm Const, Mining & Elec Manufacturing meningkat sebesar 3,6 persen W'sale, Trade, Rest Agriculture (3,9 juta orang) dibandingkan Public Service Total dengan peningkatan angkatan Persen Persen kerja sebesar 2,9 persen (3,4 juta 6 6 orang). Sebagai akibatnya, angka pengangguran resmi Indonesia turun menjadi 6,8 persen di bulan 4 4 Februari 2011 dari 7,4 persen satu tahun sebelumnya. 2 2 Secara lintas sektoral, penyerapan tenaga kerja di sektor 0 0 keuangan meningkat sebesar 26 persen sepanjang tahun, nilai catatan tertinggi; dan sektor -2 -2 konstruksi mencatat peningkatan 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 sebesar 15 persen (laju tercepat sejak tahun 1997/1998). Catatan: Poin data adalah untuk bulan Februari Penyerapan di sektor pertanian Sumber: Sakernas dan Bank Dunia terus menurun selama dua tahun berturut-turut, sebesar 1 persen, tetapi tetap menjadi sektor dengan pekerja paling banyak, yaitu sebesar 40 persen dari seluruh tenaga kerja. Sektor pelayanan publik meningkat sebesar 9 persen sepanjang tahun dan telah memberikan kontribusi lebih dari sepertiga dari pertumbuhan tenaga kerja secara keseluruhan sejak bulan Februari 2010. Laju pertumbuhan yang tinggi pada sektor keuangan memberi kontribusi 11 persen dari seluruh tenaga kerja baru sejak bulan Februari 2010, walaupun porsinya dari total tenaga kerja hanyalah sebesar 1,5 persen. …tetapi penciptaan Melihat angkatan kerja keseluruhan, tingkat pengangguran bagi tenaga kerja muda usia pekerjaan yang produktif (yang berusia antara 15 hingga 24 tahun) cenderung lebih tinggi daripada kelompok usia masih menjadi prioritas, lain untuk. Data dari survei angkatan kerja Sakernas bulan Agustus 2010 menunjukkan terutama bagi tenaga bahwa setengah dari seluruh penduduk usia muda di Indonesia berada di dalam angkatan muda kerja dan tingkat pengangguran mereka berada pada angka 18 persen dibandingkan dengan 3 persen jumlah pengangguran untuk angkatan kerja dari kelompok usia lain. Tingkat pengangguran tenaga kerja muda yang enam kali lebih besar daripada kelompok usia lain tersebut adalah 2,5 kalilebih besar jika dibandingkan dengan nilai rata-rata pengangguran usia muda di tingkat global. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 9 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Terdapat berbagai alasan di balik besarnya tingkat pengangguran tersebut. Di satu sisi, angkatan kerja muda mungkin lebih memilih untuk menunggu sampai mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Di sisi yang lain, hal tersebut dapat mencerminkan keterbatasan keterampilan yang sesuai dengan pekerjaan dan keterbatasan akses terhadap informasi lapangan kerja. Peraturan tenaga kerja juga dapat menghalangi penciptaan lapangan pekerjaan dan kewirausahaan. Untuk memaksimalkan potensi keuntungan dari posisi demografis yang dapat dipetik Indonesia pada satu dekade mendatang, seiring dengan terus menurunnya rasio ketergantungan, pemilihan kebijakan yang tepat harus dibuat untuk mendukung percepatan penciptaan pekerjaan dan meningkatkan hasil-hasil yang dapat diperoleh sebagai dampak dari penyerapan tenaga kerja. Untuk mendukung pertumbuhan yang mendukung penciptaan lapangan kerja, Pemerintah dapat mempercepat upaya dalam mereformasi sistem pemutusan hubungan kerja untuk meningkatkan perlindungan dan mendorong penciptaan lapangan kerja, meningkatkan pelatihan kewirausahaan dan akses terhadap pendidikan berkualitas serta memberikan pelayanan yang lebih baik untuk menghubungkan pemberi kerja dan pencari kerja. 6. Aliran masuk modal portofolio telah kembali dengan deras tetapi mulai melemah belakangan ini Harga aset Indonesia Pada triwulan terakhir harga-harga aset keuangan Indonesia telah memperoleh kembali telah kembali pulih dari penurunan yang terjadi pada awal tahun 2011. Pada periode sejak Triwulanan edisi penurunan di akhir tahun Maret, yaitu dari tanggal 15 Maret hingga 20 Juni, harga saham-saham di Indonesia telah 2010 dan awal 2011 tetapi meningkat sebesar 5,8 persen (7,7 persen untuk indeks saham MSCI dalam dolar belakangan ini terkena pengaruh dari Amerika), imbal hasil (yield) obligasi pemerintah dalam mata uang rupiah turun hampir 1 peningkatan poin persentase ke 6,9 persen dan rupiah telah meningkat sebesar 2,3 persen terhadap ketidakpastian di pasar dolar Amerika. Spread telah meningkat sebesar 2,3 persen terhadap dolar Amerika. global Spread obligasi negara asing mengalami sedikit penurunan ke sedikit di atas 200 basis poin. Akan tetapi, sejak awal bulan Juni, kekhawatiran atas penyelesaian krisis fiskal Yunani dan potensi penyebaran dampaknya ke anggota-anggota zona Euro yang lain, telah turut mendorong peningkatan ketidakpastian pasar dan penurunan saham-saham di belahan bumi lainnya (Gambar 11). Namun demikian, dampaknya terhadap harga aset Indonesia relatif terbatas. Spread obligasi negara asing hanya mengalami sedikit peningkatan walaupun harga saham telah jatuh. Indeks dolar Amerika MSCI Indonesia telah turun 3,8 persen sejak tanggal 1 Juni, walaupun penurunan ini lebih rendah dari yang terjadi di negara-negara berkembang di Asia secara keseluruhan atau untuk pasar saham di Negara-negara maju. Gambar 11: Meski sempat pulih dari penurunan pada awal tahun, harga saham Indonesia kembali menurun pada Gambar 12: Aliran dana masuk pulih dengan kuat selama beberapa minggu terakhir bulan April tetapi kemudian melemah di bulan Mei (indeks saham, 30 Des 2010=100; indeks fluktuasi VIX) (miliar dolar Amerika) MSCI Indonesia (USD), LHS miliar USD miliar USD Indeks MSCI EM Asia (USD), LHS 125 5.0 30 Des VIX index MSCI Developed (USD), LHS 2010=100 (skala terbalik) 115 10 100 2.5 110 15 75 0.0 105 20 100 50 -2.5 25 Cadangan (LHS) 95 25 -5.0 90 30 Aliran masuk portofolio asing, (RHS): Equities SUN SBI 85 35 0 -7.5 30-Dec 30-Jan 28-Feb 31-Mar 30-Apr 31-May May-08 May-09 May-10 May-11 Catatan: Indeks VIX mengukur fluktuasi 30-hari yang Catatan: “Aliran” SUN (surat utang negara) dan SBI diperkirakan dari indeks 500 S&P seperti tersirat dari harga (sertifikat BI) menunjukkan perubahan kepemilikan kontrak option Sumber: BI, CEIC dan Bank Dunia Sumber: Thomson Financial Datastream dan Bank Dunia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 10 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Portofolio aliran dana Pemulihan harga aset Indonesia dari bulan Februari ke April mencerminkan kembalinya masuk pulih dari bulan aliran masuk portofolio modal, terutama ke SBI dan SUN (Gambar 12). Kepemilikan SBI Februari hingga April oleh investor asing meningkat dari 7,1 miliar dolar Amerika pada akhir bulan Februari 2011 tetapi terjadi aliran menjadi 10,2 miliar dolar Amerika pada akhir bulan April. Kepemilikan ini berakhir setelah keluar bersih di bulan Mei bulan Mei dengan penurunan ketersediaan SBI secara keseluruhan (bagian dari kepemilikan asing meningkat tipis menjadi 39 persen) dan berlakunya aturan minimum holding period, yang semula adalah satu bulan menjadi enam bulan. Setelah derasnya aliran masuk pada tiga bulan sebelumnya, modal asing yang masuk ke SUN juga mulai menyusut di bulan Mei. Akan tetapi, aliran ke SUN meningkat secara drastis pada minggu-minggu pertama bulan Juni (hingga 1,2 miliar dolar Amerika dari akhir Mei menjadi 27,6 miliar dolar Amerika pada tanggal 16 Juni), yang mungkin disebabkan karena peraturan baru tentang kepemilikan SBI tersebut. Pembelian bersih saham oleh investor asing terus berlanjut menuju neraca dengan sumbangan portfolio aliran modal masuk yang lebih kecil (dengan kuatnya aliran di bulan April yang terutama disebabkan oleh pembelian bersih yang signifikan selama satu hari). Pendorong pemulihan Pendorong kembalinya aliran dana masuk yang deras, terutama ke SBI dan SUN, dari aliran dana masuk hingga bulan Februari hingga April, dapat dilihat sebagai kebalikan dari penentu aliran keluar bulan April adalah bagian yang terjadi sebelumnya. Dari sisi daya tarik domestik, inflasi headline telah menunjukkan dari aliran keluar pada penurunan yang diikuti oleh menurunnya perkiraan inflasi. Serupa dengan hal tersebut, akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 setelah optimisme relatif pada permulaan tahun telah terjadi peningkatan ketidak pastian pada pertumbuhan ekonomi Negara maju., yang makin menunjukan pertumbuhan Indonesia relatif lebih tinggi. Faktor-faktor lain yang mendorong aliran masuk ke Indonesia lebih stabil, yang termasuk, sebagai contoh, peningkatan berkelanjutan dalam kepercayaan kredit seperti terlihat pada peningkatan peringkat negara dari S&P pada awal bulan April 2011 hingga satu tingkat di bawah investment grade. Bahkan sejak tahun 2009, Indonesia spread hutang luar negeri Indonesia yang diperdagangkan, hampir sejalan dengan sub-indeks investment grade EMBIG (Emerging Market Bond Index Global) dari JP Morgan. Pengelolaan aliran dana Kebijakan BI untuk menanggapi aliran dana masuk adalah menggabungkan pengelolaan masuk Indonesia peningkatan dengan serangkaian kebijakan macro-prudential. Rupiah telah meningkat merupakan tantangan sebesar 4,7 persen terhadap dolar Amerika sejak akhir tahun 2010. Pergerakan terhadap kebijakan yang terus pelemahan dolar ini secara umum sejalan dengan yang dialami oleh valuta regional lain berlangsung sementara krisis hutang zona Euro dan kurs tukar riil efektif Indonesia sebetulnya tetap stabil sepanjang tahun (tetapi hingga merupakan pengingat bulan Mei 2011, tetap 6,2 persen lebih tinggi dari nilai bulan Desember 2009). akan bahaya aliran dana Pengumpulan cadangan devisa tetap berlanjut, mencapai 118 miliar dolar Amerika pada masukl ke Indonesia akhir bulan Mei 2011, lebih tinggi sebesar 20 miliar dolar Amerika sejak pertengahan berkaitan dengan bulan Februari, dan hamper dua kali lipat dari nilai pada akhir tahun 2009. Cadangan ini goncangan dari luar cukup untuk menutupi impor dan pembayaran hutang resmi untuk tujuh bulan (atau negeri sekitar 2,5 kali nilai hutang luar neger jangka pendek dengan sisa jatuh tempo pada akhir bulan April). Akan tetapi, eksposur terhadap aliran dana keluar untuk valuta asing juga telah meningkat sesuai dengan peningkatan cadangan risiko (Gambar 13). Berkaitan dengan hal tersebut, perkembangan di zona Euro dapat mengingatkan kita akan potensi goncangan yang dapat menghantam kelemahan Indonesia terhadap aliran dana masuk kembali. Dengan turunnya inflasi BI Rate tetap tidak berubah sejak peningkatan sebesar 25 basis poin di bulan Februari ke kisaran sasaran BI, BI menjadi 6,75 persen. Inflasi telah turun ke kisaran angka sasaran BI untuk tahun ini Rate tetap tidak berubah sebesar 5 +/-1 persen sehingga perkiraan pasar akan peningkatan lebih lanjut telah sejak Triwulanan edisi dipindahkan ke menjelang akhir tahun. Pengumuman kebijakan BI yang terakhir Maret menunjukkan bahwa apresiasi rupiah adalah “sejalan dengan apresiasi nilai tukar di wilayah Asia”, akan memperkuat gabungan kebijakan moneter dan upaya macro- prudential dengan menekankan pengelolaan aliran masuk modal dan likuiditas dalam negeri. Hal ini telah dipandang sebagai petunjuk akan adanya penyesuaian lebih lanjut dalam pemenuhan giro wajib minimum oleh beberapa pelaku pasar. Beralih kepada indikator moneter, peningkatan aset luar negeri bersih BI secara umum telah diimbangi dengan peningkatan hutang kepada pemerintah pusat (yang mencerminkan rendahnya belanja pada awal tahun). Operasi pasar terbuka telah memainkan peran yang lebih terbatas (dengan terus meningkatnya penggunaan fasilitas deposito berjangka dibanding SBI). Sejak meningkat di penghujung tahun 2010 dalam THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 11 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan kaitannya dengan peningkatan giro wajib minimum, jumlah agregat uang sempit (narrow money) telah bertahan relatif stabil sementara pertumbuhan uang luas (broad money) hingga akhir bulan April 2011 adalah sekitar 15 persen. Gambar 14: Pertumbuhan hutang riil terus meningkat sementara bunga pinjaman riil naik tipis dengan jatuhnya Gambar 13: Pengumpulan cadangan devisa diikuti inflasi peningkatan kepemilikan asing atas aset Indonesia (suku bunga riil; pertumbuhan pinjaman tahun-ke-tahun, (miliar dolar Amerika) persen) Persen Persen Non-resident SBI Sep 2008 25 25 holdings May 2010 Pertumbuhan Non-resident local Sept 2010 pinjaman riil 20 20 gov. securities Apr 2011 holdings Non-resident 15 15 equity holdings Bunga pinjaman riil (ex post) Short-term external 10 10 debt* 5 5 Total FX Reserves 0 0 0 20 40 60 80 100 120 140 Apr-07 Apr-08 Apr-09 Apr-10 Apr-11 miliar dolar Amerika Catatan: * pinjaman luar negeri jangka pendek sesuai sisa Catatan: Suku bunga riil ex post terdeflasi dengan inflasi waktu jatuh tempo (nilai April 2011 adalah sampai akhir IHK tahun-ke-tahun bulan Maret 2011) Sumber: BI, CEIC dan Bank Dunia Sumber: BI, KSEI, CEIC dan Bank Dunia Indikator harga dan Kita melihat bahwa triwulan akhir adalah kelanjutan dari tren-tren kondisi kredit yang kuantitas menunjukkan terakhir. Pertumbuhan nominal hutang mencapai 26 persen tahun-ke-tahun di bulan April. bahwa kondisi kredit Dengan menurunnya inflasi, laju pertumbuhan ex post riil telah meningkat menjadi mendukung gambaran 18,7 persen, naik dari 14,8 persen pada akhir bulan Desember tetapi masih berada di kinerja sektor riil bawah puncak-puncak nilai di tahun 2008 (Gambar 14). Kredit modal kerja masih menjadi penyumbang terbesar untuk pertumbuhan tahunan hingga bulan April, diikuti dengan kredit investasi dan kredit konsumen. Sehubungan dengan harga kredit, suku bunga kredit nominal tetap stabil, pada kisaran 13 persen, dan juga suku bunga ex post riil yang naik tipis dengan inflasi yang bergerak turun. Efektifitas kebijakan BI yang mengharuskan bank-bank untuk mengumumkan suku bunga dasar kredit (prime lending rate) mereka untuk mendukung intermediasi masih sulit diukur. Sebagai contoh, kebijakan itu tidak membuat suku bunga kredit akhir dapat dibandingkan dengan kredit dari bank lain karena walaupun prime rate menyertakan biaya dasar dana, overhead dan margin keuntungan, ia tidak menyertakan premi risiko dari debitur. Indikator makro- Headline indikator kehati-hatian sektor perbankan telah tetap stabil dan kuat. Rasio prudential perbankan kecukupan modal (CAR) untuk keseluruhan perbankan umum adalah 17,8 persen di tetap kuat… bulan April 2011 dan rasio kredit bermasalah kotor (gross NPL) pada 3,2 persen. Dengan pesatnya pertumbuhan kredit dibanding pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 18 persen, rasio pinjaman terhadap tabungan (LDR) telah meningkat menjadi 80 persen di bulan April. Rasio kredit terhadap simpanan (LDR) beberapa bank umum besar berada dibawah nilai minimal target BI (78 hingga 100 persen), yang berlaku sejak bulan Maret, karena mereka memilih untuk menerima sanksi aturan simpanan wajib tersebut demi mempertahankan kesehatan usaha mereka sekarang dan juga strategi perusahaan mereka. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 12 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan …walaupun terdapat Kasus penyelewengan yang baru terjadi di Citibank dan Bank Mega menyoroti suatu keprihatinan tentang rangkaian risiko operasional. BI telah memberi sanksi kepada kedua bank tersebut dan risiko operasional yang juga telah membekukan kegiatan wealth management pada 23 bank. Pembekuan itu berkaitan dengan kasus diakhiri pada awal bulan Juni yang memungkinkan beberapa bank untuk melanjutkan penyelewengan yang baru terjadi operasi, sementara yang lain dikenakan beberapa pembatasan dan ada yang operasinya tetap dibekukan sampai terjadi peningkatan sistem. Dampak risiko operasi seperti itu sesuai dengan pedoman kecukupan modal sesuai dengan Basel tampaknya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Kasus-kasus tersebut menyoroti betapa pentingnya sistem kendali internal yang kuat dan mekanisme pengawasan untuk melindungi terhadap kerugian dan potensi dampak negatif lain dalam hal nama baik bank, yang bagi bank yang tidak memiliki sumber dana yang kuat, dapat menyebabkan timbulnya risiko likuiditas. 7. Meningkatnya belanja subsidi bahan bakar dan tantangan pencairan anggaran Kinerja fiskal di tahun Tren fiskal pada lima bulan pertama tahun 2011 ditandai dengan relatif kuatnya realisasi 2011 hingga saat ini penerimaan dan lemahnya belanja program-program inti pemerintah. Peningkatan harga sangat dipengaruhi oleh minyak telah meningkatkan penerimaan yang berhubungan dengan minyak tetapi juga dampak naiknya harga diiringi oleh peningkatan pengeluaran untuk subsidi bahan bakar. Penerimaan pemerintah minyak dan masalah pencairan anggaran pusat pada lima bulan pertama tahun ini mencapai Rp 421 triliun, naik sebesar 18,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2010. Belanja mencapai Rp 364 triliun, meningkat sebesar 23,5 persen dari tahun 2010, karena realisasi subsidi energi yang lebih kuat telah menutupi lemahnya belanja inti. Sebagai akibatnya surplus fiskal pada lima bulan pertama tahun 2011 berjumlah Rp 57 triliun per akhir bulan Mei. Perkembangan harga Penerimaan pajak dan non-pajak mengalami pertumbuhan yang sama hingga bulan Mei, komoditas telah masing-masing sebesar 18,6 persen dan 17,5 persen, dibandingkan periode yang sama membantu pertumbuhan tahun 2010. Pengaruh peningkatan harga komoditas terlihat dengan jelas. Sebagai ekonomi pada lima bulan contoh, penerimaan pajak dan non-pajak minyak dan gas, dimana gas semakin pertama tahun berjalan… meningkat proporsinya, menyumbang 4 persen dari keseluruhan pertumbuhan penerimaan sebesar 18,3 persen. Pajak ekspor, walaupun hanya 3 persen dari seluruh penerimaan pada periode tersebut, hanya berkontribusi 1/5 dari pertumbuhan penerimaan dikarenakan kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO). …dan merupakan Bank Dunia memproyeksikan total penerimaan untuk tahun 2011 akan mencapai Rp penentu utama proyeksi 1.189 triliun, meningkat sebesar Rp 41 triliun dari proyeksi pada Triwulanan edisi bulan penerimaan tahun 2011… Maret 2011. Dengan tidak adanya pengumuman kebijakan penerimaan baru di tahun 2011, revisi naik atas penerimaan mencerminkan kenaikan asumsi harga minyak oleh Bank Dunia dari dari 90 dolar Amerika menjadi 105 dolar Amerika per barel.. Juga terdapat sedikit revisi naik terhadap penerimaan non-migas, karena karena pandangan yang lebih optimistik terhadap arus perdangan impor; meningkatkan bea impor. …dan juga asumsi lifting Berbalik dengan penguatan harga minyak, lifting minyak diperkirakan akan berada di volume minyak bawah asumsi anggaran awal rata-rata di atas 970.000 barel per hari untuk tahun 2011. Angka dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa rata-rata lifting dari bulan Januari hingga Maret adalah 872.000 barel per hari. Rendahnya lifting disebabkan oleh berbagai faktor seperti penghentian operasi yang tidak direncanakan, kurangnya investasi pada sektor tersebut, keterbatasan teknologi dan peralatan, buruknya cuaca dan dampak dari 1 penerapan pembatasan cabotage. Rendahnya angka lifting di tahun 2011 sejalan dengan tren penurunan umum yang ditunjukkan dalam dekade yang lalu. (Figure 15). Asumsi target lifting Pemerintah yang untuk tahun 2011 adalah 945.000 hingga 970.000 barel per hari. Dengan demikian asumsi lifting Bank Dunia untuk tahun 2011 juga disesuaikan turun ke kisaran angka tersebut, pada 952.000 barel per hari, yang merupakan angka yang diberikan oleh pemegang kontrak karya di dalam program dan anggaran kerja mereka untuk tahun berjalan (harian Jakarta Post tanggal 3 Juni 2011). Dengan adanya ketidakpastian akan tingkat ini, Tabel 4 menunjukkan analisis sensitivitas pada tingkatan tersebut. Penurunan lifting sebesar 5 persen dari asumsi ini diproyeksikan 1 “Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2012”, Kementerian Keuangan RI. