Groupe de la Banque mondiale · Brief

Regular data collection key for effective policy : making towards enhancing financial inclusion in Indonesia : Pentingnya pengumpulan data secara teratur dalam pembuatan : kebijakan menuju peningkatan keterlibatan keuangan di Indonesia

Indonésie Banque mondiale
Voir le document original

Le texte intégral est hébergé par l’organisation qui le publie. lawenc.com indexe les métadonnées et renvoie vers la source officielle.

Texte intégral

59830 Catatan Teknis Oktober 2010 Perkembangan Sektor Keuangan Pentingnya Pengumpulan Data Secara Teratur Dalam Pembuatan Kebijakan Menuju Peningkatan Keterlibatan Keuangan di Indonesia Makna penting: Penyedian akses terhadap jasa keuangan bagi penduduk Indonesia yang lebih luas akan membantu pemberantasan kemiskinan, penurunan ketimpangan tingkat pendapatan dan percepatan pembangunan ekonomi. Langkah pertama untuk mencapainya adalah dengan menyediakan data dan informasi terkini tentang kebutuhan masyarakat dan hambatan untuk mengakses jasa keuangan yang lebih luas. Tanpa adanya identifikasi masalah dan penetapan prioritas, penyusunan kebijakan penanggulangan dan pengembangan kerangka peraturan yang efektif akan sulit dicapai. Pengumpulan data sisi permintaan yang teratur juga memungkinkan pengukuran efektivitas dan kemajuan yang dicapai dari kebijakan di setiap periode. Data ini juga dapat memberikan informasi yang berguna bagi penyedia jasa untuk menemukan permintaan bagi produk-produk/layanan keuangan tertentu. Catatan teknis ini berusaha untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut: Apa peranan informasi sisi permintaan dalam membangun sistem keuangan yang inklusif? Seberapa banyak informasi yang dimiliki Indonesia saat ini? Apa pengalaman negara-negara lain yang memiliki tujuan yang sama? Indikator-indikator apa saja yang penting untuk diukur? Suatu pendekatan yang menyeluruh akan digunakan untuk menjawab masalah-masalah tersebut. Untuk mencapai sistem keuangan yang Menyadari akan pentingnya isu tentang kondisi layanan keuangan, inklusif dibutuhkan data dan analisis yang keterbatasan akses terhadap jasa akses apa saja yang mereka miliki lebih baik keuangan sebagai suatu hambatan dan produk serta layanan apa yang dalam pembangunan, pemangku mereka butuhkan. Langkah awal untuk Sistem keuangan yang inklusif didasari kebijakan kemudian memprakarsai mengatasi kondisi ini dan memenuhi oleh pemikiran untuk memberikan serangkaian kebijakan yang bertujuan kebutuhan akan penyusunan kebijakan pemerataan kesempatan bagi semua untuk meningkatkan akses (seperti yang efektif, adalah dengan mengukur orang dalam mendapatkan layanan Kredit Usaha Rakyat/KUR, suatu skema kondisi permintaan akan jasa keuangan keuangan, dan mengundang setiap kredit yang sebagian nilainya dijamin tersebut. warga negara untuk turut serta dalam pemerintah, bagi usaha mikro, kecil Gambar 1. Akses terhadap Jasa Keuangan di Indonesia kegiatan-kegiatan ekonomi dengan dan menengah; dan TabunganKu, Akses terhadap Jasa Keuangan di Indonesia bantuan penyedia jasa keuangan. rekening tabungan sederhana, (Semua sampel) Hal ini telah berhasil diterapkan di tanpa biaya administrasi bulanan, Terlayani jasa keuangan - 83 % beberapa negara seperti Bangladesh, yang ditawarkan secara sukarela Kenya, Filipina dan Afrika Selatan, oleh sebagian besar bank-bank di Menggunakan jasa formal - 52 % Tidak terlayani sementara upaya-upaya lanjutan Indonesia). Salah satu hambatan utama sedang dilaksanakan di India, Meksiko, bagi pelaksanaan kebijakan yang 49 3 31 17 Pakistan, dan beberapa negara-negara konkrit dalam meningkatkan akses di Afrika. Sayangnya, seperti layaknya terhadap jasa keuangan dan sistem negara-negara berkembang lainnya, keuangan inklusif adalah tidak adanya 0% 20% 40% 60% 80% 100% sistem perbankan dan