BANGKITNYA INDONESIA. Prioritas Kebijakan untuk Tahun 2010 dan Selanjutnya 53472 Membangun Masa Depan yang Tahan Bencana Pesan Pokok 1. Indonesia rentan terhadap bencana alam yang cukup membebani sumber daya pemerintah dan masyarakat. 2. Membangun masyarakat yang lebih aman yang bersedia berinvestasi dalam kesiapan siagaan dan rehabilitasi lingkungan akan secara signifikan mengurangi kerentanan Indonesia terhadap dampak bencana alam di masa depan. 3. Tantangan utamanya adalah merupakan pendekatan yang masih reaktif, dan mulai menyertakan pengelolaan risiko bencana ke dalam program-program utama pembangunan. Tindakan Utama Pemerintah harus mempertimbangkan tindakan-tindakan yang mendesak sebagai berikut: 1. Memastikan bahwa aturan-aturan dalam Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana yang baru, disebar luaskan dan diterapkan secara menyeluruh. 2. Menyusun suatu strategi pendanaan risiko bencana yang menyeluruh dan layak secara fiskal untuk menjamin ketahanan keuangan masyarakat. 3. Menekankan pada kemampuan yang efektif dari pemerintah daerah, masyarakat dan sektor swasta dalam pencegahan dan kesiapsiagaan bencana serta dalam tanggap darurat. 4. Investasi dalam rehabilitasi lingkungan dan penanganan pemukiman informal melalui penataan kembali kawasan pemukiman, peningkatan prasarana perkotaan serta pembukaan lapangan kerja setempat untuk mengurangi urbanisasi. Peningkatan frekuensi bencana membebani keuangan Posisi Indonesia Saat Ini publik dan ekonomi masyarakat. Data2 pemerintah menyatakan bahwa terjadi lebih dari 4.000 bencana alam Indonesia menduduki peringkat ke-12 dunia dalam di Indonesia antara tahun 2001 dan 2007 termasuk banjir risiko kematian yang diakibatkan oleh lebih dari satu (37 persen), kekeringan (24 persen), tanah longsor (11 ancaman. Indonesia terletak pada salah satu titik rawan persen), dan badai (sembilan persen). Biaya rehabilitasi bencana yang paling aktif di muka bumi, dengan sering atau pemulihan infrastruktur publik dan rumah tangga, terjadinya gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, yang sebagian besar tidak memiliki asuransi, memberikan tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan. Menurut beban besar pada pengeluaran publik. Sebagai contoh, analisis risiko dunia oleh Bank Dunia1, Indonesia berada tragedi tsunami Aceh/Nias tahun 2004 menimbulkan pada peringkat 12 dari 35 negara teratas di dunia, yang kerusakan dan kerugian senilai 4.5 trilyun Rupiah, dan menghadapi risiko korban yang tinggi dari lebih dari satu kerugian untuk gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 adalah jenis ancaman bencana. Empat puluh persen dari 230 juta 3.5 trilyun Rupiah. Pemerintah menghabiskan anggaran jiwa penduduknya hidup pada daerah yang mengandung rekonstruksi senilai lebih dari 7 trilyun Rupiah untuk Aceh risiko sehingga kemungkinan terjadinya bencana dan Nias serta 2 trilyun Rupiah untuk Yogyakarta.3 kemanusiaan besar di masa depan sangatlah nyata. 2 Database DiBi (Data dan Informasi Bencana di Indonesia), Badan Nasinoal Penanggulangan Bencana (BNPB). http://dibi.bnpb.go.id 3 Building Back Better: Disaster Risk Reduction and The Recovery 1 Lihat Bank Dunia, Natural Disaster Hotspots, A Global Risk Opportunity. Bakri Beck, Wakil Kepala Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Analysis (Washington, DC: Disaster Risk Management Series, 2005), BNPB, Seminar Kerja APEC tentang Teknik Penilaian Kerusakan, tabel 1.2 Yogyakarta, Indonesia 3-6 Agustus 2009. 2 | BANGKITNYA INDONESIA Sebagian besar wilayah Indonesia sangat rentan juta jiwa), Medan (lebih dari dua juta jiwa) dan Bandung terhadap gempa bumi dan letusan gunung api. Sumatra (lebih dari empat juta jiwa). Pemerintah memperkirakan sendiri mengalami lebih dari 15 gempa bumi besar pada bahwa banjir tahun 2007 yang melanda Jakarta abad terakhir. Tujuh puluh dari 129 gunung berapi aktif mengakibatkan kerusakan dan hilangnya produktivitas di Indonesia Indonesia digolongkan sebagai berbahaya. senilai lebih dari $900 juta4. Menurut Departemen Antara tahun 2001 sampai 2007 saja, tercatat terjadi 26 Pekerjaan Umum (PU), banjir tahunan pada batas air letusan gunung berapi, yang sebagian besar terjadi di Bengawan Solo menyebabkan kerugian lebih dari 200 juta Jawa. Tahun 1815, lebih dari 92.000 orang meninggal dolar Amerika di tahun 2007, sama dengan seluruh alokasi saat gunung api Tambora di pantai utara Sumbawa, Nusa rehabilitasi dan rekonstruksi untuk seluruh bencana di Tenggara Barat, meletus. Tahun 1883 letusan Krakatau negeri ini untuk tahun 20085. memakan lebih dari 36.000 jiwa dan menciptakan tsunami yang mencapai Afrika Selatan. Pulau Jawa dan Sumatra Penebangan hutan dan kekeringan yang berkepanjangan pun rentan terhadap longsor karena topografinya dan memperparah dan meningkatkan terjadinya kebakaran kondisi tanahnya yang tidak stabil. hutan. Masa-masa terjadinya kebakaran hutan dan asap di Indonesia tahun 1980-an dan 1990-an merupakan Curah hujan yang tinggi di bagian barat Indonesia kasus El Ni
Groupe de la Banque mondiale · Brief
Building a disaster-resilient future : Membangun masa depan yang tahan bencana
Voir le document original
Le texte intégral est hébergé par l’organisation qui le publie. lawenc.com indexe les métadonnées et renvoie vers la source officielle.
Texte intégral
Informations clés
Organisation
Groupe de la Banque mondiale
Type de document
Brief
Pays
Indonésie
Source
Banque mondiale