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 13 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan akan menurunkan penerimaan sebesar 2 persen. Analisis s ini mengasumsikan tidak ada perubahan harga minyak dan penyederhanaan pengaturan pembagian biaya yang berlaku di sektor ini. Gambar 15: Tren turun lifting minyak Indonesia dan tren asumsi anggaran awal yang terlalu besar Tabel 4: Sensitivitas penerimaan terhadap volume lifting (lifting minyak, ribu barel per hari) minyak (perubahan proyeksi anggaran tahun 2011) WB Perbedaan lifting dari ribu barels per ribu barel per hari baseline 1,400 1,400 Juni IEQ (persen dalam baseline kurung) Actual lifting 5% 5% tinggi 1,300 1,300 rendah Initial Budget projection Total Penerimaan 1189.4 -23.5 24.2 1,200 1,200 (-2.0%) -2.00% 1. Penerimaan Pajak – 77 -3.7 3.7 1,100 1,100 Minyak dan Gas (-4.8%) -4.80% 1,000 1,000 2. Penerimaan Bukan 197.5 -19.8 20.5 Pajak – Minyak dan Gas 900 900 (-10.0%) -10.40% Asumsi Produksi minyak ('000 952 904.4 999.6 800 800 barel/hari) 2002 2004 2006 2008 2010 Harga ICP (USD/barel) 105 105 105 Sumber: Kemenkeu Sumber: Kemenkeu dan perhitungan staff Bank Dunia Belanja untuk program Jumlah belanja hanya mencapai 30 persen dari anggaran pada lima bulan pertama tahun inti tetap lemah pada lima 2011. Angka tersebut termasuk pengeluaran untuk subsidi energi yang lebih tinggi yang bulan pertama tahun didorong oleh tingginya harga minyak, sementara belanja kementerian dan lembaga (K/L) 2011… tetap lemah. Di luar subsidi energi dan transfer ke daerah, belanja pemerintah pusat hanya mencapai 23 persen dari anggaran tahunan, bisa dibandingkan dengan periode 2010. …dengan rendahnya Walaupun reformasi telah Gambar 16: Belanja subsidi menguat, tetapi realisasi belanja modal, seperti diterapkan untuk belanja modal tetap lemah … tahun yang lalu, tetapi mempercepat pencairan (realisasi persen dari anggaran dalam 5 bulan pertama) juga rendahnya belanja anggaran (lihat ulasan pada Percent Percent sosial … Triwulanan bulan Desember 60 60 2010), realisasi belanja 2008 2009 2010 2011 program inti tahun 2011 tetaplah lemah. Pencairan belanja modal, dimana 40 40 anggarannya meningkat sekitar seperempat dari tahun 2010, tetap rendah sebesar 10 20 20 persen selama lima bulan pertama. Ini merupakan tinkat pencairan terendah selama lima tahun terakhir, seperti 0 0 tingkat realisasi belanja sosial yang hanya mencapai 11 persen. Rumitnya pembebasan tanah, proses pengadaan dan anggaran yang lambat dan terbatasnya kapasitas kontraktor di Sumber: Departemen Keuangan dan perhitungan staff lapangan merupakan faktor- Bank Dunia faktor yang menyebabkan rendahnya belanja modal. Lemahnya pencairan belanja sosial mencerminkan faktor-faktor seperti rumitnya identifikasi dan verifikasi penerima manfaat, dan metode pembayaran berdasarkan klaim yang umumnya akan menumpuk di akhir tahun untuk program- THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 14 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan program seperti Jamkesmas. Kinerja belanja saat ini sekali lagi menunjukkan bahwa peningkatan alokasi anggaran saja tidak akan berhasil mencapai hasil pembangunan yang diharapkan jika kapasitas penyerapan dan pelaksanaan tidak ditingkatkan. Akan tetapi belanja untuk Peningkatan harga minyak di tahun 2011 telah meningkatkan belanja subsidi energi subsidi energi kembali selama lima bulan pertama tahun 2011. Seperti disinggung sebelumnya, harga rata-rata meningkat minyak bumi Indonesia diperkirakan 113 dolar Amerika per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar 80 dolar Amerika per barel. Pada akhir bulan Mei, subsidi energi telah mencapai 40 persen dari anggaran satu tahun. Dan jumlahnya sekitar 26 persen dari seluruh belanja tidak termasuk transfer di tahun 2011. Sebagai perbandingan saja, subsidi energi tidak termasuk transfer mencapai 20 persen dari total belanja pada 2010 dan 32 persen pada 2008. Dampak langsung dari tingginya harga minyak, biaya subsidi bahan bakar per liter meningkat, dengan harga jual Premium bersubsidi pada Rp 4.500 per liter yang hampir setengah dari harga jual Pertamax tanpa subsidi Rp 8300 per liter. Akan tetapi, tingginya pengeluaran juga disebabkan karena meningkatnya harga yang tidak disubsidi karena konsumen kembali beralih kepada bahan bakar bersubsidi. Selain itu, PLN menggunakan lebih banyak bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik pada triwulan pertama karena kelangkaan pasokan gas. Pada akhir bulan Mei, konsumsi bahan bakar bersubsidi mencapai 16,4 juta kilo liter atau 42 persen dari kuota untuk setahun. Jika tren tersebut terus berlanjut, pemerintah memproyeksikan konsumsi bahan bakar bersubsidi akan mencapai 41,3 juta kilo liter atau 7 persen di atas kuota tahunan2. Penambahan ini akan meningkatkan biaya fiskal Pemerintah dan makin memperbesar opportunity cost dari buruknya penargetan subsidi bahan bakar. Pemerintah telah kembali Tekanan bagi reformasi subsidi bahan bakar makin meningkat walaupun masih belum menunda rencana untuk ada kepastian apakah akan ada penyesuaian kebijakan, dan waktu pelaksanaannya. menerapkan reformasi Pemerintah telah kembali menunda rencana untuk membatasi konsumsi bahan bakar bahan bakar bersubsidi untuk kendaraan pribadi yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan April 2011. Mengikuti penundaan kedua dan diskusi dengan DPR di bulan Januari 2011, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membentuk suatu tim dari tiga universitas ternama (Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung) untuk menilai pilihan-pilihan dan potensi dampak sosial dan ekonomi, sebagai bahan masukan rencana implementasi di bulan April 2011. Ketiga rekomndasi yang dihasilkan oleh tim adalah kombinasi penyesuaian harga dan volume, semuanya memasukkan perbedaan harga terhadap pengguna. Pemerintah, prihatin dengan tingginya harga minyak dan tingkat inflasi, memutuskan untuk menunda reformasi tersebut. Proyeksi Bank Dunia Revisi naik asumsi Bank Dunia untuk rata-rata harga minyak bumi untuk tahun 2011 terhadap belanja menyebabkan naiknya proyeksi belanja untuk subsidi energi (untuk bahan bakar dan pemerintah tahun 2011 tenaga listrik) menjadi Rp 211,1 triliun (meningkat sebesar Rp 47,9 triliun dari proyeksi telah direvisi naik dengan Triwulanan bulan Maret 2011 dan di atas asumsi APBN sebesar Rp 187,6 triliun). Naiknya naiknya belanja subsidi bahan bakar… harga minyak juga mengakibatkan peningkatan transfer ke daearah dan belanja pendidikan (yang harus mencapai 20 persen dari jumlah belanja nasional). Kinerja belanja inti diperkirakan akan meningkat pada semester kedua tahun ini tetapi secara keseluruhan diperkirakan jumlahnya masih berada di bawah anggaran. Secara keseluruhan, jumlah pengeluaran, termasuk transfer, diperkirakan akan mencapai Rp 1.280 triliun (sekitar Rp 50 triliun di atas tingkat APBN). …dan proyeksi defisit Proyeksi Bank Dunia untuk defisit anggaran tahun 2011 telah ditingkatkan menjadi Rp Bank Dunia untuk tahun 90,9 triliun atau 1,2 persen dari PDB (Tabel 5). Peningkatan proyeksi belanja melebihi 2011 telah meningkat peningkatan penerimaan yang menyebabkan defisit naik sebesar Rp 27,2 triliun atau tetapi masih berada di 0,4 persen dari PDB dari proyeksi Triwulanan edisi bulan Maret 2011. Proyeksi defisit bawah proyeksi anggaran Pemerintah Bank Dunia itu tetap masih berada di bawah tingkat anggaran awal Pemerintah pada Rp 124,7 triliun atau 1,8 persen dari PDB. Dengan tingginya belanja subsidi energy, Menteri Keuangan sebagaimana dilaporkan oleh Media, mengindikasikan bahwa pemerintah akan meningkatkan defisit anggaran lebih dari 2 persen dalam APBN-P yang akan dibahas pada bulan Juli. 2 http://www.bisnis.com/infrastruktur/energi/27090-bph-migas-ajukan-tambahan-kuota-bbm-bersubsidi THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 15 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Posisi pembiayaan fiskal Kebutuhan pembiyaan kotor pemerintah pada 2011 diperkirakan sebesar Rp 258 trilliun. Pemerintah masih tetap Jumlah penerbitan obligasi yang dapat diperdagangkan di tahun berjalan hingga tanggal 7 kuat dengan penerbitan Juni telah mencapai Rp 98.7 triliun atau 49 persen dari target penerbitan sebesar Rp obligasi global dalam 200 triliun untuk tahun 2011. Sebagai tambahan, menurut data Bank Indonesia, mata uang dolar Amerika sebesar 2.5 miliar dolar akumulasi surplus mencapai Rp 96 trilliun walaupun pengesahan DPR diperlukan untuk dapat menggunakannya. Penerbitan surat berharga pemerintah selama kwartal pertama termasuk penerbitan obligasi global umum Indonesia untuk jangka waktu 10-tahun dalam mata uang dolar Amerika dengan nilai 2,5 miliar dolar, dengan yield sebesar 5,1 persen (dibanding yield 6,1 persen untuk penerbitan pada bulan Januari 2010). Pemerintah telah menunda rencana penerbitan obligasi samurainya di tahun 2011 karena kondisi ekonomi Jepang. Kementerian Keuangan juga telah mulai menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) untuk jangka waktu 3 bulan, dengan yield sebesar 5,185 persen. Surat ini akan memberikan suku bunga acuan bagi seri obligasi Pemerintah dengan suku bunga variabel, menggantikan Sertifikat Bank Indonesia 3-bulanan, yang penerbitannya telah dihentikan oleh Bank Indonesia di bulan November 2010. Pemerintah juga mengisyaratkan bahwa terdapat rencana untuk menerbitkan SUN untuk jangka waktu 6 dan 9 bulan. Pemerintah telah Pemerintah telah mengumumkan rancangan kerangka makro dan fiskal untuk tahun mengumumkan kerangka 2012. Defisit anggaran berada pada kisaran 1,4 hingga 1,6 persen dari PDB (turun dari makro dan fiskal untuk 1,8 persen pada APBN 2011). Pemerintah sedang membahas asumsi APBN 2012 tahun 2012 dan kini dengan DPR, tetapi media telah melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi diperkirakan sedang membahas asumsi anggarannya akan berada pada kisaran 6,6 hingga 7 persen, kurs tukar pada Rp 8.600-9.100 per dolar dengan DPR Amerika dan inflasi pada kisaran 4 hingga 5,3 persen.3 Prioritas belanja untuk tahun 2012 mencakup program sosial dan infrastruktur untuk mendukung konektivitas dalam negeri dan pembangunan koridor-koridor ekonomi seperti tercakup di dalam Masterplan yang baru diterbitkan (lihat pembahasannya di Bagian C). Usulan Pemerintah juga termasuk peningkatan target penerima manfaat subsidi seperti penerapan distribusi bahan bakar bersubsidi secara tertutup, pengurangan subsidi listrik dan peningkatan sasaran subsidi pertanian. 3 http://economy.okezone.com/read/2011/06/14/20/467996/inilah-asumsi-makro-apbn-2011 THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 16 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Tabel 5: Peningkatan subsidi bahan bakar telah mendorong revisi naik proyeksi defisit anggaran Bank Dunia tahun 2011 (triliun rupiah, kecuali dinyatakan lain) 2009 2010 2011 (p) 2011 (p) 2011 (p) WB June Revision from Mar Outcome Outcome Budget estimates* 2011 estimates* A. State revenue and grants 848.8 1,014.0 1,104.9 1,189.4 40.6 1. Tax revenue 619.9 744.1 850.3 858.6 11.8 a. Domestic tax 601.3 715.2 827.2 813.3 9.3 i. Income tax 317.6 356.6 420.5 432.3 9.0 - Oil and gas 50.0 58.9 55.6 77.0 8.7 - Non oil and gas 267.5 297.7 364.9 355.3 0.2 ii. Other domestic taxes 283.6 358.6 406.8 381.0 0.3 b. International trade tax 18.7 28.9 23.0 45.3 2.5 i. Import duties 18.1 20.0 17.9 24.5 1.6 ii.Export duties 0.6 8.9 5.1 20.7 1.0 2. Non-tax revenue 227.2 267.5 250.9 330.8 28.7 o/w natural resources 139.0 170.1 163.1 217.9 26.8 i. Oil and gas 125.8 152.7 149.3 197.5 26.6 ii. Non oil and gas 12.8 17.3 13.8 20.4 0.2 B. Expenditure 937.4 1,053.5 1,229.6 1,280.3 67.7 1. Central government 628.8 708.7 836.6 875.7 57.3 - Personnel 127.7 147.7 180.8 173.6 1.8 - Material expenditure 80.7 94.6 137.9 117.5 -6.6 - Capital expenditure 75.9 75.5 135.9 116.1 -6.1 - Interest payments 93.8 88.3 115.2 112.8 -0.8 - Subsidies 138.1 214.1 187.6 262.2 48.0 a. Energy 94.6 140.0 136.6 211.1 47.9 b. Non Energy 43.5 74.2 51.0 51.1 0.1 - Grants expenditure 0.0 0.1 0.8 0.8 0.5 - Social expenditure 73.8 68.4 63.2 61.3 0.6 - Other expenditures 38.9 20.0 15.3 31.4 20.0 2. Transfers to the regions 308.6 344.7 393.0 404.6 10.4 C. Primary balance 5.2 48.9 -9.4 21.9 -28.0 D. SURPLUS / DEFICIT (88.6) (39.5) (124.7) (90.9) (27.2) Deficit (percent of GDP) (1.6) (0.6) (1.8) (1.2) (0.4) Economic assumptions/outcomes Gross domestic product (GDP) 5,604 6,423 7,020 7,462 -13 Economic growth (per cent) 4.6 6.1 6.4 6.4 0.0 CPI (per cent) 4.8 5.1 5.3 5.9 -0.5 Exchange rate (IDR/USD) 10,356 9,074 9,250 8,713 -188 Interest rate of SBI (average %) 7.3 6.4 6.5 6.8 -0.2 Crude oil price (USD/barrel) 61.6 79.4 80.0 105 14.9 Oil production ('000 barrels/day) 950 954 970 952 -18 Catatan: *Proyeksi penerimaan Bank Dunia disusun dengan metodologi yang berbeda dengan yang digunakan oleh Pemerintah untuk mendapatkan proyeksi bagi PDB nominal (lihat pembahasan Bagian C dari Triwulan edisi Juni 2010) Sumber: Kemenkeu dan proyeksi Bank Dunia 8. Ketidakpastian membayangi outlook Serangkaian risiko Sebagaimana diulas dalam diskusi tentang perekonomian global di laporan triwulanan negatif membayangi edisi bulan Maret 2011 lalu, ketidakpastian baru mulai tampak seiring dengan prospek outlook perekonomian pertumbuhan global yang relatif menguat. Bagi Indonesia, beberapa guncangan dan keuangan global, eksternal tak berefek singifikan terhadap penurunan perekonomian domestik karena namun demikian Indonesia nampak cukup transmisi yang relatif terbatas. Sebagai contoh, efek negatif langsung pada perdagangan tangguh dalam meredam luar negri Indonesia akibat pelemahan pertumbuhan di AS dan Uni Eropa relatif kecil guncangan eksternal dirasakan dibandingkan dengan yang dirasakan oleh negara di Asia Tenggara lainnya. yang terjadi Hal ini dikarenakan mereka memliki rantai produksi yang lebih kuat dibanding Indonesia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 17 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan khususnya untuk rantai global barang-barang manufaktur. Adapun guncangan lainnya cenderung memiliki dampak yang lebih berarti. Sebagai contoh, sebuah guncangan negatif untuk investasi pembangunan di Cina dan India akan mempengaruhi permintaan ekspor komoditas Indonesia. Guncangan naik harga komoditas global, seperti dibahas pada Triwulanan sebelumnya, juga dapat menguntungkan sektor perdagangan Indonesia, tetapi, dengan sistem subsidi energi yang sekarang berlaku, Indonesia tetap memiliki risiko fiskal, dan potensi inflasi, dari dampak kenaikan harga minyak. Harga bahan pangan internasional yang lebih tinggi juga dapat mempengaruhi outlook inflasi domestik. Akhirnya, ruang untuk guncangan di pasar keuangan internasional yang dapat memicu aliran keluar modal masih tetap terbuka, terutama yang berasal dari krisis hutang zona Euro. Dapat berupa peningkatan penghindaran risiko atau, dalam hal restrukturisasi apapun, dampak kerugian pada neraca bank yang dapat mendorong penurunan pemberian hutang lebih lanjut, yang mempengaruhi aliran modal internasional ke negara- negara berkembang. Di satu sisi, pendorong pertumbuhan domestik dan neraca sektor publik dan keuangan yang kuat menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif baik untuk mengelola setiap guncangan tersebut. Di sisi lain, perkembangan terakhir domestik maupun internasional telah menyoroti karakteristik struktural tertentu, seperti sistem subsidi bahan bakar, bagian arus portofolio jangka pendek yang relatif tinggi dan dangkalnya pasar keuangan domestik, yang rentan terhadap jenis guncangan tersebut. Reformasi kebijakan jangka pendek dan menengah untuk mengatasi hal-hal itu dapat meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap guncangan-guncangan tersebut di masa depan. Secara domestik, outlook Prospek inflasi secara umum tak lepas dari gambaran ekspektasi tentang harga beras di untuk inflasi tergantung masa datang. Sementara untuk harga energi, resiko transmisi harga international yang risiko utama jangka tinggi yang berdampak kepada harga konsumen domestik sangat bergantung pada profil pendek … dan besarnya penyesuaian yang dilakukan pemerintah terhadap harga bahan bakar. Walaupun peningkatan inflasi inti hingga saat ini masih jinak, dan terutama yang didorong oleh harga emas, kewaspadaan terhadap tanda-tanda potensial terjadinya overheating tetap dibutuhkan. …resiko harga beras Harga beras Tabel 6: Dampak skenario harga eceran beras pada inflasi pada berdampak lebih kuat merupakan faktor triwulan 4/2011 kepada inflasi yang penentu penting inflasi dirasakan oleh kaum Skenario pertumbuhan harga eceran beras IHK dan inflasi miskin dibanding dengan inflasi yang dirasakan keranjang kemiskinan, Sangat Ren Baseline Kecil Besar dan adalah salah satu rendah dah secara umum sumber ketidakpastian Inflasi IHK 5,2 5,5 5,7 5,9 6,2 kunci di sekitar Perubahan perkiraan dasar. -0,5 -0,2 - 0,2 0,4 dari baseline Mengingat tingginya Inflasi kesulitan dalam keranjang 2,6 4,2 5,8 7,3 8,8 memperkirakan harga kemiskinan beras karena Perubahan -3,1 -1,5 - 1,5 3,0 dari baseline ketidakpastian atas kualitas panen dalam Memo: negeri, kondisi cuaca Pertumbuhan dan volume impor, harga eceran -8,2 -1,5 5,4 12,5 19,9 dapat dievaluasi beras Triwulan 4/2011 berbagai skenario - pertumbuhan harga beras. Catatan: Inflasi adalah inflasi tahun-ke-tahun pada Triwulan 4 2011. Baseline mengasumsikan pertumbuhan harga eceran beras pada triwulan 3 dan 4 sejalan dengan rata-rata dekade yang lalu Tabel 6 menyajikan (naik 5 persen tahun-ke-tahun). Skenario rendah dan kecil dampak terhadap memiliki laju pertumbuhan pada +/- 1 deviasi standar dari mean inflasi headline dan tersebut dan sangat besar dan rendah pada +/- 2 deviasi standar inflasi keranjang Sumber: Proyeksi Bank Dunia kemiskinan pada triwulan keempat tahun 2011 menurut sejumlah skenario untuk pertumbuhan harga eceran beras hingga akhir tahun, berdasarkan catatan pertumbuhan harga beras di triwulan tiga dan empat. Secara umum, dua-pertiga dari waktu, pertumbuhan harga beras THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 18 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan eceran biasanya akan terletak di antara skenario rendah dan kecil dan kemungkinan terjadinya skenario yang ekstrim hanya sekitar 5 persen. Lintasan menuju skenario yang tinggi tersebut akan serupa dengan peningkatan yang terjadi pada tahun 2006, dan peningkatan yang sedikit lebih rendah pada tahun 2010. Hasilnya jelas menunjukkan adanya sensitivitas outlook inflasi terhadap variabilitas harga beras dan kenyataan bahwa dampak terbesar terutama terjadi inflasi keranjang kemiskinan di mana beras adalah sekitar seperlima dari keseluruhan keranjang, sementara pada keranjang IHK besarnya hanyalah empat persen. Harga minyak yang tinggi Posisi fiskal saat ini dirasakan cukup kuat dengan tingkat hutang dan konservative budget dan tak bisa diprediksi defisit yang rendah. Akan tetapi, dirasakan juga kemungkinan risiko disisi penerimaan dan juga mengandung risiko belanja. Meningkatnya belanja fiskal dan biaya kesempatan (opportunity cost) akibat fiskal dan opportunity status quo-nya kebijakan subsidi kemungkinan dapat terabaikan dengan adanya kondisi cost pencairan dana yang masih lambat (baik belanja modal dan bagi program-program lain seperti BOS). Menurunnya lifting minyak hingga akhir tahun menambah risiko penurunan di sisi penerimaan, dibanding peningkatan penerimaan jika harga minyak makin meningkat. Risiko-risiko utama Risko jangka menengah mengelilingi aspirasi pertumbuhan dalam RPJMN dan target jangka menengah terus jangka panjang dari Masterplan tentang penempatan prioritas, koordinasi dan mengikuti penerapan pelaksanaan kebijakan dan investasi infrastruktur publik yang dapat membantu untuk kebijakan dan investasi mendorong tingkat dan jenis investasi swasta yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dibutuhkan untuk meningkatkan tersebut. Kunci untuk membuka simpul hambatan reformasi seperti UU pembebasan pertumbuhan di masa tanah, sangat diperlukan baik untuk fungsi mereka sendiri dan sebagai pemberian sinyal. depan Mengingat sifat lintas-sektor dari sebagian besar kendala pertumbuhan tersebut, tidak ada upaya yang menjadi satu-satunya solusi dan kemajuan dalam beragam bidang akan mendukung pencapaian target pertumbuhan yang ambisius tersebut. Memenuhi sasaran Pemerintah untuk pertumbuhan yang luas dan berkelanjutan juga akan membutuhkan investasi dalam jaminan sosial, pendidikan dan kesehatan, bersama-sama dengan penggunaan sumberdaya alam Indonesia yang berkelanjutan. Jika tantangan-tantangan ini dapat ditangani maka Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pendorong pertumbuhan utama untuk beberapa dekade berikutnya (Kotak 2). THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 19 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Kotak 2: Potensi Indonesia dalam perkembangan dunia yang multi-poros Bagaimana sistem ekonomi dan keuangan dunia akan berubah selama bertahun-tahun hingga tahun 2025? Pertanyaan itu dibahas pada laporan Bank Dunia terakhir dengan judul Global Development Horizons 2011, Multipolarity: The New Global Economy. Hasil analisis menemukan bahwa suatu orde eonomi global baru sedang terbentuk dengan keseimbangan pertumbuhan global bergeser dari negara-negara maju ke ekonomi berkembang seperti Indonesia. Dalam dunia multi-poros yang baru ini terdapat lebih dari dua poros pertumbuhan dunia, yaitu negara-negara yang mendorong pertumbuhan dunia karena ukurannya, dinamikanya dan hubungannya dengan negara-negara lain di dunia. Laporan itu memperkirakan bahwa Amerika Serikat, daerah Euro dan Cina akan menjadi tiga kutub pertumbuhan pada tahun 2025, yang memberikan dorongan kepada negara-negara lain, termasuk Indonesia, melalui saluran perdagangan, keuangan dan teknologi. Negara-negara berkembang lain juga akan tumbuh sebagai kutub pertumbuhan utama, yang mencerminkan pertumbuhan mereka yang relatif kuat. Antara tahun 2011 dan 2025 negara-negara berkembang akan meningkat sebesar rata-rata 4,7 persen per tahun, sementara negara-negara maju hanya tumbuh 2,3 persen per tahun. Hasil analisis tersebut menyoroti potensi Indonesia untuk bergabung dengan poros pertumbuhan global utama, walaupun dibutuhkan kerja keras untuk mencapai posisi tersebut. Analisis menyebutkan pencapaian itu akan bergantung pada keberhasilan kebijakan dan investasi untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan selama periode tersebut. Jika hal ini dapat tercapai, maka pada tahun 2025, Indonesia dapat menjadi salah satu dari enam ekonomi berkembang yang menghasilkan setengah output dunia, bersama-sama dengan Brasil, Cina, India, Korea dan Rusia. Sesuai skenario ini, bagian dari pertumbuhan global Indonesia di tahun 2025 akan berkisar 2,8 persen (Gambar 18), di depan Brasil dan Rusia. Angka itu berarti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 4,1 triliun dolar Amerika secara nominal pada tahun 2025 (Gambar 19) dan PDB per kapita akan dua kali lipat lebih besar secara riil dari nilai sekarang. Gambar 17: Indonesia dapat menjadi Gambar 18: …dan berpotensi menjadi salah pendorong pertumbuhan global pada tahun satu negara berkembang terbesar 2025… (lintasan PDB nominal, 2009–25) (bagian kontribusi pertumbuhan global, 2021–25) Persen Persen Triliun US$ Triliun US$ 40 40 5 5 30 30 4 4 Korea 20 20 3 3 10 10 2 2 2.8 Meksiko Turki 0 0 1 1 China India Indonesia Russia Australia USA Japan Korea UK Brazil Euro area Canada Indonesia Malaysia 0 0 2009 2013 2017 2021 2025 Sumber: Bank Dunia (2011), Global Sumber: Bank Dunia (2011), Global Development Horizons Development Horizons Catatan: Kotak ini menggunakan laporan Bank Dunia (2011), Global Development Horizons THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 20 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan B. PERKEMBANGAN TERBARU PEREKONOMIAN INDONESIA 1. ASEAN 2011: Kepemimpinan Indonesia Indonesia dapat Sebagai Ketua ASEAN untuk tahun 2011, kini Indonesia memiliki peran utama untuk memainkan peran yang 4 membentuk program kerja masa depan kelompok sepuluh negara Asia Tenggara ini. Apa penting dalam saja tujuan ekonomi ASEAN, ukuran ekonominya dan apa sasaran Indonesia selama membentuk agenda masa tahun kepemimpinannya? Setelah rapat Pimpinan ASEAN pertama tahun ini di Jakarta depan ASEAN dengan kedudukannya sebagai pada awal bulan Mei, bagian ini memberikan ulasan singkat dari masalah-masalah ketua di tahun 2011 tersebut. a. Indonesia dan ASEAN ASEAN adalah kelompok Setelah pendiriannya dengan Deklarasi Bangkok pada tahun 1967, empat dekade terakhir yang beraneka-ragam… kerjasama regional dalam ASEAN tidaklah selalu mulus. ASEAN merupakan wilayah dengan ekonomi, politik, keragaman sosial budaya yang signifikan. Keanekaragaman yang telah menghasilkan suatu bentuk kerjasama dan diplomasi ASEAN yang - menurut suatu penelitian ADB baru-baru ini oleh Hill & Memon – memiliki ciri sikap hati-hati, pragmatisme dan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah. “ASEAN Way” ini dapat membatasi kecepatan dan pengambilan keputusan tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebijakan yang inklusif. Namun demikian, kemunculan negara-negara berkembang utama, seperti Cina dan India dalam beberapa tahun terakhir, telah memberikan dorongan tambahan bagi ASEAN untuk menciptakan pengelompokan wilayah yang lebih kuat, lebih bersatu dan kohesif untuk bertindak baik sebagai mitra dan sebagai penyeimbang kedua kekuatan ekonomi tersebut. …yang mana Indonesia Sebagai populasi dan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki modal yang unik memiliki peran yang unik untuk memimpin ASEAN dan mewakili ASEAN dalam forum Internasional. Sebagai contoh, sebagai satu-satunya ekonomi ASEAN yang juga sebagai anggota G20, Indonesia dapat memainkan peran penting sebagai suara global untuk wilayahnya, bekerja sama dengan Ketua ASEAN, yang berganti setiap tahun, dan Sekretaris Jenderal. Indonesia juga dapat menggunakan ASEAN sebagai alat untuk memajukan kepentingannya internasionalnya. Ketika kepentingan-kepentingan tersebut selaras dengan kepentingan kelompok ASEAN yang lebih luas, Indonesia dapat memanfaatkan pengaruh mereka untuk kemitraan yang lebih efektif dengan negara besar lainnya, seperti Cina, India, Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini dapat terlaksana melalui ASEAN atau "lingkaran konsentris" yang lain dari regionalisme Asia Timur seperti ASEAN+3 yang meliputi Jepang, Cina dan Korea Selatan atau East Asia Summit (EAS) yang juga antara lain menyertakan India, AS dan Rusia.5 b. ASEAN dan integrasi ekonomi wilayah Asia Timur Langkah menuju integrasi Langkah-langkah yang cukup besar terlihat pada dekade terakhir untuk memperkuat ekonomi ASEAN struktur kelembagaan ASEAN, termasuk penandatanganan Piagam ASEAN, Roadmap ditetapkan dalam untuk Masyarakat ASEAN tahun 2009-2015 dan Blueprint Komunitas ASEAN. Komunitas serangkaian deklarasi ASEAN terdiri dari tiga pilar: politik-keamanan, ekonomi dan sosial budaya. Masyarakat formal Ekonomi ASEAN (AEC) merupakan komitmen yang ambisius para anggota ASEAN untuk membentuk pasar dan basis produksi tunggal, dengan aliran bebas barang-barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja yang terampil pada tahun 2015. Pada gilirannya, AEC didefinisikan oleh tiga Skema Integrasi ASEAN: perdagangan, investasi dan jasa. Meskipun perkembangan ini telah memperkuat kelembagaan ASEAN, Hill & Memon (2010) mencatat bahwa kelompok ini telah membuat kemajuan yang relatif kurang untuk menjadi kesatuan ekonomi formal dan mencatat bahwa ASEAN tetap menjadi suatu wilayah dengan pengaturan perdagangan yang preferensial, sementara para anggota masih mempertahankan struktur ekonomi dan perdagangan mereka sendiri yang sangat berbeda. 4 Association of South-East Asian Nations (ASEAN) terdiri dari : Brunei Darussalam; Kamboja; Indonesia; Laos; Malaysia; Myanmar; Filipina; Singapura; Thailand; dan Vietnam. Rincian lebih lanjut akan sejarah dan program kerja ASEAN dapat ditemukan pada http://www.aseansec.org/. 5 Kelompok ASEAN+3 didirikan pada tahun 1998. Awalnya EAS terdiri dari 13 ASEAN+3, dengan Australia, India dan Selandia Baru. Di tahun 2011, keanggotaan EAS ditambah menjadi 18 negara, dengan AS dan Rusia bergabung dengan EAS sebagai anggota penuh. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 21 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Integrasi ekonomi ASEAN Melalui kombinasi ASEAN, ASEAN +3 dan EAS, integrasi ekonomi Asia Timur telah menekankan pada berkembang seiring tiga kategori besar: perdagangan; pembiayaan krisis; dan masalah pengembangan pengembangan pasar keuangan. Integrasi perdagangan dan investasi telah berkembang perdagangan, melalui serangkaian perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang terkait, tetapi kadang pengawasan dan mitigasi krisis, dan pasar terpecah-pecah. Dengan ASEAN FTA (AFTA) sebagai dasarnya, ASEAN ingin keuangan melakukan liberalisasi perdagangan dengan serangkaian mitra dagang utama melalui FTA ‘ASEAN+1’. Kesepakatan ini memungkinkan para anggota ASEAN untuk melakukan negosiasi sebagai suatu blok, meningkatkan daya tawar mereka. FTA Asia Timur yang lebih luas juga turut diteliti, termasuk FTA untuk pengelompokan ASEAN +3 dan satu untuk kelompok East Asia Summit. Para FTA yang lebih luas ini dapat menghasilkan manfaat strategis yang cukup besar dan dapat digunakan untuk membantu merasionalisasi jaringan FTA yang telah ada. Prakarsa Chiang Mai Mungkin isu yang paling kuat menyatukan regionalisme Asia Timur adalah pengawasan muncul untuk dan mitigasi krisis. Setelah pembentukan kelompok ASEAN+3 setelah krisis keuangan menyediakan pembiayaan Asia, pada bulan Mei 2000 kelompok itu mendirikan Chiang Mai Initiative (CMI). Awalnya krisis regional dari adalah serangkaian swap valuta bilateral antara perekonomian ASEAN+3 dengan jumlah pengalaman krisis keuangan Asia 24,5 miliar dolar Amerika, dan setelah berjalan 11 tahun, CMI telah berkembang menjadi suatu himpunan krisis pembiayaan multilateral, senilai lebih dari 120 miliar dolar Amerika pada tahun 2010.6 CMI belum pernah diuji sehingga efektivitas dan ketegasannya dalam menghadapi krisis ekonomi atau keuangan belum diketahui. Sebagai tanggapan, disepakati untuk mendirikan Kantor Pemantauan Regional Ekonomi Makro ASEAN+3 (AMRO) untuk memberikan analisis dan pengujian stress bagi perekonomian ASEAN +3 dengan tujuan untuk memberikan kontribusi bagi deteksi dini risiko, implementasi tindakan perbaikan yang cepat, dan pengambilan keputusan yang efektif untuk pencairan CMI dalam hal terjadinya krisis. Serangkaian upaya telah Dalam rangka memberikan sumber dana yang lebih terdiversifikasi untuk dunia usaha, diajukan untuk pengembangan pasar obligasi regional di dalam Asia Timur telah menerima banyak mengembangkan pasar perhatian. Sebagai contoh, pada sisi permintaan, Asian Bond Fund, yang merupakan obligasi prakarsa dari bank-bank sentral Asia Timur dan Pasifik, dirancang untuk menginvestasikan portofolio himpunan cadangan internasional ke dolar Amerika dan obligasi negara dan kuasi-negara dalam mata uang lokal. Prakarsa Asian Bond Market, suatu prakarsa ASEAN+3, menekankan pada masalah sisi penawaran seperti instrumen hutang sekuritas yang baru, mekanisme jaminan kredit, proses penyelesaian, pengembangkan lembaga pemeringkat daerah dan lokal dll. ASEAN+3 Bond Market Forum juga mengamati isu-isu kelembagaan, menyediakan platform bersama untuk mendorong standardisasi praktik pasar dan harmonisasi peraturan yang berkaitan dengan transaksi obligasi lintas batas di wilayah tersebut. Meskipun terdapat prakarsa ini, ukuran pasar obligasi regional relatif terhadap PDB tidak banyak berubah dibanding satu dekade lalu. Akan tetapi, menurut makalah terakhir dari IMF, perkembangan kelembagaan pasar dan kuatnya ketertarikan investor asing, akan menempatkan pasar pada posisi untuk 7 berkembang pesat dalam dekade berikutnya. c. Peningkatan Ekonomi ASEAN ASEAN mewakili wilayah Dinamika ekonomi di dalam kelompok ASEAN berpotensi untuk mendampingi Cina dan ekonomi yang besar dan India sebagai pendorong ekonomi global pada dekade yang akan datang. Menurut jumlah berkembang pesat... populasinya, ASEAN berukuran sekitar setengah dari Cina dan India. Ukuran ekonominya dihitung dalam PDB dolar Amerika di tahun 2009, sekitar sepertiga ukuran PDB Cina dan seperlima lebih besar dari India. Sebagai perbandingan, jumlah penduduk ASEAN dua kali lipat dari penduduk Amerika Serikat, dan sekitar 20 persen lebih besar dari EU-27 – tetapi ukuran ekonominya hanya sekitar sepersepuluh dari keduanya. 6 Lihat http://www.adb.org/Documents/ERD/Working_Papers/wp006.pdf dan http://www.asean.org/24433.htm untuk rinciannya. 7 Feldman, J. et al. (2011) “ASEAN5 Bond Market Development: Where Does it Stand? Where is it Going?” IMF Working Paper. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 22 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan …yang ukurannya Melihat ke depan, ukuran relatif pasar ASEAN akan siap berkembang. Menurut diperkirakan akan perhitungan PBB, penduduk ASEAN diperkirakan akan meningkat di atas 16 persen meningkat relatif antara tahun 2009 dan 2025. Sebagai perbandingan, jumlah penduduk negara-negara terhadap ekonomi utama maju dan penduduk Cina diperkirakan akan tumbuh kurang dari 5 persen pada periode lainnya pada 15 tahun yang akan datang tersebut. Mengenai ukuran ekonomi, gabungan ekonomi Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand akan meningkat lebih dari dua kali lipat secara riil pada periode 2009 hingga 2025 (Bank Dunia, Global Development Horizons, 2011). Peningkatan ini merupakan tiga kali lipat lebih tinggi dari Cina dan 2,5 kali dari India, dan jauh lebih tinggi dari peningkatan sepertiga dari Amerika Serikat dan setengah dari zona Euro. Dinamika pasar domestik ASEAN dapat menjadi kesempatan yang besar bagi kelompok negara itu untuk mendapatkan pengaruh dan pengakuan yang lebih besar dari panggung internasional. Terdapat peningkatan Dekade yang lalu terjadi penguatan bertahap pada integrasi dalam wilayah ASEAN pada bertahap dalam aliran serangkaian pengukuran. Total perdagangan ASEAN mencapai 1,5 triliun dolar Amerika perdagangan dalam di tahun 2009, dengan perdagangan di dalam ASEAN mencapai 25 persen. Angka ini wilayah ASEAN dan lebih tinggi dari 22 persen di tahun 2000, tetapi sebagai pembanding, angka itu relatif peningkatan PMA yang cukup besar rendah dibanding laju di dalam pasar gabungan ekonomi Uni Eropa, yang mana sekitar 70 persen perdagangan adalah di dalam wilayah itu sendiri. Sementara itu, aliran masuk PMA dalam wilayah telah meningkat pesat sejak tahun 2000, sebesar 3 persen dari jumlah aliran masuk PMA ke 20 persen pada tahun 2008. d. Prioritas Indonesia bagi ASEAN Indonesia ingin memulai Sebuah platform kunci untuk Kepemimpinan Indonesia tahun 2011 adalah keinginan pembahasan tentang untuk memulai diskusi tentang visi ASEAN pasca 2015. Setelah pertemuan bulan Mei di bentuk ASEAN pasca Jakarta, para pemimpin ASEAN mengindikasikan bahwa pada tahun 2022, ASEAN akan tahun 2015 dan juga telah berusaha untuk mencapai “posisi ASEAN lebih terkoordinasi, terpadu dan koheren pada mendahulukan kemajuan dalam konektivitas, isu-isu global”. Kerangka kerja tersebut dapat berharga dengan ASEAN berusaha untuk ketahanan pangan dan meningkatkan pengaruhnya di isu-isu regional maupun global. Indonesia juga jaminan energi menekankan pada diskusi ASEAN tentang kemajuan pada konektivitas, ketahanan pangan dan jaminan energi. Hal-hal yang mendapat prioritas tersebut konsisten dengan prioritas kebijakan domestik Indonesia, seperti yang terlihat dalam Masterplan Pemerintah yang baru diluncurkan (lihat Bagian C). Bagi Indonesia, meningkatkan konektivitas tetap menjadi isu penting untuk meningkatkan daya saing ASEAN secara keseluruhan karena kelompok itu adalah suatu wilayah kepulauan yang beragam. Sementara itu peningkatan pesat dalam harga bahan pangan global dan energi sejak pertengahan tahun 2010 sekali lagi telah memberikan tekanan pada rumah tangga miskin di Asia Timur, dan merupakan risiko yang signifikan terhadap ruang fiskal bagi banyak pemerintahan ASEAN. Jika dilaksanakan, kerjasama dalam isu-isu ini dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi ASEAN. Namun, implementasi dari perjanjian tersebut akan membutuhkan waktu, usaha, dan kemauan politik yang cukup besar dari masing-masing anggota ASEAN. Para pemimpin setuju Dalam konektivitas, para pemimpin ASEAN di Jakarta menyerukan kepada Komite untuk mempercepat Koordinasi Konektivitas ASEAN dan Koordinator Nasional Konektivitas ASEAN yang baru penerapan Masterplan dibentuk untuk mempercepat pelaksanaan Masterplan Konektivitas ASEAN. untuk Konektivitas Ditandatangani pada bulan Oktober 2010, Masterplan tersebut menyediakan kerangka ASEAN... kerja yang komprehensif untuk memajukan hubungan regional melalui peningkatan perdagangan, investasi, pariwisata dan pertukaran antar orang, dan mencakup baik faktor fisik maupun kelembagaan konektivitas. …untuk mendirikan suatu Masalah ketahanan pangan di ASEAN sudah berjalan sejak penandatanganan Cadangan Kerangka Jaminan Bahan Jaminan Pangan ASEAN pada tahun 1979. Kemajuan dalam masalah ini secara historis Pangan Terpadu… berjalan lambat, tapi perjanjian baru dapat menyegarkan kembali kerjasama regional ini. Pada pertemuan di Jakarta, para pemimpin ASEAN sepakat untuk membentuk Kerangka Jaminan Bahan Pangan Terpadu, yang terdiri dari Rencana Strategis ASEAN untuk Aksi Ketahanan Pangan (2009-2013) dan ASEAN+3 Cadangan Beras Darurat (APTERR), yang dijadwalkan untuk ditandatangani pada akhir tahun 2011. Rencana Strategis Aksi Ketahanan Pangan adalah suatu kerangka kerja multi-aspek yang meliputi isu-isu seperti memperkuat program jaminan bahan pangan nasional dan mendorong perdagangan yang tidak membeda-bedakan. Termasuk didalamnya upaya sisi penawaran seperti mendorong riset dan pengembangan yang lebih besar, investasi dalam industri pangan dan pertanian, mendorong transfer teknologi dan investasi dalam infrastruktur pertanian. Hal ini juga bertujuan untuk mendorong pemantauan ketahanan pangan dan untuk THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 23 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan membantu dalam penargetan bantuan bila goncangan bahan pangan terjadi. Sementara itu, APTERR diharapkan untuk menyediakan cadangan beras - terutama dari Jepang, Cina dan Korea - untuk membantu menjamin stabilitas pasokan bahan pangan untuk ASEAN, dalam hal terjadi kelangkaan atau krisis pangan. …dan telah memberikan Untuk jaminan energi, para pemimpin ASEAN menyepakati bahwa upaya-upaya lebih penekanan yang baru lanjut diperlukan untuk mempercepat pelaksanaan Rencana Aksi ASEAN untuk untuk solusi jaminan Kerjasama Energi tahun 2010-2015 (APEAC). Meskipun telah terdapat berbagai energi wilayah. pencapaian positif di bawah APEAC sebelumnya - seperti pendirian Jaringan Listrik ASEAN dan Pipa Gas Trans-ASEAN – perlu ditekankan bahwa terdapat kebutuhan untuk mempercepat kerjasama untuk memastikan jaminan dan keberlanjutan energi yang lebih besar, misalnya melalui peningkatan transfer teknologi. Juga perlu ditekankan bahwa kerjasama harus ditingkatkan untuk pengembangan energi alternatif dan terbarukan, termasuk tenaga air, panas bumi dan bahan bakar bio. Apa yang perlu dilakukan Membuat kemajuan pada masalah-masalah tersebut, dan mengedepankan pandangan ASEAN untuk membuat ASEAN dalam forum-forum global, akan membutuhkan komitmen dan koordinasi yang sesuatu yang berarti di berkelanjutan dari para anggota ASEAN. Secara khusus, ASEAN harus bekerja keras bidang-bidang tersebut? untuk mempertahankan kemajuan melalui rotasi tahunan Ketua, yang akan diteruskan ke Kamboja pada tahun 2012. Pada integrasi ekonomi, salah satu alat yang jelas bagi para anggota untuk menunjukkan komitmen mereka adalah dengan mengatasi masalah integrasi yang ada sesuai dengan Scorecard Ekonomi ASEAN, yang mengukur kemajuan setiap anggota dalam mencapai prioritas integrasi yang telah disepakati bersama. Akhirnya, untuk memastikan konsistensi antara mekanisme nasional, wilayah dan dunia, ASEAN dapat terus mengembangkan suara yang terkoordinasi. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa kepentingan anggota ASEAN mendapatkan perhatian selama perubahan yang sedang berlangsung di dalam arsitektur ekonomi dan keuangan global. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 24 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan 2. Kebangkitan penanaman modal asing (PMA) di Indonesia? Indonesia mencatat arus Aliran masuk dana ke Indonesia belakangan ini didorong oleh aliran portofolio dan masuk PMA tertinggi Penanaman Modal Asing (PMA). Aliran PMA bersih ke Indonesia mencapai 4,5 miliar pada beberapa triwulan dolar Amerika pada triwulan pertama tahun 2011 (Gambar 19), triwulan yang mencatat terakhir... aliran tertinggi sejak tahun 2004. Sebelumnya, jumlah aliran modal masuk sebesar 13,3 miliar dolar Amerika terjadi di tahun 2010, yang juga merupakan salah satu nilai tertinggi. Data-data terakhir tersebut, bersamaan dengan makin meratanya penyebaran PMA di berbagai sektor, meningkatkan harapan akan tren kebangkitan kembali aliran PMA - yang selama ini cukup lemah – yang dapat turut serta menjadi pendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi selanjutnya. …yang memiliki potensi PMA memiliki potensi untuk memberikan manfaat yang penting dalam untuk mendorong perekonomian.Sebagai contoh, PMA dapat membantu memenuhi kebutuhan Indonesia pertumbuhan Indonesia akan investasi yang lebih besar untuk tercapainya sasaran pembangunan ekonomi dan melalui investasi pengentasan kemiskinan. Masterplan tahun 2011-2025 yang baru saja diluncurkan oleh pendanaan dan melalui saluran-saluran lain Pemerintah (lihat bagian berikut) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) seperti transfer teknologi paham benar akan kebutuhan tersebut; di mana RPJM menargetkan pertumbuhan dan hubungannya investasi riil tahunan yang lebih tinggi ke tingkat 11,7-12,1 persen pada tahun 2014. dengan jaringan pasokan Relatif rendahnya tingkat simpanan dan tipisnya pasar keuangan Indonesia menunjukkan global bahwa pemenuhan menggunakan sumber-sumber dalam negri saja tampak sulit untuk pemenuhan kebutuhan investasi yang sangat tinggi (lihat, sebagai contoh, tulisan Silmy Karim dari Universitas Paramadina, pada harian Jakarta Post, dengan judul “Assessing Benefits of PMA to the Nation”, bulan November 2010). PMA juga dapat mempunya manfaat yang lain, yang dapat melebihi manfaat langsung dari tambahan pendanaan untuk investasi. Sesuai dengan sifatnya, PMA juga bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi karena PMA memperkenal negara penerimanya dengan proses bisnis, sistem, praktik manajemen dan teknologi yang baru, sekaligus juga menjadi media penghubung ke pasar-pasar ekspor dan rantai pasokan international. PMA juga dapat membawa pekerjaan dalam bidang produksi dan manajemen. Sementara manfaat non-keuangan PMA tidak secara langsung bisa dinikmati, terdapat banyak contoh tentang bagaimana investasi oleh perusahaan asing telah mempelopori pertumbuhan industri dalam negeri, seperti tekstil dan pakaian di Bangladesh, perangkat lunak di Costa Rica dan sektor elektronik di daerah pantai di Cina. Dalam bagian ini, kami mencoba untuk memberikan ikhtisar akan tren-tren terakhir PMA ke Indonesia dan menguraikan beberapa pendorong utamanya. Bagian ini juga menyoroti cakupan dari upaya kebijakan dalam negeri, sebagai contoh, untuk meningkatkan konektivitas, iklim investasi dan keterampilan, yang tidak hanya dapat secara langsung meningkatkan prospek pertumbuhan tetapi juga dapat menarik PMA yang lain, sehingga dapat menciptakan suatu lingkaran peningkatan PMA dan pendapatan dalam negeri yang bijak. a. Pola PMA ke Indonesia telah mengalami perubahan pada tahun-tahun terakhir Tren peningkatan PMA Tren peningkatan PMA ke Indonesia dapat dilihat melalui dua sumber data utama, yaitu dilihat dari dua sumber dari data Neraca Pembayaran Bank Indonesia (BI) dan data dari Badan Koordinasi data yang berbeda … Penanaman Modal (BKPM) (Kotak 3). Kecuali dinyatakan lain, pembahasan di bawah adalah mengenai tren-tren pada aliran bersih PMA ke Indonesia, seperti nilai bersih aliran PMA ke Indonesia dari investor asing setelah repatriasi modal tersebut oleh para investor, seperti diukur oleh data Neraca Pembayaran BI. …juga menyoroti Dengan tren meningkatnya PMA, komposisinya telah bergeser melewati beberapa pergeseran komposisi dimensi seperti jenis aliran modal yang masuk, sumber dan sektor dan daerah tujuannya. PMA melewati beberapa Sebagai contoh, walaupun modal saham langsung merupakan tiga per empat dari seluruh sudut pandang PMA pada empat tahun terakhir, pada tahun 2010 terdapat peningkatan kontribusi dari pendapatan yang ditanamkan kembali dan aliran masuk hutang yang tampaknya mencerminkan kuatnya pertumbuhan dalam negeri Indonesia dan pemulihan kondisi ekonomi dan keuangan dunia. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 25 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Aliran PMA kini Data BI menunjukkan bahwa aliran masuk PMA per negara asal kini didominasi oleh didominasi oleh aliran aliran masuk dari Jepang dan Singapura, sementara aliran masuk dari Amerika Serikat dari Jepang dan baru-baru ini menunjukkan tren yang menurun (Tabel 7). Akan tetapi, peningkatan pada Singapura… sumber PMA regional, terutama dari Singapura, mungkin mencerminkan sebagian perubahan dalam praktik usaha dengan perusahaan multinasional memilih untuk menanamkan modalnya di Indonesia melalui perusahaan afiliasi berbasis regional, dan bukan investasi langsung dari perusahaan induk, yang disebabkan oleh pengaturan pajak dan undang-undang, atau karena perubahan dalam strategi perusahaan. Gambar 19: Tren meningkatnya aliran PMA ke Tabel 7: Aliran PMA regional menjadi makin penting Indonesia (bagian total aliran masuk PMA per negara asal, persen) (miliar dolar Amerika) miliar USD miliar USD 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 5 5 Quarterly net FDI inflows Jepang -1,6 18,5 21,5 16,3 12,3 18,4 28,0 4-quarter rolling average AS -27,6 41,3 -11,2 15,8 11,2 3,3 4,3 4 4 Erope 82,5 19,0 41,0 37,8 21,1 13,8 2,1 3 3 Cina 15,5 3,6 2,5 1,7 5,7 7,3 2,7 Korea 12,1 2,9 6,5 3,6 2,0 1,6 2,6 2 2 ASEAN 10,8 10,6 27,5 16,0 36,5 28,3 44,4 Malaysia 6,4 1,7 5,6 3,3 10,9 6,4 2,6 1 1 Singapura 4,4 8,9 21,9 12,1 24,7 20,8 41,2 0 0 Lainnya 8,3 4,2 12,1 8,8 11,3 27,3 16,0 Total 100 100 100 100 100 100 100 Sumber: BI dan staf Bank Dunia Sumber: BI dan staf Bank Dunia Manufaktur masih Melihat pada komposisi sektoral dengan menggunakan data BI, PMA mengalir masuk menjadi sektor utama menuju empat sektor utama (Tabel 8). Manufaktur tetap menjadi tujuan utama aliran bagi aliran masuk PMA, masuk PMA, relatif stabil dengan ukuran sekitar sepertiga dari keseluruhan. Seperti juga sementara sektor jasa keseluruhan aliran masuk PMA, sumber PMA kepada sektor manufaktur juga telah makin meningkat bergeser pada beberapa tahun terakhir. Aliran masuk kini didorong oleh investasi dari Jepang dan ASEAN, sementara sebelumnya aliran PMA yang kuat kepada sektor manufaktur lebih banyak didorong oleh investasi dari Uni Eropa (EU). Aliran masuk ke sektor penggalian dan pertambangan meningkat cukup besar sebelum penurunan global tahun 2008/09, dengan mayoritas aliran berasal dari Amerika Serikat (AS). Setelah mengalami penurunan paling banyak dibanding sektor-sektor lain selama krisis, aliran masuk ke sektor itu telah kembali ke tingkat sebelum krisis tetapi kini sumber alirannya relatif setara antara AS, EU, Korea dan Cina. Porsi sektor perdagangan kulakan dan eceran dan sektor jasa lainnya, seperti transportasi dan telekomunikasi, juga mengalami peningkatan dibanding total PMA. Sebaliknya, PMA ke sektor keuangan telah mengalami penurunan besar selama krisis global dan masih belum sepenuhnya pulih. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 26 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Kotak 3: Sumber-sumber data yang berbeda mengenai aliran masuk PMA ke Indonesia Terdapat dua sumber data yang umumnya digunakan untuk Gambar 20: Rangkaian data BKPM dan Neraca Pembayaran menganalisis tren PMA ke Indonesia. Yang pertama adalah mengikuti tren yang sama tetapi dengan perbedaan yang data Neraca Pembayaran BI. Yang kedua adalah data signifikan realisasi PMA dari BKPM. Sementara kedua sumber data (miliar dolar Amerika) menampilkan tren yang umumnya serupa, perbedaan miliar USD miliar USD metodologi dari keduanya menunjukkan beberapa perbedaan 20 20 yang signifikan (Gambar 20). Realisasi PMA dari BKPM 15 15 Penyebab utama dari perbedaan itu terletak pada pengelompokkan PMA. Sesuai dengan panduan Neraca Pembayaran IMF, data dari BI memandang bahwa “investasi 10 10 langsung adalah kelompok investasi lintas perbatasan yang berkaitan dengan penduduk di suatu ekonomi yang 5 5 mengendalikan atau memiliki tingkat pengaruh yang signifikan pada manajemen suatu perusahaan yang berada pada ekonomi yang lain”. Dengan demikian, suatu investasi 0 0 pada suatu perusahaan Indonesia oleh seorang investor asing dicatat sebagai PMA jika investasi itu meningkatkan -5 -5 kendali atau pengaruh, baik melalui hutang, saham (yang Aliran masuk bersih PMA dari Neraca Pembayaran BI melebihi 10 persen dari total saham), pendapatan yang ditanamkan kembali atau investasi balik. Sebaliknya, data -10 -10 BKPM menghitung suatu proyek investasi sebagai PMA bila 1990 1994 1998 2002 2006 2010 proyek itu memiliki bagian pendanaan yang berasal dari penduduk asing, berapapun besar investasinya. Selain itu, Sumber: Bank Indonesia dan BKPM untuk proyek joint venture apapun yang menyertakan investasi dalam dan luar negeri, keseluruhan nilai proyek akan dihitung sebagai PMA. Hal itu membuat perkiraan BKPM akan nilai PMA di Indonesia menjadi lebih condong ke atas. Selain itu, data BKPM tidak mencatat divestasi yang dibuat oleh investor asing (yang berkontribusi terhadap aliran negatif PMA pada rangkaian data Neraca Pembayaran pasca krisis tahun 1997/1998). Selain itu, terdapat perbedaan dalam cakupan sektor dari kedua sumber tersebut. Data BI menyertakan aliran PMA ke seluruh sektor sementara data BKPM tidak menyertakan sektor-sektor tertentu seperti migas dan institusi perbankan dan keuangan. Walaupun terdapat perbedaan, kedua rangkaian data itu berguna dengan saling melengkapi. Sebagai contoh, keduanya memberikan rincian PMA per industri dan per negara sumber, tetapi hanya data BKPM yang memiliki rincian lokasi / provinsi PMA di Indonesia. Sumber: OECD Investment Policy Review, Indonesia, 2010 Tabel 8: Manufaktur tetap menjadi bagian terbesar dari aliran masuk PMA ke Indonesia (bagian dari total aliran masuk bersih PMA per sektor, persen) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 6,7 0,0 4,6 4,1 2,1 -1,1 2,1 2,7 Perikanan 0,0 0,1 0,1 0,3 -0,3 0,2 0,4 0,1 Penggalian dan Pertambangan 5,9 14,7 6,5 27,5 38,7 26,7 13,5 19,1 Manufaktur 39,3 63,1 34,4 34,8 24,9 32,3 36,2 37,9 Listrik, Gas dan Air 0,0 1,9 0,0 -0,9 -0,6 1,1 1,6 0,4 Konstruksi -0,8 1,6 1,7 2,8 0,3 0,1 -0,4 0,8 Eceran & Kulakan -10,1 0,7 7,6 3,1 12,4 1,5 19,4 4,9 Hotel & Rumah Makan 0,0 0,0 0,1 -0,1 0,2 0,0 0,0 0,0 Transportasi, Pergudangan & 10,7 4,6 12,1 8,6 1,4 36,9 18,7 13,3 Komunikasi Intermediasi Keuangan 20,5 9,4 20,9 19,3 20,7 3,1 3,2 13,9 Real Estate and Business Activity -0,8 0,2 -0,3 -0,1 -2,2 -0,5 0,2 -0,5 Others 28,6 3,6 12,2 0,5 2,3 -0,3 5,1 7,4 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber: Bank Indonesia dan staf Bank Dunia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 27 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Aliran masuk PMA masih Sementara itu, BKPM menunjukkan bahwa aliran masuk PMA masih sangat terpusat di terpusat di Jawa tetapi pulau Jawa, yang menerima 70 hingga 90 persen aliran PMA setiap tahun (Tabel 9). Di belakangan mulai pulau Jawa pun, PMA lebih terpusat di ibukotanya, Jakarta, dan pada bagian Barat dari meningkat ke pulau-pulau pulau. Investasi tersebut umumnya berupa investasi ke bidang manufaktur, eceran & lain, terutama Kalimantan kulakan, dan sektor jasa-jasa lainnya. Terdapat peningkatan aliran masuknya PMA di daerah lain, tetapi Kalimantan menunjukkan perningkatan yang paling nyata. Kandungan sumber daya alam yang kaya di pulau itu ternyata banyak menarik minat aliran masuk PMA yang berkaitan dengan proyek pertambangan dan migas, terutama di bagian Timur pulau itu. Sementara itu pulau Sumatera telah mengalami penurunan aliran masuk PMA yang cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir, terutama didorong oleh turunnya PMA yang masuk ke Riau. Tabel 9: Aliran masuk PMA masih terpusat di pulau Jawa, terutama di ibukota (bagian dari keseluruhan PMA untuk daerah penerima, persen) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Jawa 70,6 81,3 73,8 82,3 91,2 86,7 70,9 79,5 DKI Jakarta 32,1 36,7 24,6 45,2 66,8 51,0 39,9 42,3 Jawa Barat 24,7 28,8 27,1 12,8 17,2 17,9 10,3 19,8 Jawa Timur 4,2 7,9 6,4 16,4 3,1 3,9 10,5 7,5 Banten 7,3 7,5 8,6 6,9 3,2 13,1 9,8 8,0 Kalimantan 8,0 2,0 9,0 3,0 0,8 2,6 12,5 5,4 Kalimantan Timur 8,0 0,4 6,8 1,6 0,1 0,7 6,9 3,5 Sumatera 18,5 13,7 14,8 13,4 6,8 7,2 4,8 11,3 Riau 11,2 8,9 9,8 7,0 3,1 2,3 0,9 6,2 Sulawesi 0,6 1,6 0,2 0,8 0,4 1,3 5,1 1,4 Nusa Tenggara 2,3 1,2 1,8 0,5 0,6 2,2 2,2 1,6 Bali 2,3 1,1 1,7 0,5 0,5 2,1 1,7 1,4 Maluku 0,0 0,1 0,3 0,0 0,0 0,1 2,3 0,4 Papua 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,0 2,4 0,4 Total 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Sumber: BKPM dan staf Bank Dunia b. Walaupun nilai aliran masuk meningkat, jumlah PMA relatif terhadap PDB masih tetap lemah Aliran masuk PMA ke Dari tahun 1993 hingga 1997, nilai rata-rata aliran masuk PMA ke Indonesia hampir Asia Timur menerima mencapai dua persen dari PDB (Gambar 21). Perbandingan terhadap PDB ini lebih tinggi, dampak buruk selama misalnya, dibanding perbandingan di India dan Thailand. Akan tetapi dampak krisis krisis keuangan Asia keuangan Asia cukup besar, yang memicu investor asing untuk menarik kembali modal mereka dan akibatnya terjadi penarikan bersih PMA dari Indonesia selama periode tahun 1998 hingga 2001 (yaitu aliran masuk PMA dengan nilai negatif). Walaupun telah pulih, Sementara nilai nominal laju investasi dalam negeri di Indonesia telah kembali ke tingkat rasio aliran masuk PMA pra-krisis (seperti dirinci pada Kotak 2 pada Triwulanan edisi bulan Maret 2011), PMA ke Indonesia terhadap sebagai bagian dari PDB belum mencapai tingkat pemulihan dengan laju yang sama. Di PDB masih relatif lemah luar kenaikan tajam satu kali di tahun 2005 (yang disebabkan oleh akuisisi perusahaan dibanding negara-negara pembanding kawasan… rokok nasional, Sampoerna, oleh Phillip Morris dari Amerika), PMA tetap bertahan pada angka kurang dari satu persen dari PDB selama periode tahun 2002 hingga 2009 sebelum meningkat sedikit di bawah dua persen di tahun 2010. PMA bagi negara-negara lain di wilayah yang sama, seperti Malaysia dan Filipina, juga tetap bertahan pada tingkat di bawah tingkat sebelum krisis. Akan tetapi, tingkat PMA terhadap PDB Indonesia tetap relatif lemah dibandingkan negara-negara pembanding dalam wilayah yang sama, terutama dibanding Cina, dan juga India, yang telah mencatat peningkatan tajam dalam aliran masuk PMA selama dekade yang lalu. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 28 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan …dan relatif terhadap Pelajaran juga dapat dipetik dengan membandingkan tingkat PMA Indonesia dengan ekonomi-ekonomi lainnya yang dimiliki oleh ekonomi-ekonomi lain yang juga kaya akan sumber daya. Sekali lagi, yang juga kaya akan aliran masuk PMA ke Indonesia masih relatif rendah (Gambar 22). Sebagai contoh, sumber daya perbandingan PMA terhadap PDB Indonesia di tahun 2010 adalah 1,9 persen dari PDB, dibanding 2,3 persen untuk Brazil dan lebih dari 7 persen bagi Chili. Sekali lagi, hal ini bertolak belakang dengan kinerja laju nominal investasi dengan Indonesia jauh meninggalkan banyak negara-negara pembandingnya (walaupun seperti dibahas pada Triwulanan edisi bulan Maret 2011, sebagian dari penyebabnya adalah peningkatan harga relatif dari barang-barang investasi). Perbandingan ekonomi regional dan berdasar atas sumberdaya sesuai waktu ini tentu saja tidak memberikan penilaian statistik yang rinci tentang tingkat aliran masuk PMA ke Indonesia, dengan adanya berbagai karakteristik ekonomi seperti populasi penduduk, biaya tenaga kerja, geografis dan sumberdaya alam. Mereka lebih ditujukan untuk memberi gambaran sesuai konteksnya sebagai cara untuk melihat peningkatan aliran PMA ke Indonesia yang terjadi belakangan ini. Gambar 21: Aliran PMA Indonesia terhadap PDB tetap relatif Gambar 22: …dan dibandingkan dengan aliran ke ekonomi rendah dibanding negara pembanding di wilayah yang sama... kaya sumberdaya berpenghasilan menengah dan tinggi (aliran bersih PMA terhadap PDB, persen) (aliran bersih PMA terhadap PDB, persen) Persen PDB Persen PDB Persen PDB Persen PDB 8 8 8 8 1993-1997 1998-2002 1993-1997 1998-2002 6 6 6 6 2003-2007 2008-2010 2003-2007 2008-2010 4 4 4 4 2 2 2 2 0 0 0 0 -2 -2 -2 -2 Catatan: Data PMA Indonesia dari BI Catatan: Data PMA Indonesia dari BI Sumber: BI, CEIC, World Development Indicators, dan Sumber: BI, CEIC, World Development Indicators, dan perhitungan staf Bank Dunia perhitungan staf Bank Dunia c. Outlook yang positif untuk PMA ke Indonesia… Perkiraan untuk masa Pengumuman niat untuk melakukan investasi oleh perusahaan-perusahaan multinasional depan aliran PMA ke mendukung berlanjutnya outlook yang positif bagi aliran masuk PMA ke Indonesia. Indonesia adalah positif… BKPM, misalnya, menargetkan peningkatan PMA sebesar 22 persen untuk tahun 2011. Pemerintah juga bertindak aktif dalam mempromosikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi dan telah menandatangani persetujuan dengan Jepang (24 miliar dolar Amerika), India (15 miliar dolar Amerika) dan Singapura (10 miliar dolar Amerika). Kerjasama dengan Jepang adalah melalui rencana infrastruktur, yang ditandatangani pada bulan Desember 2010 adalah untuk mendukung pembangunan daerah prioritas metropolitan Jakarta. …mencerminkan suatu Seperti terlihat dari komposisi sektoral aliran masuk tersebut, pendorong PMA ke rangkaian pendorong Indonesia berjumlah cukup banyak. Salah satu daya tarik yang tidak dapat dipungkiri dasar – sumberdaya adalah kekayaan sumberdaya alam Indonesia. Berikutnya adalah ukuran konsumen alam, pasar dalam negeri Indonesia yang besarnya masih terus bertambah. Hal ini menarik PMA yang mencari yang berkembang dan biaya tenaga kerja yang pasar dengan suatu perusahaan membangun suatu pabrik dengan harapan untuk relatif rendah meningkatkan keberadaannya di pasar lokal yang besar. Daya tarik ketiga adalah bagi PMA yang mencari efisiensi, karena upah buruh Indonesia yang relatif rendah dapat digunakan untuk proses produksi bagi pasar ekspor, terutama untuk barang-barang manufaktur. Selain itu, suatu perusahaan dapat memiliki maksud mencari pasar dan sekaligus efisiensi untuk melakukan PMA, dan kombinasinya dapat berbeda sesuai THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 29 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan dengan berjalannya waktu. Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan seperti Hyundai dan Hankook Tire dari Korea telah menyatakan maksud investasi mereka di Indonesia adalah sebagai upaya untuk meningkatkan pangsa pasar dalam negeri dan juga memanfaatkan biaya produksi yang lebih rendah untuk pasar ekspor. Permintaan global yang Perkiraan akan pertumbuhan yang kuat dan terus berlanjut di Cina dan India, bersama- kuat untuk komoditas sama dengan ekonomi berkembang lainnya, menunjukkan bahwa permintaan komoditas tampaknya akan dan harga akan tetap tinggi pada tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, sumberdaya mendorong PMA… alam Indonesia, dan letaknya yang strategis untuk melayani pasar India dan Cina, tampaknya akan makin menarik aliran PMA ke sektor-sektornya, seperti terlihat pada investasi oleh Newmont Mining dan BHP di sektor penggalian dan pertambangan di Kalimantan. BKPM memperkirakan bahwa investasi asing pada sektor migas Indonesia akan mencapai 3,2 miliar dolar Amerika di tahun 2011 sementara Asosiasi Pertambangan Indonesia memperkirakan bahwa PMA yang mengalir ke sektor tersebut akan mencapai 8 miliar dolar Amerika sepanjang tahun. BKPM juga telah mengumumkan mereka telah menerima permohonan investasi untuk berbagai sektor mineral, termasuk proyek pabrik aluminium dan nikel di Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara. …dan juga peningkatan Meningkatnya jumlah kelas menengah Indonesia, bersama-sama dengan perkiraan pendapatan dalam negeri peningkatan pendapatan dan belanja konsumsi, menjadi daya tarik bagi PMA yang terus dan kelas menengah berburu mencari peluang dan pasar baru. Seperti dibahas pada Triwulanan edisi Maret Indonesia 2011, hingga dekade berikutnya jumlah kelompok kelas menengah akan terus meningkat, dan yang lebih penting bagi produsen dari barang-barang konsumen yang tahan lama, meningkatnya orang-orang di dalam kelompok kelas menengah itu sendiri. Peningkatan kelas menengah ini – bersama-sama dengan outlook positif untuk pertumbuhan ekonomi – terus memberikan insentif kepada perusahaan asing untuk mencari kehadiran pasar di Indonesia, termasuk melalui PMA pada produksi lokal, seperti yang dilakukan oleh L’Oreal dan Honda yang membangun basis produksi di Indonesia. Indonesia juga berpotensi Dengan meningkatnya upah buruh di wilayah pantai di Cina, Indonesia memiliki potensi untuk memetik manfaat untuk menarik jumlah manufaktur untuk ekspor yang makin meningkat. Persaingan yang dari PMA relokasi ketat dari negara-negara lain pasti akan dijumpai, dan juga dengan daerah-daerah lain di manufaktur-untuk-ekspor Cina itu sendiri. Akan tetapi, relatif rendahnya biaya buruh dan produksi di Indonesia dari Cina dengan meningkatnya upah tampaknya masih menarik. India dan Filipina juga menunjukkan terdapat potensi untuk buruh di sana menggunakan upah buruh yang rendah untuk membangun PMA bagi ekspor jasa, seperti pada proses usaha, jika dikombinasikan dengan infrastruktur yang kuat, keterampilan dan pendidikan. d. …yang sebetulnya dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dengan peningkatan iklim investasi, infrastruktur dan keterampilan Daya tarik Indonesia bagi Sementara pendorong struktural di atas memberikan daya tarik yang kuat bagi aliran masuk PMA dapat mengalirnya PMA ke Indonesia, perusahaan-perusahaan asing mungkin masih terhalang lebih ditingkatkan dengan oleh peraturan yang masih membingungkan, kelemahan infrastruktur atau masih perbaikan kelemahan timpangnya antara permintaan keterampilan yang diinginkan investor dengan apa yang infrastruktur dan keterampilan dan tersedia di pasar tenaga kerja dalam negeri Indonesia. Sebagai contoh, dalam survei peningkatan pada tahun 2010 oleh Japanese External Trade Organisation (JETRO), perusahaan- lingkungan usaha… perusahaan terafiliasi Jepang di Indonesia menyebutkan sejumlah faktor, seperti prosedur pengeluaran barang dari bea cukai yang rumit dan kesulitan untuk memenuhi permintaan tenaga kerja, yang menghambat kegiatan usaha mereka (Kotak 4). Dengan kata lain, peningkatan pada iklim peraturan investasi, menangani hambatan infrastruktur di bidang transportasi, tenaga listrik, jaringan komunikasi dan informasi dalam negeri dan memperkuat pendidikan dan keterampilan tenaga kerja akan menambah daya tarik ke perusahaan asing untuk membangun basis produksi, atau untuk memindahkan produksi ekspor, ke Indonesia. … juga sangatlah Penerapan reformasi kebijakan dan investasi tersebut dapat meningkatkan daya tarik penting diusahakan Indonesia bagi PMA pencari efisiensi. Seperti ditekankan pada Masterplan yang baru pemanfaatan optimal dari diluncurkan oleh Pemerintah, investasi dan reformasi tersebut sangatlah penting untuk PMA meningkatkan laju pertumbuhan Indonesia untuk beberapa dekade berikutnya. Peningkatan pendapatan dalam negeri juga tampaknya akan mendorong lebih banyak aliran masuk yang tertarik oleh bertumbuhnya jumlah konsumen di Indonesia. Selain itu, upaya-upaya untuk meningkatkan keterampilan dan konektivitas dapat meningkatkan THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 30 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan potensi untuk limpahan teknologi yang positif dari kegiatan perusahaan multinasional ke perusahaan-perusahaan lokal. Berbagai dimensi yang berbeda itu mengangkat kemungkinan bahwa reformasi kebijakan dan investasi yang mendukung pertumbuhan dapat menciptakan suatu ‘lingkaran yang bijak’ dari prospek peningkatan pertumbuhan dan aliran masuk PMA, yang jika diwujudkan, dapat memiliki dampak yang besar kepada pendapatan dan penyerapan tenaga kerja penduduk, yang tentunya makin membantu upaya pengentasan kemiskinan. Tidak ada jaminan akan hasilnya. Pengalaman menunjukan bahwa pemanfaatan PMA bagi pertumbuhan dan investasi tergantung pada faktor spesifik suatu negara, termasuk kapasitas institusi (seperti kepastian hukum) atau tingkat sumber daya manusianya. Selanjutnya, untuk mendapatkan peluang pemanfaatan PMA diperlukan penetapan prioritas, koordinasi dan implementasi berkelanjutan dari penunjang reformasi dan investasi yang dibutuhkan. Misalnya, fokus terhadap peningkatan pendidikan dan ketrampilan untuk mengimbangi kebutuhan perusahaan- perusahaan yang mengutamakan kreasi kerja dari aliran PMA. Kotak 4: Outlook yang optimistik, tetapi tantangan tetap ada: pandangan perusahaan afiliasi Jepang di Indonesia Survei perilaku perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia dapat memberikan masukan yang berharga tentang faktor penting pendorong masuknya PMA dan faktor penghambat yang dapat mengganggu aliran masuk tambahan. Salah satu dari survei tersebut adalah yang dilaksanakan oleh Japanese External Trade Organisation (JETRO). Survei yang baru dilaksanakan ini, yang dilakukan pada bulan Agustus dan September 2010, mencakup hampir 3.500 perusahaan afiliasi Jepang di 18 negara Asia dan Oceania, termasuk sekitar 130 responden dari Indonesia, yang umumnya berada pada sektor manufaktur. Pada pertanyaan tentang tujuan para perusahaan afiliasi, apakah pasar ekspor atau domestik, survei itu menunjukan bahwa untuk keseluruhan wilayah, 45 persen dari perusahaan memberikan prioritas yang lebih bagi pengembangkan posisi mereka di pasar lokal dibanding ekspor. Sekitar 30 persen memberi bobot yang sama antara kedua pasar itu, sementara 11 persen memberi prioritas yang lebih kepada ekspor dan 7 persen hanya menekankan kepada ekspor belaka. Seperti diperkirakan, pengembangan pasar lokal keluar sebagai prioritas yang kuat di pasar-pasar dengan jumlah populasi yang besar atau rata-rata pendapatan yang tinggi. Sebagai contoh, di Indonesia sebanyak 51 persen perusahaan menekankan pada pasar lokal, sedikit di bawah China dan Australia, tetapi cukup jauh dari India, dengan 74 persen. Kepercayaan usaha dan perkiraan pertumbuhan tampaknya meningkat lintas wilayah. Mayoritas responden survei diperkirakan akan mencetak laba di tahun 2010, dengan proyeksi penjualan yang semakin baik di tahun 2011. Hal ini tercermin dalam penjualan pasar lokal dan ekspor, dengan menjadi normalnya permintaan ekspor dan pertumbuhan regional setelah penurunan di tahun 2008 dan 2009. Sebagai akibatnya, lebih dari 60 perusahaan melaporkan rencana untuk mempeluas usahanya dalam satu – dua tahun ke depan, umumnya untuk mengembangkan pasar baru. Outlook di Indonesia merupakan salah satu yang paling kuat di wilayahnya, mencerminkan kekuatan relatif dari permintaan domestik pada beberapa tahun terakhir. 80 persen dari perusahaan memperkirakan bahwa mereka akan mencetak laba di tahun 2010 – salah satu persentase tertinggi untuk pasar di mana saja – sementara 65 persen perusahaan memperkirakan laba mereka akan lebih tinggi di tahun 2011. Hampir dua per tiga usaha di Indonesia diperkirakan akan memperluas kegiatannya di Indonesia dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan. Survei itu juga mencatat masalah-masalah utama yang dihadapi oleh perusahaan afiliasi di dalam operasi usaha. Informasi itu dapat memberikan masukan yang berharga bagi para penyusun kebijakan untuk menemukan, menyusun dan mendahulukan kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan iklim investasi dalam negeri. Untuk Indonesia, para responden menemukan bahwa masalah-masalah berikut membelenggu kegiatan usaha: rendahnya kapasitas pekerja lokal dan staf manajemen; pembatasan dalam pemberhentian tenaga kerja; terbatasnya informasi tentang peraturan perundangan perdagangan; prosedur bea cukai yang rumit dan memakan waktu; terbatasnya pasokan tenaga listrik yang memadai (pemadaman); dan gejolak mata uang rupiah terhadap dolar Amerika. Di seluruh wilayah, para responden survei juga mengatakan bahwa peningkatan biaya buruh sebagai tantangan yang paling signifikan terhadap kegiatan usaha, dengan perusahaan-perusahaan pada enam dari 18 negara melaporkan peningkatan rata- rata gaji tahunan sebesar dua digit. Tekanan upah sangat kuat di Cina dan Vietnam dan pada sektor elektronik, transportasi dan tekstil. Sementara hasilnya hanya terbatas dengan survei ini, dan dengan jumlah perusahaan yang relatif kecil, mereka mengatakan bahwa biaya tenaga kerja di Indonesia tetap rendah dibanding rata-rata nasional – dan terutama, lebih rendah dari Cina – pada sektor manufaktur dan non-manufaktur, dan bagi pekerja dan manajemen. Menurut pada responden, pada waktu survei dilakukan, rata-rata gaji bulanan dalam dolar Amerika bagi pekerja di sektor manufaktur dikatakan berada pada kisaran 40 persen lebih rendah di Indonesia dibanding di Cina (sekitar 45 persen lebih rendah ketika tunjangan, bonus, lembur dan asuransi sosial turut disertakan). Insinyur di sektor manufaktur juga menerima gaji pokok bulanan sekitar satu per lima lebih rendah dibanding Cina. Bagi staf non-manufaktur, terdapat perbedaan yang lebih besar. Upah pokok bagi staf non-manufaktur di Indonesia hanya kurang dari setengah dari yang sama di Cina, sementara jumlah beban upah sekitar seperempat. Sekali lagi, hasil-hasil ini hanyalah sebagian gambaran yang tidak mencerminkan kondisi usaha seluruh perusahaan asing, dan angkanya juga tidak disesuaikan untuk produktivitas relatif pekerja dari berbagai negara, tetapi upah pekerja yang rendah dapat menjadi daya tarik bagi perusahaan asing lain untuk pindah ke Indonesia. Seperti telah disinggung sebelumnya, terdapat sejumlah literatur yang membicarakan dampak yang dibawa PMA kepada kesejahteraan pekerja domestik dan ekonomi yang luas, tetapi hanya ketika dilengkapi dengan kebijakan yang mendukung mengenai kesehatan dan pelatihan. Sebagai contoh, hal itu dapat mendukung transfer pengetahuan kepada pekerja dalam negeri dan membangun modal manusianya, yang akan membawa tingkat produksi dan upah yang lebih tinggi. Sumber: JETRO (2010). “Survey of Japanese-Affiliate Firms in Asia and Oceania”, Survei tahun fiskal 2010, http://www.jetro.go.jp/en/reports/survey/biz/ THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 31 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan C. INDONESIA 2014 KE DEPAN: SEBUAH PANDANGAN SELEKTIF 1. Menangani tantangan infrastruktur Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan Kelemahan infrastruktur Rendahnya tingkat pembangunan infrastruktur menghalangi potensi pertumbuhan dan merupakan salah satu laju pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tanda-tanda dari rendahnya investasi penghalang utama bagi infrastruktur selama lebih dari satu dekade termasuk peningkatan kemacetan di daerah Indonesia dalam perkotaan, tingginya biaya transportasi kargo antar pulau, pemadaman listrik dan meningkatkan pertumbuhan ke tahap terbatasnya akses terhadap fasilitas sanitasi yang baik. Peringkat Indonesia termasuk yang lebih tinggi… yang paling rendah dibanding negara-negara lain di wilayah yang sama dalam hal kualitas infrastruktur dan kurangnya ketersediaan infrastruktur tersebut selalu disebut oleh perusahaan-perusahaan sebagai hambatan dalam operasional dan investasi mereka. Infrastruktur yang buruk juga dapat membawa dampak negatif terhadap kesejahteraan penduduk melalui berbagai jalur lainnya. Dampak terhadap kesehatan dapat segera terlihat dalam hal air kotor dan fasilitas sanitasi sementara biaya transportasi yang tinggi menghalangi akses terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan. Lemahnya keterkaitan infrastruktur antar daerah juga dapat memperburuk situasi jika terjadi gejolak, seperti yang berhubungan dengan cuaca, karena sulitnya memindahkan produk antar wilayah. Pemerintah Indonesia Memahami masalah-masalah ini, Pemerintah telah memberikan komitmennya untuk memahami pentingnya menghadapi tantangan infrastruktur sebagai salah satu prioritas utamanya. Hal ini penanganan tantangan ditekankan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk periode 2010-2014 infrastruktur Indonesia yang menetapkan sasaran-sasaran pembangunan infrastruktur yang akan dicapai pada dalam rencana jangka panjang … tahun 2014. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan jalan tol sepanjang 2,800 km, penambahan kapasitas pemasangan listrik sebesar 3000 MW per tahun, peningkatan rasio pemasangan listrik, dan meningkatkan akses terhadap air dan sanitasi untuk memenuhi target Millennium Development Goal (MDG). Seperti dibahas pada bagian selanjutnya, peningkatan infrastruktur juga merupakan fokus dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2011-2025. … dan juga dalam Prioritas untuk belanja infrastruktur juga terlihat dalam alokasi anggaran dan kebijakan kebijakan jangka pendek akhir-akhir ini. Sebagai contoh, alokasi belanja modal di tahun 2011 sebesar 40 persen relatif terhadap anggaran yang direvisi tahun 2010. Akan tetapi, seperti dibahas pada Bagian A, tantangan pencairan anggaran masih tetap ada dan harus diatasi. Terdapat perkembangan positif terhadap peraturan perundangan yang mendukung seperti pendirian Unit Manajemen Risiko pada Kementerian Keuangan dan penetapan Perpres 67/2005 yang menetapkan kritera yang berlaku untuk proyek Kemitraan Pemerintah- Swasta yang membutuhkan dukungan keuangan Pemerintah. Undang-undang Pengadaan Tanah juga telah disampaikan kepada DPR. Masih banyak masalah yang masih harus ditangani, termasuk dalam meningkatkan koordinasi kebijakan pada berbagai tingkat di Pemerintahan. Bagian ini memberikan ulasan singkat terhadap tren dan kinerja investasi infrastruktur yang terjadi belakangan ini di Indonesia. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 32 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Investasi Indonesia dalam Walaupun telah pulih sebagian, Gambar 23: Investasi infrastruktur Indonesia turun bidang infrastruktur turun tingkat investasi Indonesia dalam tajam pasca krisis Asia dengan tajam pasca infrastruktur masih berada di (persen PDB) krisis keuangan Asia bawah tingkat sebelum krisis tahun Persen PDB Persen PDB pada akhir 90an dan 1997/1998 (Gambar 23). Investasi 8 8 hanya pulih sebagian infrastruktur turun dari di atas 8 persen dari GDP di tahun 1995 6 6 dan 1996 menjadi sekitar 3 persen di tahun 2000 dengan penekanan 4 4 Pemerintah pada konsolidasi fiskal dan pemotongan hutang publik. Investasi BUMN dan pihak swasta 2 2 pada sektor infrastruktur juga menurun. Sebagai akibatnya 0 0 Indonesia menghadapi tantangan 1994-1997 1998-2002 2003-2006 2007-2009 besar dalam memenuhi permintaan bagi investasi infrastruktur pada Sumber: Kemenkeu, laporan tahunan BUMN, akhir tahun 90an. Sejak itu, tingkat pangkalan data Infrastruktur Pemerintah-Publik Bank investasi hanya meningkat secara Dunia untuk investasi swasta perlahan, hanya ke sekitar 4 persen dari PDB di tahun 2008-09 (Gambar 23). Walaupun data antar negara cukup sulit untuk didapat, angka-angka ini masih tergolong rendah dibanding beberapa negara lain di wilayah yang sama. Sebagai contoh, laporan Bank Dunia tahun 2005 dengan judul “Connecting East Asia: A New Framework for Infrastructure” memperkirakan tingkat investasi infrastruktur terhadap PDB di Cina, Thailand dan Vietnam berada di atas 7 persen. Walaupun rasio optimal atau rasio yang tepat untuk investasi infrastruktur terhadap PDB untuk suatu negara akan bergantung pada faktor-faktor khusus negara tersebut seperti infrastruktur yang ada, kualitasnya, letak geografis dan tujuan pembangunan, dampak dari tingkat investasi belakangan ini dapat terlihat dari ukuran kualitas infrastruktur yang buruk di Indonesia. Gambar 24: Peringkat Indonesia termasuk yang terendah Gambar 25: …dengan kinerja yang rendah untuk berbagai dalam indeks kualitas infrastruktur… jenis infrastruktur (Keseluruhan indeks kualitas infrastruktur, 2010-2011) (Keseluruhan indeks kualitas infrastruktur, 2010-2011) Malaysia (27) Electricity supply Thailand (46) Ports China (72) Indonesia (90) Roads India (91) Air transport Philippines (113) Vietnam (123) Railroads 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 Indeks kualitas infrastruktur Indeks kualitas infrastruktur (skala 1-7, 7 = terbaik) (skala 1-7, 7 = terbaik) Catatan: Pengukuran infrastruktur Indeks Daya Saing Dunia Catatan: Indeks di atas disusun berdasarkan tanggapan disusun berdasarkan tanggapan survei eksekutif akan survei eksekutif kualitas jalan, rel kereta api, pelabuhan, transportasi udara, Sumber: World Economic Forum Global Competitiveness pasokan listrik dan data tentang kabel telepon tetap dan Report 2010-2011 pelanggan telepon selular dan daftar kilometer kursi pesawat udara Sumber: World Economic Forum Global Competitiveness Report 2010-2011 THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 33 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Sebagai akibatnya, Terbatasnya investasi pada pemeliharaan dan infrastruktur yang baru terlihat dari kualitas infrastruktur rendahnya peringkat kualitas infrastruktur (Gambar 24), walaupun nilainya secara umum Indonesia adalah salah sejalan dengan tren berdasar tingkat pendapatan per kapita. Peringkatnya relatif serupa satu yang paling rendah pada transportasi dan pasokan energi (Gambar 25). Laporan “Indonesia Competitiveness di wilayahnya… Report 2011” dari World Economic Forum yang baru dikeluarkan menyoroti kualitas infrastruktur sebagai faktor penghalang dari peningkatan lebih lanjut peringkat daya saing Indonesia. Peringkat ini mencerminkan makin buruknya kondisi jalan-jalan, peningkatan kemacetan lalu-lintas di daerah-daerah perkotaan, terbatasnya kapasitas pelabuhan dan kebutuhan modernisasi rel kereta api. Data yang tersedia akan kondisi jalan-jalan memberikan beberapa kuantifikasi dari tren tersebut. Sejak tahun 2005, bagian dari jalan-jalan daerah dengan kondisi yang stabil (dengan penilaian kondisi baik atau cukup) telah merosot secara bertahap (Gambar 26). Karena jalan-jalan tersebut merupakan bagian terbesar dari keseluruhan jaringan jalan, tren ini tidak dapat mengimbangi peningkatan yang terjadi pada jalan nasional berdasarkan proporsi kondisi yang stabil dari keseluruhan jalan. Pada tahun 2009, 63 persen dari keseluruhan jaringan jalan berada pada kondisi yang stabil, 22 persen pada kondisi buruk dan 15 persen rusak, dibanding dengan kondisi pada tahun 2001 dengan 68 persen stabil, 19 persen buruk dan 13 persen rusak. …dan meningkatkan Kelemahan infrastruktur tersebut telah menjadi keprihatinan yang makin meningkat bagi tantangan bagi investasi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil dan kegiatan usaha survei tentang penghalang utama dari operasi dan investasi mereka. Dari tahun 2005 hingga 2009 peringkat masalah infrastruktur telah meningkat dalam hal jumlah perusahaan yang menyebutnya sebagai penghalang (Gambar 27). Di tahun 2009 transportasi dan pasokan energi adalah yang paling banyak dan nomor tiga terbanyak disebut, dengan sekitar 60 persen responden memandang mereka sebagai salah satu kendala utama. Kendala telekomunikasi lebih jarang disebutkan tetapi juga meningkat ke peringkat tengah dari tabel dari tahun 2005 hingga 2009. Gambar 26: Kualitas jalan daerah di Indonesia telah Gambar 27: Masalah infrastruktur semakin menjadi menurun secara bertahap penghalang utama bagi kegiatan perusahaan di Indonesia (panjang jalan, km; bagian dari jalan dalam kondisi stabil, (bagian dari perusahaan yang menyebutkan masalah itu persen) sebagai penghalang utama operasi dan investasi, persen) Sub-national road (km), LHS Persen (label menunjukkan peringkat penghalang) National road (km), LHS National road (% in stable condition), RHS 80 80 2005 Sub-national road (% in stable condition), RHS ribu km 1 2007 Persen 3 800 100 2009* 60 60 4 2 6 600 75 6 40 10 40 400 50 21 21 20 20 200 25 0 0 0 0 2001 2003 2005 2007 2009 Transportation Electricity Telecom. Catatan: Kondisi stabil adalah jalan dalam kondisi baik atau Catatan: * Survei paling akhir dari tahun 2010 tetapi cukup (sisanya dalam keadaan buruk atau rusak) pertanyaan adalah tentang situasi di tahun 2009. Peringkat Sumber: Data jalan nasional dari Kementrian-PU, data jalan dari 22 penghalang yang diteliti propinsi dan kab/kota dari BPS Sumber: Survei iklim investasi perusahaan Bank Dunia – LPEM-UI …dengan dampak pada Tantangan dari buruknya infrastruktur bagi kegiatan perusahaan tampaknya akan terlihat pertumbuhan dari tingkat investasi, produktivitas dan pertumbuhan secara agregat. Sebagai contoh, produktivitas dan sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini oleh IMF (Regional Economic Outlook: Asia ekonomi makro secara and Pacific, October 2010) menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur berhubungan agregat sangat erat dengan investasi swasta di wilayah Asia Pacific. Studi ini merupakan bagian THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 34 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan dari banyak literatur yang dikembangkan untuk melakukan analisis dan meng-kuantifikasi hubungan ini (lihat Kotak 5 untuk ulasan singkat). Perbedaan data, sampel dan pendekatan metodologi membuat penelitian-penelitian tersebut sulit untuk dibandingkan, tetapi ada konsensus umum terdapat pengaruh positif dari infrastruktur terhadap pertumbuhan, terutama bila digunakan ukuran infrastruktur fisik. … memotivasi investasi Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Pemerintah telah memahami bahwa investasi yang besar dalam dalam infrastruktur telah tertinggal dan RPJMN saat ini memfokuskan lebih banyak infrastruktur yang investasi publik. Masterplan Ekonomi Pemerintah yang baru (MP3EI) 2011-2025 yang ditargetkan dalam akan dibahas dalam bagian selanjutnya, kembali menekankan pentingnya investasi dalam Masterplan Pemerintah (MP3EI) 2011- infrastruktur untuk meningkatkan pertumbuhan. Jika target lebih besar dari IDR 1.786 triliun, tambahan investasi infrastruktur dibandikangkan dengan total investasi IDR 4.012 triliun di enam koridor ekonomi selama 2011-2025. Investasi infrastruktur ini mencakup hampir semua area yang saat ini masih lemah., dengan fokus utama di transportasi dan energy. Akan tetapi, belum terlalu jelas apa yang akan dilakukan dalam kebijakan insentif dan perbaikan iklim usaha untuk mempromosikan investasi yang diperlukan oleh pihak swasta dan BUMN Kotak 5: Pembahasan tentang infrastruktur dan pertumbuhan – suatu ulasan singkat Terdapat debat yang panjang tentang kaitan antara infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi baik di negara maju maupun di negara berkembang. Umumnya ada tiga saluran transmisi yang mendapat penekanan. Pertama, dampak peningkatan produktivitas dari infrastruktur, misalnya, lewat penurunan biaya transportasi dan peningkatan komunikasi. Kedua, peningkatan dalam sumberdaya manusia, seperti keluaran pendidikan dan kesehatan yang lebih baik karena lebih banyaknya klinik dan sekolah yang dibangun terhubung dengan penduduk. Ketiga, dukungan infrastruktur terhadap skala ekonomi dan cakupan produksi, sebagai contoh, dengan mendukung pemusatan kegiatan di dalam klaster atau memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk melayani pasar yang lebih besar. Sebaliknya terdapat potensi masalah yang berhubungan dengan penurunan investasi lain dalam jangka pendek (crowding-out effect), walaupun terdapat potensi peningkatan keuntungan jangka panjang dari investasi infrastruktur. Juga, jika suatu investasi baru dilakukan dengan mengurangi belanja untuk pemeliharaan infrastruktur yang ada, maka mungkin ada masalah dalam hal efektivitas biayanya. Dari sudut pandang ekonomi politik, bergantung pada situasi kelembagaan, peningkatan tajam dalam belanja infrastruktur dapat mempeluas perilaku pencari keuntungan, yang sekali lagi berpengaruh terhadap efektivitas biaya. Beralih ke empiris, suatu penelitian oleh Straub (2008) menyoroti variasi antar studi-studi dari sampel dan periode waktu negara mereka, teknik ekonometriks, penggunaan jumlah investasi infrastruktur atau pengukuran fisik dan himpunan penekanan pada pertumbuhan, output atau produktivitas dan antara pengaruh sementara dan jangka panjang. Dari 80 spesifikasi, sekitar setengah menemukan bahwa infrastruktur memiliki pengaruh yang positif dan signifikan, dua per lima tidak menemukan pengaruh dan sisanya menemukan pengaruh yang negatif dan signifikan. Temuan pengaruh positif akan output atau pertumbuhan akan lebih mungkin pada studi-studi yang menggunakan indikator fisik infrastruktur dibanding data investasi (yang tidak selalu dapat memetakan tingkat investasi fisik sebenarnya dengan baik). Makalah yang baru diterbitkan oleh Calderon dkk. (2011) merupakan salah satu penelitian yang menemukan hubungan positif antara output dan tingkat infrastruktur fisik. Secara khusus, suatu indeks infrastruktur disusun sebagai perhitungan pembobotan dari dukungan negara dalam bidang transportasi, listrik dan telekomunikasi. Indeks itu kemudian digunakan sebagai variabel penjelas di dalam analisis empiris dari 88 negara pada periode tahun 1960–2000. Untuk menggambarkan pentingnya hasil analisis secara ekonomi, jika tingkat pelayanan infrastruktur suatu negara akan ditingkatkan dari median sampel di tahun 2000 ke persentil ke-75, maka akan didapatkan peningkatan output per pekerja sedikitnya di bawah 8 persen. Selanjutnya, dengan memindahkan tingkat median dari negara dengan pendapatan menengah-bawah ke median negara berpenghasilan menengah- atas, maka output per pekerja akan meningkat sebesar 5,2 persen. Yang menarik, terdapat sedikit variasi antar negara terhadap elastisitas antara infrastruktur dan pertumbuhan. Akan tetapi mereka menemukan bahwa tambahan manfaat terhadap pertumbuhan dengan peningkatan infrastruktur adalah lebih besar bagi negara-negara dengan tingkat infrastruktur yang lebih rendah dan negara dengan jumlah penduduk yang lebih besar dapat menerima tambahan manfaat yang lebih kecil karena dampak kemacetan. Catatan: Lihat juga Makalah Riset Kebijakan Bank Dunia oleh Straub (2008), “Infrastructure and Development: A Critical Appraisal of the Macro Level Literature” dan Calderon dkk. (2011) “Is Infrastructure Capital Productive? A Dynamic Heterogeneous Approach” tersedia di http://go.worldbank.org/GVSDC9EPB0 THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 35 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan 2. Konektivitas dan Masterplan tahun 2011-2025 Pemerintah Indonesia Walaupun mencapai rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen selama 30 baru-baru ini tahun untuk periode tahun 1967 hingga 1997 dan 5,6 persen pada periode terakhir dari meluncurkan suatu tahun 2004 hingga 2010, Indonesia masih menyimpan potensi untuk meraih tingkat Masterplan yang pertumbuhan yang lebih tinggi lagi dengan kekayaan sumber daya alam dan manusianya, bertujuan untuk meningkatkan ditambah dengan lokasinya yang strategis di dalam motor Asia penyokong pertumbuhan pertumbuhan dan ekonomi global. Untuk sepenuhnya memberdayakan potensi tersebut, Presiden Indonesia menghantarkan Indonesia baru-baru ini mengumumkan suatu Rencana Induk atau Masterplan Percepatan dan menjadi satu dari sepuluh Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). Strategi jangka panjang ini, mencakup masa kekuatan ekonomi paling yang lebih lama tetapi dirancang untuk tetap terpadu dan terkoordinasi dengan rencana besar pada tahun 2025 pembangunan lima tahunan, bertujuan untuk menghantarkan Indonesia menjadi satu dari sepuluh ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2025. Dengan tingkat pertumbuhan yang dipatok pada kisaran tujuh hingga sembilan persen, Masterplan juga diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan transformasi struktur ekonomi serta mengubah praktik ‘business as usual’ untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut. Sehubungan dengan potensi pentingnya Masterplan tersebut sebagai suatu kerangka bagi strategi pembangunan Indonesia menuju ke masa depan, bagian ini akan memberikan ulasan singkat mengenai apa itu Masterplan; dan sesuai dengan penekanan edisi Triwulanan ini yaitu investasi infrastruktur, maka bahasan akan lebih mendalam berkenaan dengan masalah konektivitas, yang merupakan pilar utama dari Masterplan. a. Menggabungkan pendekatan sektoral dan regional terhadap pembangunan Tiga pilar Masterplan Rencana baru tersebut memiliki tiga strategi sebagai dasarnya: (i) pembangunan enam adalah pembangunan koridor ekonomi, (ii) penguatan konektivitas nasional, dan (iii) peningkatan kapasitas koridor ekonomi, teknologi dan kapasitas penelitian dan pengembangan. Strategi pertama menekankan penguatan konektivitas pada pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di setiap pulau dengan membangun nasional dan peningkatan SDM dan Iptek klaster sektor unggulan, yang hanya akan berhasil jika strategi kedua telah dilaksanakan dan sinergi telah terbangun antara pusat-pusat pertumbuhan tersebut dan mereka terhubung secara internasional untuk mendukung perdagangan dan pariwisata. Strategi ketiga juga hendak memperkuat kinerja ekonomi dengan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan meningkatkan investasi pada penelitan dan pengembangan. Menurut rencana baru tersebut, manfaat dari strategi-strategi tersebut hanya akan dapat dipetik bila mereka didukung oleh penyusunan kebijakan perdagangan dan investasi yang baru, termasuk perjanjian perdagangan, dan juga kebijakan keuangan yang baru, termasuk kerjasama pemerintah-swasta (Gambar 28). Gambar 28: Mencapai transformasi ekonomi melalui strategi Masterplan VISION “To Create a Self-sufficient, 2025 Advanced, Just, and Prosperous Indonesia” NATIONAL HUMAN CONNECTIVITY RESOURCES ECONOMIC CAPABILITY AND ECONOMIC CORRIDORS Locally Connected, SCIENCE & TRANSFORMATION Globally Integrated TECHNOLOGY MAIN STRATEGIES Encourage large Synchronization of The development of scale investment national action plan to center of excellence in realization in 22 main revitalize the real each economic economic activities sector performance corridor Investment Policy SUPPORTING Trade Policy and Agreements POLICIES Financing and PPP Policies Sumber: Bank Dunia berdasarkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian “Grand Design Transformasi Ekonomi” tahun 2011 dan “Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia tahun 2011-2025”. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 36 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Masterplan itu Masterplan itu menekankan pada penyatuan pendekatan pembangunan sektoral dan menggabungkan regional di dalam koridor ekonomi yang telah ditentukan. Pendekatan sektoral pendekatan sektoral dan menekankan pada identifikasi sektor-sektor unggulan pada setiap koridor yang memiliki regional pada prospek pertumbuhan global yang tinggi, dan di mana Indonesia memiliki potensi dan pembangunan di setiap koridor ekonomi kemampuan untuk meningkatkan daya saingnya. Pendekatan regional melengkapi pendekatan sektoral dan menentukan, bagi setiap koridor, peraturan regional atau nasional yang perlu diubah, investasi infrastruktur yang dibutuhkan untuk daerah tersebut, dan jenis pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan ilmu dan teknologi yang akan memberi manfaat bagi sektor-sektor tersebut. Penekanan regional ini bertujuan untuk menjembatani bagian Barat dan Timur Indonesia, membantu menutup jurang pembangunan antara pulau-pulau. Masterplan menetapkan Masterplan tersebut menempatkan Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator bagi 22 sektor investasi dan investasi-investasi baru, mengundang sektor swasta, BUMN dan modal asing untuk dua proyek infrastruktur meningkatkan industri pengolahan pada sektor-sektor utama. Masterplan tersebut berskala besar… menemukan kesempatan investasi pada 22 sektor, termasuk minyak sawit, karet, batu bara, nikel, tembaga, migas, pariwisata, perikanan, food estate, industri makanan dan minuman, tekstil, mesin/transportasi, perkapalan, besi-baja, aluminium dan telematika. Masterplan itu juga menyertakan dua proyek infrastruktur berskala besar: pengingkatan jaringan transportasi Jabodetabek dan pembangunan jembatan antara pulau Jawa dan Sumatra. Kesempatan investasi nasional tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam enam koridor regional, yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-NTT, Papua dan Maluku (Gambar 29). Gambar 29: Masing-masing dari enam koridor ekonomi memiliki penekanan pembangunan yang berbeda “Plantations  Production  and  “Mining Production  and  “National  Plantation,  Processing Center and National  Processng Center and  Agriculture,  and Fisheries  Energy Reserve" National  Energy Reserve" Production and  Processing  Center'' Koridor Sumatera Koridor Kalimantan Koridor Sulawesi Koridor Jawa Koridor Papua Koridor Bali Nusa Tenggara “Abundant  Natural  “National  Industry and  '‘National  Tourism Gate  Resources Processing and  Services Booster" and National  Food  Prosperous Human  Support'' Resources" Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian “Grand Design Transformasi Ekonomi” tahun 2011 … dan memperkirakan Masterplan tersebut juga menunjukkan jenis investasi tambahan untuk setiap koridor, investasi infrastruktur umumnya dalam bidang infrastruktur, yang akan dibutuhkan untuk memastikan bahwa yang dibutuhkan untuk investasi sektoral tersebut akan memiliki dampak ekonomi yang paling tinggi. setiap koridor Pembangunan jalan-jalan, pelabuhan, rel kereta api dan pembangkit listrik mendapatkan prioritas utama. Sebagai contoh, pengembangan lebih lanjut dari industri batu bara di Sumatra dan Kalimantan membutuhkan investasi pada rel kereta api dan pelabuhan untuk menjamin pengiriman batu bara yang efisien ke bagian lain dari Nusantara dan untuk ekspor. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 37 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Total investasi menurut Untuk lima belas tahun berikutnya, Masterplan itu memperkirakan investasi sebesar Rp Masterplan tersebut 4.012 triliun (468 miliar dolar Amerika pada kurs tukar yang kini berlaku) pada enam diperkirakan mencapai daerah tersebut yang mana 55 persen akan berupa kegiatan sektoral dan 45 persen Rp 4.012 triliun (468 miliar lainnya untuk infrastruktur. Investasi sektor swasta merupakan pendorong utama dan dolar Amerika) yang didorong oleh sektor diperkirakan akan menutup 51 persen dari jumlah tersebut, sementara besar sumbangan swasta BUMN diperkirakan akan mencapai 18 persen. Pemerintah pusat dan daerah akan menyumbang 10 persen dalam bentuk infrastruktur dasar, seperti jalan-jalan, pelabuhan laut, bandara, rel kereta api dan pembangkit tenaga listrik. Sisa 21 persen akan dipenuhi dengan gabungan dana-dana, termasuk investasi asing dan PPPs. Selain bagi investasi, Bersama-sama dengan investasi, Masterplan yang baru juga sedikit menyinggung Masterplan juga tentang kebutuhan yang mendasar untuk beberapa reformasi lintas sektoral. Hal itu menyoroti beberapa mencakup penyelarasan antara undang-undang dan peraturan nasional dan daerah, reformasi lintas sektoral penerbitan undang-undang dan peraturan baru untuk mendukung peningkatan pengolahan komoditas dalam negeri, membangun sistem insentif untuk mendorong investasi dan menyederhanakan prosedur perijinan investasi di seluruh negeri. b. Meningkatkan konektivitas Indonesia Peningkatan konektivitas Sasaran-sasaran di dalam Masterplan tidak dapat dicapai tanpa peningkatan konektivitas Indonesia mencakup di Indonesia, termasuk mata rantai pasokan yang menghubungkan produsen ke hubungan di dalam pulau, konsumen. Hal itu mencakup hubungan di dalam pulau, antar pulau dan internasional. antar pulau dan Sementara Masterplan lebih banyak menekankan pada konektivitas di dalam pulau, internasional seperti pada rantai biasa, kekuatan seluruh mata rantai pasokan hanyalah sekuat mata rantai terlemahnya, sehingga peningkatan harus dilakukan pada seluruh tiga tingkat. Meningkatkan konektivitas antara produsen dalam negeri dan konsumen dalam negeri yang berada di lokasi yang tersebar di Indonesia akan membutuhkan hubungan di dalam dan antar pulau yang kuat. Pengaitan produsen dan konsumen dalam dan luar negeri membutuhkan gerbang internasional, seperti pelabuhan dan bandara, yang handal dan efisien. Peningkatan konektivitas Kunci untuk konektivitas di di dalam pulau adalah terletak pada menghubungkan daerah di dalam pulau dapat pedesaan dengan daerah perkotaan, menghubungkan daerah pedesaan ke kutub saling menghubungkan pertumbuhan di pulau tersebut serta yang terpenting adalah menghubungkan kutub-kutub kutub-kutub pertumbuhan pertumbuhan tersebut. Hubungan yang lebih kuat di dalam suatu pulau dapat perkotaan dan juga dengan daerah pedesaan memberikan sinergi antar kutub pertumbuhan dan memperluas manfaat pertumbuhan ke daerah-daerah yang kurang berkembang dengan adanya akses ke pusat-pusat kota dan pasar daerah yang lebih besar. Sebagai akibatnya, manfaat investasi pada koridor-koridor tidak akan hanya terbatas pada pusat-pusat pertumbuhan. Peningkatan konektivitas di dalam pulau pada dasarnya merupakan tugas pemerintah daerah dengan transfer fiskal dari pemerintah pusat yang memberikan dana untuk membangun dan memelihara proyek-proyek infrastruktur lokal. Sementara peran pemerintah pusat lebih kepada penyusunan suatu kerangka kebijakan yang mendukung dan koordinasi hubungan antar kutub-kutub pertumbuhan dan dengan daerah-daerah tertinggal di dalam pulau yang sama. Pendekatan-pendekatan Dibutuhkan pendekatan yang berbeda untuk meningkatkan konektivitas di dalam pulau, kepada konektivitas di bergantung pada kepadatan penduduk dari suatu daerah. Suatu strategi fishbone (tulang dalam pulau bervariasi ikan) menghubungkan daerah-daerah perkotaan dengan lalu-lintas yang tinggi melalui menurut kepadatan jalur utama yang terdiri dari jalan-jalan yang lebar, jalan bebas hambatan dan rel kereta penduduk dari suatu daerah… api dan menghubungkan daerah-daerah perkotaan itu dengan daerah pedalaman melalui jalan-jalan pengumpan yang berhubungan dengan jalur utama. Strategi ini sangat tepat diterapkan di pulau-pulau dengan kepadatan penduduk yang lebih tinggi di Indonesia, karena penggunaan dengan intensitas yang tinggi oleh penduduk dapat memberi justifikasi kepada tingginya biaya pembangunan. … dan dapat Sebaliknya, strategi ink-spot (noda tinta) menghubungkan daerah-daerah pinggiran menyertakan strategi dengan suatu pusat dengan menggunakan sistem transportasi yang lebih kecil dan lebih tulang ikan atau titik tinta murah lebih tepat diterapkan pada daerah-daerah yang tidak padat dan lebih terpencil, seperti pada bagian Timur Indonesia. Dengan makin meningkatnya titik-titik tinta tersebut, mereka akan saling terhubung, dan secara perlahan-lahan bentuknya akan menyerupai strategi tulang ikan. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 38 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan …dilengkapi dengan Di daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, strategi tulang ikan infrastruktur tertentu atau titik tinta harus dilengkapi dengan infrastruktur pengiriman komoditi khusus dari untuk mendukung sektor daerah sumber daya alam ke pelabuhan (seperti kereta api batu bara di Kalimantan atau sumber daya pembangunan pelabuhan pusat bagi komoditas tertentu) Gambar 30 berikut menunjukkan kemungkinan pemetaan pendekatan tulang ikan dan titik tinta ke berbagai daerah di Indonesia. Penggunaan strategi Master Plan merancang penggunaan strategi tulang ikan pada setiap koridor untuk tulang ikan dan titik tinta menghubungkan kota-kota dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Pada wilayah dengan yang tepat dapat pertumbuhan lebih kecil dan tersebar, penguatan sistim transportasi di sekitar pusat membantu meningkatkan wilayah melalui investasi yang ditargetkan dapat menfasilitasi hubungan dari pusat konektivitas di dalam pulau pada tingkat biaya wilayah tersebut menjadi koridor-koridor ekonomi dari Master Plan. Kombinasi dari yang efektif strategi titik tinta dan tulang ikan dapat digunakan untuk meningkatkan konektivitas antar pulau dan menyebarkan pemanfaatan pertumbuhan pada sektor cluster dari koridor- koridor. Gambar 30: Penerapan pendekatan tulang ikan dan titik tinta kepada konektivitas dalam pulau Sumber: Bank Dunia tahun 2010 Peningkatan konektivitas Konektivitas di dalam pulau sangat penting untuk meningkatkan integrasi ekonomi di di dalam pulau dalam suatu negara kepulauan. Walaupun Masterplan berisi beberapa proyek-proyek dibutuhkan untuk infrastruktur berukuran besar dan berbiaya tinggi untuk meningkatkan konektivitas antar mencapai integrasi pulau (seperti Jembatan Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra), dibutuhkan arah ekonomi di dalam suatu negara kepulauan… dan strategi kebijakan yang lebih jelas untuk menjawab keterbatasan yang paling mendesak dan penting di daerah-daerah tersebut. …dan mengharuskan Untuk meningkatkan konektivitas antar pulau, tujuan utamanya adalah menghemat biaya pemangkasan biaya transportasi antar pulau dan peningkatan kehandalan, terutama transportasi barang- transportasi kargo dan barang konsumsi ke pulau-pulau terpencil yang umumnya miskin. Biaya transportasinya peningkatan kehandalan sekarang sangatlah tinggi, dengan biaya transportasi laut dalam negeri yang lebih tinggi secara signifikan dibanding biaya transportasi laut ke negara-negara lain dengan jarak yang serupa. Biaya tinggi ini merupakan faktor penyumbang yang penting terhadap harga-harga barang konsumsi yang umumnya lebih tinggi pada propinsi-propinsi terpencil. Biaya itu juga merupakan penghalang dari pengiriman komoditas ke fasilitas pengolahan dan pengiriman barang-barang ke pasar (umumnya di pulau Jawa dan luar negeri). 1 Juga terdapat kasus Terdapat kasus subsidi transportasi laut antar pulau untuk meningkatkan tingkat subsidi transportasi konektivitas antar daerah-daerah terpencil dengan tingkat kepadatan penduduk yang antar-pulau untuk rendah pada daerah-daerah Indonesia bagian Timur dengan pusat-pusat perkotaan yang meningkatkan utama. Daerah-daerah tersebut memiliki permintaan yang rendah dan ketidakseimbangan konektivitas di pulau- pulau bagian Timur perdagangan yang tinggi, yang menghalangi pengadaan jasa transportasi pada harga Indonesia yang terjangkau. Akan tetapi, sangatlah penting untuk menerapkan sistem subsidi dengan cara yang menjamin penyampaian jasa yang berkualitas dan efisien yang tidak mendistorsi pasar yang lain. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 39 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Pada akhirnya, Peningkatan konektivitas antar pulau tidak hanya berkenaan dengan biaya transportasi peningkatan konektivitas dan pengiriman, tetapi juga berbagai jenis sistem transportasi, yang mencakup fasilitas antar pulau secara efisien transportasi darat, laut, sungai dan udara. Hal ini harus direncanakan secara teliti untuk membutuhkan mencegah tumpang tindih dan ketidakefisienan yang menghabiskan biaya. Sangatlah pendekatan yang terencana baik dan multi- penting agar pusat-pusat pemindahan antar berbagai jenis transportasi mengutamakan jenis kemudahan. Sebagai contoh, suatu sistem multi-jenis dapat menyertakan fasilitas roll on, roll off untuk meningkatkan integrasi antara jasa transportasi kapal ferry dan jalan-jalan penghubung. Penempatan pusat transportasi multi-jenis juga harus direncanakan secara teliti, dengan penempatan yang didasarkan pada identifikasi pusat-pusat pertumbuhan daerah yang akurat untuk memastikan konektivitas nusantara secara keseluruhan. Konektivitas Kemampuan untuk memindahkan barang-barang dan jasa melintasi perbatasan- internasional yang kuat perbatasan secara cepat, murah dan tingkat perkiraan yang tinggi merupakan suatu faktor dapat meningkatkan daya penentu daya saing suatu negara yang sangat penting. peningkatan konektivitas saing ekspor perusahaan internasional dapat meningkatkan daya saing ekspor produsen Indonesia dengan Indonesia dan membuka akses kepada konsumen memungkinkan produk-produk mereka untuk mencapai pasar luar negeri pada tingkat dan produsen nasional harga yang bersaing. Produsen dan konsumen dalam negeri juga mendapatkan akses kepada barang-barang terhadap impor produk masukan dan produk konsumen yang dapat memiliki harga yang dan jasa yang baru dan lebih rendah atau dengan jenis-jenis yang berbeda dari yang diproduksi di dalam negeri. lebih murah Tingginya biaya transaksi yang disebabkan oleh ketidakefisienan pelabuhan, kemacetan dan transaksi di perbatasan merupakan salah satu penghalang terbesar yang membatasi perusahaan dan konsumen Indonesia dari secara sepenuhnya memetik manfaat dari jaringan perdagangan internasional dunia yang terus meningkat. Penanganan kapasitas Penumpukan yang terjadi di pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta menghambat pelabuhan Tanjung Priok konektivitas antar pulau dan internasional Indonesia. Hingga 70 persen peti kemas ekspor yang hampir melebihi dan impor Indonesia melalui pelabuhan ini, yang merupakan gerbang internasional utama batas membutuhkan dan pintu utama distribusi produk dalam negeri. Sebagian barang-barang yang diekspor tindakan segera … melalui pelabuhan ini tidak mencapai kapalnya sesuai jadwal. Sebagai akibatnya, mereka seringkali terlambat tiba di Singapura atau Malaysia. Sesuai proyeksi makin meningkatnya lalu-lintas peti kemas, kapasitas maksimum Tanjung Priok akan tercapai dalam waktu kurang dari empat tahun. Pemerintah perlu segera mengambil tindakan untuk meningkatkan dan mengembangkan fasilitas Tanjung Priok dan untuk membangun pelabuhan baru di Jakarta untuk mendukung kegiatan niaga. … yang turut disertakan Masterplan yang baru secara jelas menyatakan kebutuhan yang mendesak untuk upaya di dalam Masterplan yang meningkatkan pelabuhan Jakarta. Akan tetapi, keputusan peningkatan kapasitas baru pelabuhan itu telah mengalami beberapa kali penundaan dan terdapat ancaman yang makin meningkat bahwa penambahan kapasitas tidak akan tersedia tepat waktu, dengan proyeksi bahwa kapastias maksimum akan tercapai pada tahun 2014. Bila hal itu terjadi, kegiatan logistik ekspor impor akan melambat dan harga akan meningkat, yang dapat menghambat penerapan proyek-proyek utama lainnya seperti tercantum dalam rencana induk. Gabungan peningkatan Meningkatkan efisiensi dan memperbesar kapasitas pelabuhan internasional lain infrastruktur lunak dan diseluruh negeri dapat makin meningkatkan konektivitas internasional Indonesia. Untuk keras di pelabuhan lain di meraih hal ini, sangat dibutuhkan perbaikan infrastruktur dan pemangkasan birokrasi seluruh negeri juga dapat pada fasilitas-fasilitas tersebut. Selain peningkatan kapasitas dari pelabuhan internasional meningkatkan konektivitas internasional yang telah ada, Pemerintah dapat mempertimbangkan pembukaan sejumlah perbatasan darat untuk perdagangan luar negeri dan menambah jumlah pelabuhan internasional. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 40 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Kotak 6: Jarak geografis vs jarak ekonomis di Indonesia Tingginya tingkat biaya transportasi pengiriman barang antar pulau meningkatkan jarak ekonomi antar daerah-daerah di Indonesia. Gambar 31 menunjukkan biaya transportasi dari Jakarta ke tujuan dalam negeri dan ke Singapura. Peta pertama menunjukkan jarak geografis. Peta kedua menunjukkan biaya relatif untuk mengirimkan peti kemas ukuran 20 kaki lewat laut ke Padang, yang ternyata menelan biaya 2,7 kali lipat lebih tinggi dari pada mengirimkan peti kemas yang sama ke Singapura. Dengan adanya biaya tinggi tersebut, jarak ekonomi antara pulau-pulau nusantara menjadi lebih tinggi sesuai dengan lokasi geografisnya. Peta ketiga menunjukkan bahwa terdapat pola sebaliknya pada moda transportasi pesawat udara, di mana lebih penumpang membayar lebih murah untuk penerbangan dari Jakarta ke tujuan di dalam negeri dibanding ke Singapura. Namun demikian, faktor persaingan yang terbatas sepertinya bukanlah hal utama yang menyebabkan tingginya biaya transportasi laut. Ada dua hal lain yang dianggap berkontribusi lebih signifikan terhadap adanya masalah ini yaitu kurang padatnya permintaan serta tidak meratanya peminat untuk perjalanan ke daerah tertentu. Ini dicontohkan dengan adanya temuan bahwa sebagian besar kapal yang membawa barang ke daerah terntentu dan kembali Jawa ternyata hanya mengangkut barang jauh kurang dari kapasitasnya (setengah kosong). Sehingga yang dibutuhkan dalam hal ini adalah sebuah kerjasama yang lebih erat antara sesama moda transportasi yang tentunya disusun dalam sebuah kerangka kebijakan yang lebih memadai. Gambar 31: Variasi biaya transportasi – menjauhkan kota-kota dan membawanya lebih dekat a) Jarak geografis b) Jarak ekonomi berdasar biaya transportasi laut (biaya unit=1,00 jarak ke Singapura) c) Jarak ekonomi berdasarkan harga tiket pesawat udara (biaya unit=1,00 jarak ke Singapura) Catatan: Jarak ekonomi berdasarkan biaya per mil dari Jakarta ke Singapura sebagai unit dasar: untuk pengiriman peti kemas 20 kaki lewat laut 0,23 dolar Amerika per mil=1,00 dan untuk penumpang pesawat terbang Rp 936 per mil=1,00. Sumber: Perhitungan staf Bank Dunia berdasarkan Maersk, Lion Air dan Garuda (2009) THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 41 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan c. Penerapan Masterplan Masterplan memiliki tiga Kembali ke Masterplan, kunci untuk memenuhi tujuannya yang ambisius terletak pada tahap penerapan yang penerapannya. Dokumen itu menetapkan tiga tahap yang berurutan. Tahap pertama berurutan adalah dari tahun 2011 hingga 2015 yang menenkankan pada sasaran-sasaran yang dapat cepat dicapai dan pada persiapan rencana untuk menyederhanakan berbagai peraturan, izin dan insentif yang tertunda, dan juga mempersiapkan landasan bagi investasi-investasi. Diperkirakan bahwa rencana-rencana tersebut akan memastikan bahwa strategi-strategi akan diterapkan dengan baik untuk tahap berikutnya. Tahap kedua dari tahun 2016 hingga 2020 akan menekankan pada percepatan pembangunan infrastruktur jangka panjang, meningkatkan inovasi untuk memperbaiki daya saing dan mendorong penciptaan industri-industry dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Tahap ketiga dan terakhir dimulai dari tahun 2021 hingga 2025 dengan asumsi bahwa landasan telah terbentuk bagi industri Indonesia untuk bersaing secara global sementara menerapkan teknologi tingkat tinggi. Tahap pertama bertujuan Pada tahap pertama, rencana-rencana pemerintah tingkat nasional, daerah dan sektoral untuk menyatukan disatukan menjadi suatu peta jalan untuk aksi. Sebagai contoh, untuk memperkuat berbagai rencana konektivitas nasional, komponen-komponen dari empat rencana pemerintah akan nasional, daerah dan dipadukan: (a) Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS), (b) Sistem Transportasi Nasional sektoral Pemerintah menjadi suatu peta jalan (SISTRANAS), (c) Rencana Pembangunan (RPJMN dan RTRWN); (d) Teknologi aksi Komunikasi and Informasi (TKI). Untuk memastikan penerapan dari berbagai strategi, rencana itu menyinggung suatu komite khusus yang dipimpin oleh Presiden RI untuk meningkatkan efisiensi koordinasi, pemantauan, evaluasi dan pengambilan keputusan strategis. d. Menuju ke depan Masterplan memberi arah Masterplan yang baru secara jelas bertujuan untuk mendukung usaha dan kesempatan strategis bagi investor investasi dalam negeri dan merupakan suatu upaya yang berani yang dipimpin oleh tentang di mana pemerintah untuk menyatukan pemerintah propinsi dan daerah, pemimpin usaha dan penekanan industri akan BUMN kepada suatu kerangka pembagunan nasional. Masterplan tersebut diatur oleh diletakkan oleh Pemerintah untuk 15 peraturan presiden, yang tampaknya akan memberikan payung hukum yang lebih baik tahun ke depan bagi kementerian jajaran depan dan pemerintah daerah, dan pada saat yang bersamaan, memberi tekanan yang lebih besar kepada mereka untuk mendorong pembangunan industri dan infrastruktur. Lebih luas lagi, Masterplan menyertakan arah strategis bagi investor yang menunjukkan penekanan industri yang akan dilakukan oleh pemerintah pada 15 tahun ke depan. Pemerintah juga mengetahui bahwa dibutuhkan peningkatan iklim investasi dan reformasi peraturan untuk mendukung investasi seperti yang ditetapkan di dalam Masterplan, terutama oleh sektor swasta. Akan tetapi, kunci kepada penerapan reformasi yang berhasil akan tetap terletak pada pelaksanaan dan penerapannya. Masterplan akan menjadi Masterplan adalah bagian integral dari sistem perencanaan pembangunan nasional, dan dokumen yang terus karenanya, dokumen itu akan diperbarui dan disesuaikan secara progresif. Hal-hal berikut diperbarui dan mengusulkan jalan ke depan yang dapat meningkatkan penerapan strategi utama, disesuaikan terutama pada pilar konektivitas: Identifikasi prioritas Tahap pertama implementasi memperlihatkan suatu agenda reformasi lintas sektor yang kebijakan dan investasi sangat ambisius. Identifikasi prioritas akan sangat membantu untuk menetapkan batch dan komitmen politik reformasi pertama untuk membuka kunci beberapa penghalang investasi yang paling untuk menanganinya penting. Identifikasi dari prioritas kegiatan yang tepat untuk meningkatkan konektivitas akan dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan pada tingkat di dalam pulau, antar pulau dan internasional juga akan membantu dalam implementasi mendorong suatu tingkat integrasi yang lebih tinggi antara berbagai rencana dan cetak biru. Akan dibutuhkan komitmen politik untuk menangani peraturan yang menghambat yang telah menghalangi investasi selama bertahun-tahun, seperti pembebasan tanah, mekanisme harga seperti pada bidang energi, yurisdiksi aturan yang saling bersaing, pencairan belanja pemerintah yang lambat dan masalah pemulihan biaya. Juga termasuk penekanan yang lebih besar akan pentingnya perencanaan pemerintah daerah dalam THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 42 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan memelihara dan mendorong iklim usaha. Bahkan tampaknya proyek-proyek tersebut telah direncanakan selama beberapa tahun terakhir ketika peraturan-peraturan penghalang tersebut masih berlaku (seperti jalan raya Trans-Jawa). Konektivitas antar pulau Seperti telah disinggung, sebagian besar pembicaraan konektivitas di dalam Masterplan akan menjadi penting menekankan pada konektivitas di dalam pulau. Meningkatkan konektivitas antar pulau untuk membangun juga sangat penting, karena akan membangun sinergi di dalam dan di antara masing- sinergi di dalam dan masing koridor. Sebagai contoh, bahan masukan untuk pembangunan koridor tertentu antara koridor-koridor tampaknya akan datang dari pulau-pulau lain dan sangatlah penting bahwa bahan-bahan itu tersedia pada harga yang terjangkau. Konektivitas antar pulau mendukung pergerakan produk menuju pasar. Sebagai contoh, Masterplan menetapkan daerah sekitar Merauke (Papua) untuk pembangunan sentra penanaman pangan, tetapi tidaklah jelas apakah hasil produksinya dapat dijual pada tingkat yang menguntungkan di belahan barat Indonesia dengan tingginya biaya transportasi laut. Uraian lanjutan dari pilar Analisa mendalam akan pilar ketiga tentang kemampuan sumber daya manusia dan ketiga tentang sumber dukungan penelitian dan pengembangan akan menjadi penting untuk memungkinkannya daya manusia dan memainkan peran yang fundamental dalam mendorong pertumbuhan. Saat ini penelitan dan kerangkanya tidak menyertakan analisis klaster industri yang telah diidentifikasi atau pengembangan akan berguna di dalam usulan bagi reformasi pasar tenaga kerja secara keseluruhan. pendekatan menyeluruh terhadap persaingan Selain itu elemen-elemen lain dari pandangan menyeluruh atas daya saing ekonomi ekonomi dapat lebih diperluas. Termasuk di dalamnya adalah peran logistik dalam menghubungkan kegiatan di dalam dan antar koridor ekonomi. Sejalan dengan itu, dorongan pada pembangunan sektor jasa yang bersaing dapat lebih meningkatkan produktivitas koridor ekonomi baik dalam hal jasa transportasi maupun usaha dan jasa- jasa lainnya yang menjadi input terhadap produksi. Infrastruktur keras Masterplan dapat dilengkapi dengan memberikan infrastruktur lunak dalam bentuk layanan masyarakat, keterampilan dan pendidikan bagi pekerja sehingga peran mereka akan semakin besar di dalam pembangunan koridor ekonomi. Langkah berikut lainnya Masterplan tidak menjelaskan bagaimana target investasi sektor swasta yang berjumlah yang berguna termasuk besar akan dapat dipenuhi. Sektor swasta Indonesia tertarik untuk turut serta di dalam identifikasi mekanisme beberapa kesempatan invetasi dengan jumlah yang besar tetapi hal itu akan untuk menggerakkan membutuhkan skema pendanaan, mekanisme dan peraturan jangka panjang. pendanaan swasta … …dan pengaturan Langkah tambahan berikut yang penting adalah penguraian pengaturan kelembagaan kelembagaan untuk yang dibutuhkan untuk koordinasi tingkat tinggi antar kementerian dan lembaga yang koordinasi, pemantauan terlibat di dalam perancangan dan implementasi Masterplan. Rencana ini merupakan dan evaluasi tingkat upaya yang berukuran raksasa yang juga akan membutuhkan pemantauan mendalam tinggi oleh suatu tim yang juga dapat membuat penyesuaian yang dibutuhkan. Berdasarkan kinerja dari kelompok kerja antar-departemen yang lain, pengaturan pemantauan yang ada sekarang tampaknya membutuhkan penguatan lebih lanjut. Sebagai rangkuman, Terdapat risiko bahwa Masterplan yang baru akan menghadapi penundaan penerapan selain mengetahui dan halangan dan tampaknya akan bernasib serupa seperti rencana-rencana dan cetak- adanya tantangan cetak biru yang dihasilkan oleh Pemerintah. Akan tetapi, bagi mereka yang bersikap penerapan, Masterplan optimis dan berhati-hati, rencana induk itu memiliki potensi untuk menjadi alat tranformasi juga memiliki potensi sebagai alat transformasi yang memungkinkan negara ini untuk mengejar kebijakan yang pro-usaha dan investasi yang akan menjadi sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang melibatkan, berkelanjutan dan berjangka panjang. THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 43 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan LAMPIRAN: GAMBARAN EKONOMI INDONESIA Gambar Lampiran 1: Pertumbuhan PDB Gambar Lampiran 2: Kontribusi terhadap PDB (pengeluaran) (persen pertumbuhan) (pertumbuhan trimulan-ke-triwulan), seasonally adjusted) 4 Percent Percent 8 Percent Percent 4 4 Year on year (RHS) 2 2 3 6 0 0 QoQ seas. adjust (LHS) 2 4 Average (LHS)* -2 -2 1 2 -4 -4 Mar-08 Dec-08 Sep-09 Jun-10 Mar-11 0 0 Discrepancy Net Exports Investment Mar-04 Dec-05 Sep-07 Jun-09 Mar-11 Gov cons. Private cons. GDP Catatan: *rata-rata pertumbuhan triwulanan dari Q12000- Sumber: BPS dan Bank Dunia Q32010 Sumber: BPS, Bank Dunia Gambar Lampiran 4: Penjualan sepeda motor dan Gambar Lampiran 3: Kontribusi terhadap PDB (sektor) kerndaraan bermotor (pertumbuhan trimulan-ke-triwulan, seasonally adjusted) (unit) Percent Percent '000 '000 3 3 800 100 Motor cycles 2 2 (LHS) 600 75 1 1 400 50 0 0 Motor vehicles (RHS) 200 25 -1 -1 Mar-08 Dec-08 Sep-09 Jun-10 Mar-11 Other (incl services) Retail 0 0 Com & trans Manu. Jan-08 Feb-09 Mar-10 Apr-11 Mining and Const Agriculture Sumber: CEIC Sumber: CEIC Gambar Lampiran 5: Indikator konsumen Gambar Lampiran 6: Indikator kegiatan industri (indeks) (pertumbuhan tahun-ke-tahun) Index Index Percent Percent 120 300 30 30 BI Consumer Survey Index 20 20 (LHS) BI Retail Electricity 100 sales (RHS) 240 10 10 0 0 80 180 -10 -10 Cement Industrial Production 60 120 -20 -20 Jan-08 Feb-09 Mar-10 Apr-11 Jan-08 Feb-09 Mar-10 Apr-11 Sumber: CEIC Sumber: CEIC THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 44 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Gambar Lampiran 7: Aliran perdagangan riil Gambar Lampiran 8: Balance of Payments (pertumbuhan trimulan-ke-triwulan) (miliar dolar Amerika) Percent Percent USD bn USD bn 20 20 12 12 Overall Balance 8 8 10 10 Current account 4 4 0 0 Exports 0 0 -10 -10 Errors and omissions -4 -4 Imports Capital and financial account -20 -20 -8 -8 Mar-08 Mar-09 Mar-10 Mar-11 Mar-08 Dec-08 Sep-09 Jun-10 Mar-11 Sumber: CEIC Sumber: BI dan Bank Dunia Gambar Lampiran 10: Cadangan internasional dan dana Gambar Lampiran 9: Neraca perdagangan capital asing (miliar dolar Amerika) (miliar dolar Amerika) USD bn USD bn USD bn USD bn 8 20 125 5 Exports (RHS) Non-resident portfolio 6 15 inflows, (RHS) 100 3 4 10 2 5 75 0 0 0 50 -3 Trade -2 Balance (LHS) -5 Reserves (LHS) 25 -5 -4 -10 Imports (RHS) -6 -15 0 -8 Jan-08 Feb-09 Mar-10 Apr-11 Jan-08 Feb-09 Mar-10 Apr-11 Sumber: BPS dan Bank Dunia Sumber: BI dan Bank Dunia Gambar Lampiran 11: Term of trade dan implicit ekspor dan Gambar Lampiran 12: Inflasi dan kebijakan moneter impor berdasarkan chained Fisher-Price indices (pertumbuhan bulan-ke-bulan & tahun-ke-tahun) index index Per cent Per cent 300 300 4 16 Headline Inflation YoY (RHS) 250 250 3 12 Terms of trade Core Inflation, YoY 200 200 (RHS) 2 8 150 150 BI Rate (RHS) 1 4 100 Chained export price 100 0 0 50 Chained import price 50 Inflation MoM (LHS) 0 0 -1 -4 Mar-05 Mar-07 Mar-09 Mar-11 Jan-08 Nov-08 Sep-09 Jul-10 May-11 Sumber: BPS dan Bank Dunia Sumber: BPS dan Bank Dunia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 45 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Gambar Lampiran 13: Rincian tingkat harga konsumen Gambar Lampiran 14: Tingkat inflasi negara tetangga (persentasi dari kontribusi inflasi bulanan) (pertumbuhan tahun-ke-tahun, May 2011) Percent Percent Percent 1.8 Volatile 1.8 0 2 4 6 8 Administered Core Indonesia 1.2 1.2 *China Phillipines 0.6 0.6 Thailand Korea 0.0 0.0 *Malaysia *Japan -0.6 -0.6 0 2 4 6 8 Jan-09 Aug-09 Mar-10 Oct-10 May-11 Percent Sumber: BPS dan Bank Dunia *April data terkini Sumber: CEIC dan BPS Gambar Lampiran 15: Harga beras domestic dan Gambar Lampiran 16: Tingkat kemiskinan, bekerja, dan tidak internasional bekerja ( rupiah per kilogram) (data tahunan, persen) IDR/Kg Dashed: international Thai rice (cif) prices, in Rupiah Percent Percent Solid: domestic wholesale rice prices 50 20 11,000 11,000 Medium quality: Muncul I (domestic) Poverty rate (RHS) Thai 100% B 2nd grade (international) 40 16 9,000 9,000 Unemployment and formal employment rate (LHS) 30 12 7,000 7,000 20 8 5,000 5,000 10 4 3,000 3,000 Low quality: IR 64 III (domestic); Thai A1 Super (international) 0 0 1,000 1,000 2006 2007 2008 2009 2010 Jan-08 Feb-09 Mar-10 Apr-11 Sumber: PIBC, FAO dan Bank Dunia Sumber: BPS, dan Bank Dunia Gambar Lampiran 17: Indeks saham regional Gambar Lampiran 18: Indeks spot dollar dan rupiah (indeks harian) (indeks dan tingkat harga harian) Index Index Index IDR per USD 300 300 120 8000 JCI IDR/USD (RHS) 250 250 110 9000 SET 200 200 BSE 100 10000 150 150 Dollar Index (LHS) Shanghai 90 11000 100 100 IDR Appreciation SGX 50 50 80 12000 Jan-09 Oct-09 Jul-10 Apr-11 Sumber: CEIC dan Bank Dunia Sumber: CEIC dan Bank Dunia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 46 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Gambar Lampiran 19: Yield obligasi 5 tahunan mata uang Gambar Lampiran 20: Spread EMBI obligasi pemerintah lokal dengan obligasi dollar amerika (persen, harian) (basis poin, harian) 15 Percent Percent 15 Basis points Basis points 1050 200 900 150 Indonesia Indonesian EMBI bond 750 100 10 10 spreads (LHS) 600 50 Philippines 450 0 5 5 Thailand Malaysia 300 -50 150 -100 United States Indonesian spreads less 0 0 EMBI global average (RHS) 0 -150 Jan-09 Aug-09 Mar-10 Oct-10 May-11 Jan-09 Oct-09 Jul-10 Apr-11 Sumber: CEIC dan Bank Dunia Sumber: CEIC dan Bank Dunia Gambar Lampiran 21: Perbandingan tingkat kredit bank umum Gambar Lampiran 22: Indikator keuangan sektor perbankan (indeks bulanan) (persen, bulanan) Index Index Percent Percent 190 190 100 10 Indonesia Loan to Deposit Ratio (LHS) 170 170 80 8 India 150 150 60 6 Non-Performing Malaysia Return on Loans (RHS) Singapore Assets Ratio 130 130 40 4 (RHS) 110 110 20 2 Thailand USA Capital Adequacy Ratio (LHS) 90 90 0 0 Jan 06 Oct 07 Jul 09 Apr 11 Sumber: CEIC dan Bank Dunia Sumber: BI dan Bank Dunia THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 47 Perkembangan Triwulanan Perekonomian Tantangan saat ini, Indonesia peluang masa depan Tabel Lampiran 1: Realisasi dan estimasi anggaran belanja pemerintah (triliun rupiah) 2008 2009 2010 2011 (p) 2011 (p) WB June Outcome Outcome Outcome Budget estimates* A. State revenue and grants 981.6 848.8 1,014.0 1,104.9 1,189.4 1. Tax revenue 658.7 619.9 744.1 850.3 858.6 o/w income tax 327.5 317.6 356.6 420.5 432.3 - Oil and gas 77.0 50.0 58.9 55.6 77.0 - Non oil and gas 250.5 267.5 297.7 364.9 355.3 2. Non-tax revenue 320.6 227.2 267.5 250.9 330.8 o/w natural resources 224.5 139.0 170.1 163.1 217.9 i. Oil and gas 211.6 125.8 152.7 149.3 198 ii. Non oil and gas 12.8 12.8 17.3 13.8 20 B. Expenditure 985.7 937.4 1,053.5 1,229.6 1,280.3 1. Central government 693.4 628.8 708.7 836.6 875.7 2. Transfers to the regions 292.4 308.6 344.7 393.0 404.6 C. Primary balance 84.3 5.2 48.9 -9.4 21.9 D. SURPLUS / DEFICIT (4.1) (88.6) (39.5) (124.7) (90.9) Deficit (percent of GDP) (0.1) (1.6) (0.6) (1.8) (1.2) Catatan: * Untuk penghitungan proyeksi PDB nominal, Bank Dunia menggunakan metoda perhitungan perkiraan penerimaan yang berbeda dengan perhitungan pemerintah (lihat bagian C pada IEQ Juni 2011 keterangan lebih lanjut). Sumber: Depkeu dan Bank Dunia Tabel Lampiran 2: Neraca pembayaran (milyar dollar amerika) 2009 2010 2011 2008 2009 2010 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Balance of Paym ents -1.9 12.5 30.3 3.5 4.0 6.6 5.4 7.0 11.3 7.7 Percent of GDP -0.4 2.3 4.3 2.4 2.6 4.1 3.1 3.7 6.1 3.9 Current Account 0.1 10.6 5.7 1.8 3.8 1.9 1.4 1.2 1.1 1.9 Percent of GDP 0.0 2.0 0.8 1.2 2.5 1.2 0.8 0.6 0.6 1.0 Trade Balance 9.9 21.2 21.3 4.7 7.1 4.8 4.6 5.4 6.4 6.2 Net Income & Current Transfers -9.8 -10.6 -15.7 -2.9 -3.3 -2.9 -3.2 -4.2 -5.3 -4.3 Capital & Financial Accounts -1.8 4.9 26.1 2.9 2.4 5.6 3.7 7.3 9.6 6.2 Percent of GDP -0.4 0.9 3.7 2.0 1.6 3.5 2.1 3.9 5.1 3.2 Direct Investment 3.4 2.6 10.6 0.6 0.8 2.5 2.3 1.6 4.2 3.0 Portfolio Investment 1.8 10.3 13.2 3.0 3.5 6.2 1.1 4.5 1.4 3.6 Other Investment -7.3 -8.2 2.2 -0.7 -1.9 -3.1 0.3 1.2 3.8 0.0 Errors & Om issions -0.2 -3.0 -1.5 -1.2 -2.2 -0.9 0.3 -1.6 0.6 -0.5 Foreign Reserves* 51.6 66.1 96.2 62.3 66.1 71.8 76.3 86.6 96.2 105.7 Catatan: * Cadangan devisa pada akhir periode . Sumber: BI dan BPS THE WORLD BANK | BANK DUNIA Juni 2011 48 Investing in Indonesia’s Institutions for Inclusive and Sustainable Development

Основные сведения
Тип документа Working Paper
Дата принятия
Страна Индонезия
Источник Всемирный банк