keuangan di data dan analisis yang menyeluruh Bank Formal lainnya Informal & Semi-formal Tidak terlayani Indonesia seringkali hanya melayani akan persepsi konsumen yang Akses terhadap Jasa Keuangan di Indonesia perusahaan-perusahaan besar sesungguhnya tentang kebutuhan (Rumah Tangga miskin) atau menengah dan/atau individu dan hambatan akan jasa keuangan. Terlayani jasa keuangan - 61 % berpendapatan tinggi. Akibatnya, Saat ini, amat sulit untuk mengetahui Menggunakan jasa formal - 21 % pertumbuhan dan perkembangan pendapat konsumen dan populasi Tidak terlayani perusahaan-perusahaan yang lebih yang belum tersentuh oleh perbankan kecil serta rumah tangga yang lebih 19 2 40 39 miskin umumnya harus bergantung pada tabungan dan pendapatan yang lebih luas dari hanya sekedar akses ter- hadap pinjaman. Tabungan, kredit, asuransi dan mereka yang terbatas.1 0% 20% 40% 60% 80% 100% jasa transfer memiliki peranan yang penting Bank Formal lainnya Informal & Semi-formal Tidak terlayani dalam mendukung kegiatan keuangan rumah 1 Akses terhadap jasa keuangan memiliki arti tangga. Perkembangan Sektor Keuangan Catatan Teknis Kondisi akses terhadap jasa keuangan di Buruknya kondisi ekonomi dan rendahnya tangga; struktur pembentukan modal Indonesia tingkat literasi keuangan: hambatan rumah tangga; dan transaksi keuangan utama akan akses jasa keuangan rumah tangga. Dalam hubungannya Penelitian terbaru Bank Dunia tentang akses terhadap jasa keuangan di Lemahnya kondisi keuangan dan dengan masalah akses terhadap Indonesia menyediakan informasi kurangnya pengetahuan keuangan keuangan, SKTIR dapat memberikan yang relevan akan isu sistem keuangan adalah alasan-alasan utama bagi informasi mengenai tingkat tabungan, yang inklusif. Informasi ini diperoleh banyak rumah tangga untuk tidak kredit, serta kepemilikan asuransi dari hasil survei di tahun 2007 yang berinteraksi dengan jasa tabungan, setiap rumah tangga dalam setahun menggunakan sampling acak bertahap pinjaman atau asuransi pada kehidupan terakhir. Sayangnya struktur survei guna memastikan hasil analisanya sehari-hari mereka. Kebanyakan rumah tersebut tidak menyediakan informasi dapat mewakili perilaku rumah tangga tangga yang tidak memiliki tabungan lebih lanjut mengenai hambatan akan secara nasional. Beberapa poin utama menyatakan bahwa tidak terdapatnya akses. tersaji di bawah ini. cukup uang (kurangnya pendapatan Survei Sosial Ekonomi Nasional, atau seluruhnya dihabiskan untuk Setengah dari total populasi rumah tangga Susenas, adalah survei tahunan lainnya konsumsi) sebagai alasan utama tidak memiliki akses terhadap lembaga yang meliputi 200.000 rumah tangga tidak menabung, di kelompok tingkat keuangan formal dan mengumpulkan informasi tentang pendapatan manapun. Rendahnya sosial ekonomi, kesehatan dan gizi, Sekitar 48 persen dari keseluruhan tingkat kelayakan kredit adalah penerimaan dan pengeluaran rumah rumah tangga di Indonesia tidak alasan utama untuk tidak meminjam, tangga, serta pengalaman kerja. Pada memiliki akses terhadap lembaga diikuti dengan tidak adanya agunan modul dasarnya, hanya informasi keuangan formal. Walaupun penyedia di posisi berikutnya. Untuk asuransi, mengenai kredit usaha beserta jasa keuangan informal mampu rendahnya pendapatan dan lemahnya sumbernya yang terkait dengan melayani sekitar 31 persen, masih pengetahuan akan produk-produk akses terhadap jasa keuangan. Modul terdapat 17 persen yang hidup tanpa asuransi adalah alasan utama untuk perumahan Susenas memiliki informasi layanan jasa keuangan dari sektor tidak memiliki asuransi. Akses fisik jarak terdekat rumah tangga dengan manapun (baik formal maupun kepada penyedia jasa keuangan adalah bank, yang dapat digunakan sebagai informal). Rumah tangga dengan masalah tambahan yang dikemukakan indikator hambatan fisik. tingkat pendidikan yang rendah dan populasi pedesaan di luar pulau Jawa. terletak di daerah-daerah pedesaan Jenis pengumpulan data dan tujuannya di luar pulau Jawa umumnya masuk Kondisi pengumpulan data sisi permintaan kedalam kategori yang terkucilkan dari di Indonesia Setidaknya terdapat tiga jenis survei jasa keuangan ini. sisi permintaan yang tersedia dengan Survei Bank Dunia tentang Indonesia tujuannya masing-masing. Yang Lebih terbatasnya akses jasa keuangan Merupakan survei yang menangkap pertama adalah survei cross section formal bagi kaum miskin perilaku rumah tangga nasional satu kali, dengan melakukan satu kali Dengan mangalihkan fokus pada dengan menggunakan populasi yang wawancara pada sekelompok sampel sampel rumah tangga miskin2, lembaga dipilih secara acak dan menekankan yang dipilih secara acak dan secara keuangan formal hanya melayani pada pengumpulan informasi akan statistik dapat mewakili perilaku sekitar seperlima dari keseluruhan akses terhadap jasa keuangan yang populasi. Seperti yang dilakukan oleh rumah tangga miskin di Indonesia. dilaksanakan pada tahun 2007. Survei FinScope dan Bank Dunia di beberapa Ketika terlibat di dalam aktifitas tersebut memiliki cakupan informasi negara, survei ini dapat memberikan keuangan, penyedia jasa keuangan yang luas, mulai dari informasi spesifik gambaran umum tentang tingkat informal umumnya menjadi pilihan akan akses terhadap jasa keuangan aksesibilitas akan jasa keuangan di pertama bagi kelompok ini. Sayangnya, seperti jumlah penabung, jumlah suatu negara. sekitar 4 dari 10 rumah tangga miskin peminjam, jumlah rumah tangga yang memiliki asuransi, dan alasan-alasan Berikutnya adalah survei cross section tidak menggunakan (atau menerima) mengapa tidak menggunakan layanan yang berulang. Survei berkala (tahunan, jasa keuangan dari sektor manapun keuangan tersebut hingga informasi dua tahunan, tiga tahunan) yang (baik formal maupun informal). yang lebih umum, seperti kondisi sosial dilakukan pada sekelompok sampel ekonomi dari rumah tangga. yang dipilih secara acak dan secara statistik dapat mewakiliki perilaku Survei Biro Pusat Statistik (BPS) nasional dengan menggunakan 2 Garis kemiskinan yang digunakan dalam Survei Khusus Tabungan dan Investasi instrumen yang serupa pada setiap analisis data didasarkan pada garis kemiskinan Rumah Tangga, atau SKTIR, adalah periode pengambilan sampel. Seperti di tahun 2008 yang ditetapkan oleh Biro Pusat survei tingkat rumah tangga pada yang dilaksanakan oleh FinScope dan Statistik (BPS). Garis kemiskinan (2008) adalah propinsi-propinsi terpilih. Informasi Rp 204.896 bagi penduduk perkotaan dan Rp Survey of Consumer Finances, informasi 161.831 bagi penduduk pedesaan. utama terdiri dari pola pendapatan yang dikumpulkan memungkinkan dan pengeluaran rumah tangga; rasio, pemerintahan di negara-negara tingkat dan pola tabungan rumah tersebut untuk mengawasi Perkembangan Sektor Keuangan Catatan Teknis Tabel 1. Akses ke Keuangan di negara-negara lain keluarga hingga perilaku dan tingkat Afrika Namibia Botswana Zambia Uganda Tanzania literasi keuangan. Selatan Survey of Consumer Finances dilakukan Mulai 2002 2003 2003 2005 2006 2006 setiap tiga tahun sekali di Amerika Responden HHs Dewasa Dewasa Dewasa Dewasa Dewasa Serikat, yang memberikan informasi Jml responden 3900 200 400 4000 NA 5000 terperinci akan kondisi keuangan Hasil terakhir 2008 2007 2009 2005 2006 2006 keluarga-keluarga Amerika. Federal lebih konstan lebih mulai mulai mulai Reserve Board dan Department of the -kecenderungan Treasury merupakan dua institusi yang keterlibatan mensponsori penelitian itu. Sejak keuangan tahun 1992, National Organization - % dibank 63% 45.30% 41% 15% 18%* 9% for Research at the University of - % tidak 24% 51.70% 35% 66% 62% 54% Chicago (NORC) bertanggung jawab termasuk dalam akan pengumpulan datanya. Hanya keuangannya 4.500 keluarga yang diwawancarai Mengikuti siklus NA NA NA 2009 2009 2009 dan keturutsertaan mereka bersifat Kenya Ghana Nigeria Mozambique Malawi Rwanda sukarela. mulai 2006 Dalam 2009 2008 2007 2008 Di belahan dunia lainnya, Bank Dunia proses, Responden Dewasa hasil yang Dewasa Akan Dewasa Dewasa telah memprakarsai survei akses dikeluarkan terhadap jasa keuangan di beberapa Jml responden 4214 diharapkan 22000 NA 2000 di 2009 di awal negara seperti Brasil, India, Pakistan, Hasil terakhir 2006 2009 2008 2008 tahun 2010 Meksiko dan Nepal, serta Indonesia. -kecenderungan mulai mulai mulai mulai Tujuan utamanya adalah untuk keterlibatan keuangan memperoleh gambaran yang jelas akan keberadaan akses jasa keuangan - % dibank 19% 21% 1.15 11% Juta yang tersedia pada suatu negara, hambatan yang menghalangi akses - % tidak 38% 53% NA 52% termasuk dalam akan jasa keuangan, dan cara terbaik keuangannya untuk menghadapi masalah-masalah Mengikuti siklus 2009 NA NA tersebut. Sumber: FinScope 2009 Catatan: * termasuk MFIs & Lembaga pemberi kredit Indikator-indikator penting terkait akses terhadap jasa keuangan peningkatan ketersediaan akses akan berkesinambungan memungkinkan Informasi yang relevan tentang akses jasa keuangan di setiap periode. pemerintah di setiap negara tersebut terhadap jasa keuangan termasuk untuk mengetahui dampak atas indikator-indikator yang menunjukkan Yang ketiga adalah panel atau kebijakannya dalam hal akses terhadap besar kecilnya tingkat penggunaan wawancara survei berulang pada akses jasa keuangan dan berbagai jasa keuangan. rumah tangga/individu yang sama di hambatan akan akses. Beberapa contoh setiap periode (tahunan, 2 tahunan). Di wilayah Afrika, FinScope, atas spesifik tersedia di bawah ini. Survei Contohnya, hasil-hasil dari Financial prakarsa dari FinMark Trust, melakukan Bank Dunia telah mengumpulkan Diaries atau Family Life Survey yang survei rumah tangga nasional yang beberapa informasi terkait. Instrumen digunakan oleh pemerintah di negara menekankan pada kebutuhan dan beserta datanya tersedia pada masing-masing untuk mengukur penggunaan layanan keuangan di situs Bank Dunia Indonesia. (www. dampak perubahan kebijakan terhadap worldbank.org/id/fpd). Afrika Selatan dan penduduk di daerah peningkatan ketersediaan akses jasa selatan Afrika. Beberapa survei telah Indikator penetrasi keuangan keuangan di dalam suatu negara. dilakukan dalam bentuk kemitraan Pengumpulan data tentang akses pemerintah dan swasta (PPP). Informasi Semua informasi terkait catatan histori terhadap jasa keuangan di negara-negara ini telah membantu pemerintah penggunaan layanan keuangan3 lain di masing-masing negara untuk responden, yang menekankan pada Pada beberapa negara lain mengetahui perkembangan akses ketersediaan data tentang akses terhadap jasa keuangan pada beragam 3 Akses, yaitu kesempatan untuk menggunakan, terhadap jasa keuangan dihasilkan produk keuangan, termasuk transaksi bermakna lebih luas dari penggunaan (memakai) perbankan, tabungan, kredit dan layanan keuangan yang sesungguhnya dan me- secara berkesinambungan oleh miliki dimensi yang lebih luas sehingga menyulit- lembaga pemerintah atau swasta. asuransi. Penelitian itu meliputi isu-isu kan pengukurannya. Tetapi akses dan penggu- Informasi yang dikumpulkan secara keuangan yang luas mulai dari kondisi naan (pemakaian) sama pentingnya untuk diukur kemiskinan dan tingkat penghidupan karena perbedaan keduanya dapat menunjuk- kan informasi akan keberadaan kurangnya per- mintaan secara sukarela atau ketidakbutuhan. Perkembangan Sektor Keuangan Catatan Teknis beberapa layanan spesifik dan identifikasi populasi yang tidak terlayani oleh penyedia jasa keuangan.

Informations clés
Type de document Brief
Date d'adoption
Pays Indonésie
Source Banque mondiale